alexametrics
Jumat, 30 Jul 2021
radarkudus
Home > Pati
icon featured
Pati

Kali Pertama Polres Tangani Kasus Manipulasi Data Informasi Elektronik

19 Juni 2021, 12: 02: 09 WIB | editor : Ali Mustofa

KASUS BARU: Tersangka beserta barang bukti manipulasi data informasi elektronik ditunjukkan pihak Polres Pati di mapolres kemarin.

KASUS BARU: Tersangka beserta barang bukti manipulasi data informasi elektronik ditunjukkan pihak Polres Pati di mapolres kemarin. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

Share this      

PATI – Satreskrim Polres Pati mengamankan seorang pria berinisial MIA, 30, warga Desa Alasdowo, Dukuhseti, Pati. Tersangka terjerat kasus manipulasi data informasi elektronik. Dari aksinya itu, tersangka meraup untung puluhan juta dan merugikan perusahaan ekspedisi ratusan juta hanya dalam satu bulan.

Kapolres Pati AKBP Arie Prasetya Syafaat menjelaskan, tersangka diketahui memanfaatkan celah sistem yang ada di antara marketplace Bukalapak dan perusahaan ekspedisi J&T Express demi meraup keuntungan pribadi.

”Modus yang dilakukan tersangka ialah membuat akun penjual dengan alamat fiktif serta membuat manipulasi transaksi demi mendapatkan keuntungan dari cashback. Tersangka telah melakoni tindak pidana tersebut, hanya dalam kurun satu bulan, pada Januari 2020. Awalnya tersangka mengaku tidak menyadari perbuatannya itu, termasuk tindak pidana," kata kapolres dalam konferensi pers siang kemarin.

Baca juga: Varian Baru Covid-19 Masuk ke Rembang belum Terdeteksi

Perbuatan tersangka sendiri terbongkar ketika pihak perusahaan ekspedisi J&T Express dan Bukalapak menemukan selisih tagihan biaya pengiriman dalam sistem mereka masing-masing.

”Jadi, selama satu bulan itu, terdapat selisih biaya pengiriman cukup besar. Tagihan yang diklaim pihak J&T pada Bukalapak sekitar Rp 349 juta. Sementara pihak Bukalapak hanya mencatat total tanggungan ongkos kirim Rp 103 juta. Ada selisih Rp 245,9 juta,” jelas kapolres.

Dari kejanggalan tersebut, pihak J&T kemudian melakukan audit. Akhirnya aksi tersangka terbongkar. Ternyata melakukan manipulasi.

Dia membuka lima akun toko di Bukalapak dengan alamat fiktif di Tuban dan Kediri, Jawa Timur. Toko-toko tersebut menjual aneka barang kebutuhan sehari-hari dengan harga murah. Di antaranya kopi dan teh celup seharga Rp 100 per saset.

Tersangka kemudian membeli sendiri barang-barang tersebut menggunakan akun bodong beralamat fiktif di wilayah yang sama dengan alamat toko, yakni Tuban dan Kediri.

Tujuannya, memanfaatkan promo gratis ongkos kirim. Pada masa tersangka melakukan tindakan manipulasinya itu, setiap pembelian di Bukalapak di wilayah kota yang sama akan mendapat gratis ongkir (ongkos ditanggung Bukalapak).

”Kenyataannya, tersangka mengirim barang ke alamat fiktif di Kediri dan Tuban itu, dari drop point J&T di Tayu, Pati. Namun, sistem Bukalapak membaca alamat toko sesuai yang didaftarkan tersangka. Jadi, hal inilah yang menimbulkan terjadinya selisih ongkir yang dicatat J&T dengan Bukalapak,” jelas AKBP Arie.

Adapun keuntungan materi yang dikejar oleh MIA melalui tindakan manipulatifnya ini, cashback 15 persen yang diberikan J&T. MIA yang merupakan member VIP J&T drop point Tayu mendapatkan cashback 15 persen dari total ongkos kirim selama satu bulan.

Kapolres menuturkan, sepanjang Januari 2020, tersangka mencatatkan sekitar 13 ribu resi pengiriman dari transaksi manipulatif yang ia lakukan. ”Keuntungan yang tersangka dapatkan dari cashback mencapai Rp 54 juta. Uang tersebut sudah ditransfer pihak J&T ke rekening tersangka," terangnya.

Atas perbuatannya itu, tersangka dijerat Pasal 51 Ayat 1 jo Pasal 35 UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaki Elektronik dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara dan denda Rp 12 miliar.

Area Manager J&T Pati Samsul Qomar mengatakan, ini merupakan kasus unik yang baru kali pertama pihaknya tangani. ”Pelaku memang memanfaatkan promo gratis ongkir yang berlaku pada Januari 2020,” jelasnya.

Dengan melakukan pembelian di tokonya sendiri dengan identitas fiktif, pelaku tidak perlu membayar ongkir. Sementara dari sisi penjual dengan VIP member di J&T, dia mendapatkan kompensasi 15 persen dari total ongkir berdasarkan alamat riil.

Adapun hitungan berdasarkan alamat riil pelaku, yakni Kecamatan Tayu, Pati, ongkos kirim ke Tuban dan Kediri rata-rata Rp 24 ribu per barang. 

(ks/aua/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya