alexametrics
Jumat, 30 Jul 2021
radarkudus
Home > Pati
icon featured
Pati

Petani di Pati Panen Padi Varietas Unggul Baru

18 Juni 2021, 14: 55: 53 WIB | editor : Ali Mustofa

DIRAYAKAN: Pemkab Pati bersama petani Desa Sokopuluhan, Pucakwangi menggelar panen bersama kemarin (17/6).

DIRAYAKAN: Pemkab Pati bersama petani Desa Sokopuluhan, Pucakwangi menggelar panen bersama kemarin (17/6). (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)

Share this      

PATI – Desa Sokopuluhan, Pucakwangi mengadakan panen raya pengembangan varietas unggul baru (VUB). Inovasi ini meliputi Demfarm VUB padi sawah tadah hujan ramah lingkungan. Luas sawah ini lima hektare dengan melibatkan delapan petani pemilik lahan.

Demfarm sendiri merupakan demonstrasi yang dilakukan secara kerja sama oleh petani-nelayan dalam suatu kelompok tani-nelayan. Pengembangan VUB di sawah tadah hujan Sokopuluhan ini mengimplementasikan teknologi Panca Kelola Ramah Lingkungan (Ramli).

Bupati Pati Haryanto bersyukur, di tengah pandemi Covid-19, inovasi dalam mewujudkan ketahanan pangan di bidang pertanian masih bisa dilakukan.

Baca juga: Rembang Godok Regulasi PTM pada Ajaran Baru

Menurut dia, pengembangan pertanian memang sangat cocok dilakukan di Pati. Terutama inovasi pengembangan VUB sawah tadah hujan.

“Saya tertarik lantaran di Kabupaten Pati sebagian besar memang lahan tadah hujan. Bagus untuk dikembangkan di sini (Desa Sokopuluhan). Selain ini, di daerah Jaken, Jakenan, Batangan, serta Juwana yang sebagian lahannya kering. Adapun di wilayah utara seperti Trangkil, Wedarijaksa, sebagian Pati, dan Tayu sebagian besar lahan irigasi,” imbuhnya.

Selama ini hasil pertanian padi di Pati selalu surplus. Tidak kurang dari 250 ribu ton per tahun. Dia berharap, pengembangan varietas baru di lahan tadah hujan ini bisa semakin meningkatkan produksi. Selain itu bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi. “Mudah-mudahan temuan baru ini meningkatkan hasil produksi pertanian ,” harap dia.

Kepala Badan Litbang Pertanian Fadjry Djufry mengungkapkan, upaya peningkatan pertanian di Indonesia memang harus perlu dilakukan. Terlebih, selama masa pandemi Covid-19 ini, dalam dua tahun terakhir satu-satunya sektor yang bisa menyumbang pertumbuhan ekonomi adalah pertanian.

“Semua sektor lain minus sekarang. Kalau pertanian tidak bergerak, bagaimana mencukupi kebutuhan pangan 270 juta warga Indonesia? Awal pandemi ada lockdown. Lalu menteri menyampaikan Kementan tidak bisa berhenti. Karena itu kami tidak berhenti ke lapangan. Bukan berarti tidak peduli adanya korona. Namun, kegiatan semacam ini memang perlu dilakukan,” tutur dia.

Abdul Kholiq, satu di antara petani setempat yang lahannya digunakan untuk uji coba pengembangan ini, berterima kasih atas arahan dan bimbingan yang diberikan Balingtan. Meliputi persemaian bibit, pengolahan lahan, hingga sistem penanaman jarwo.

Kholiq mengaku, sistem jarwo ini merupakan hal baru baginya. Bahkan setelah 40 tahun bekerja sebagai petani, baru kali ini dia mengenal sistem ini.

Ia mengaku sempat ragu dengan sistem ini. Dia merasa banyak bagian lahan yang muspro karena penanaman padi dengan sistem ini. Namun demikian, ia diyakinkan oleh pihak Balingtan bahwa hasil produksi justru akan lebih baik karena sistem jarwo dapat mengoptimalkan pemanfaatan radiasi surya serta memudahkan perawatan, penanggulangan gulma, dan aplikasi pemupukan. (adr)

(ks/him/top/JPR)

 TOP