alexametrics
Selasa, 27 Jul 2021
radarkudus
Home > Jepara
icon featured
Jepara

Usai Disidak Ganjar, Pemkab Jepara Tambah Tempat Tidur RS Covid-19

17 Juni 2021, 12: 00: 56 WIB | editor : Ali Mustofa

TERPUSAT: Bupati Jepara Dian Kristiandi cek kesiapan asrama Undip di Telukawur, Tahunan, Jepara, belum lama ini. Itu sebagai tempat isolasi terpusat.

TERPUSAT: Bupati Jepara Dian Kristiandi cek kesiapan asrama Undip di Telukawur, Tahunan, Jepara, belum lama ini. Itu sebagai tempat isolasi terpusat. (MOH. NUR SYAHRI MUHAROM/RADAR KUDUS)

Share this      

JEPARA - Penanganan Covid-19 di Jepara dievaluasi Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo Selasa (15/6). Bupati Jepara Dian Kristiandi segera memanggil satgas dan rumah sakit di Jepara kemarin. Fokus selanjutnya yakni penambahan tempat tidur.

Andi –sapaan akrabnya- meminta komitmen Dinas Kesehatan Jepara (DKK) dan rumah sakit yang menangani Covid-19 untuk saling bersinergi. Tren peningkatan kasus terkonfirmasi positif disikapi dengan kesiapan penambahan tempat tidur di rumah sakit. Khusus RSUD RA. Kartini 50 persen tempat tidur akan digunakan untuk merawat pasien Covid-19.

Sementara RS PKU Muhammadiyah Mayong akan menambah senam sampai tujuh temat tidur. ”Rumah sakit lain seperti RS Graha Husada dan RSI Sultan Hadlirin juga siap menambah tempat tidur,” tuturnya.

Baca juga: Kembangkan Metode Pendidikan Kolaboratif Anyaman Bambu

Diakuinya, saat ini terkendala juga tenaga kesehatan. Dinas Kesehatan Jepara sudah membuka rekrutmen relawan tenaga kesehatan. RSU RA. Kartini misalnya, kemarin sudah diplot sepuluh tenaga kesehatan. Selain itu relawan itu nanti ditempatkan di lokasi isolasi terpusat.

Selain itu standar operasioanl pelayanan pasien Covid-19 juga jadi perhatian bupati. Ia meminta rumah sakit untuk menambah sekat pada saat pasien Covid-19 di-screening.  Agar tidak membaur dengan warga lain.

”Misalnya ada warga yang ingin menjenguk atau mengurus keluarganya di instalasi gawat darurat. Kan tetap melewati pasien-pasien yang di luar itu. Maka harus dibuat sekat. Atau dibuatkan tempat khusus yang tidak berbaur dengan pasien selain Covid-19 atau warga umum,” terangnya.

Di sisi lain, ia menyampaikan kabar baik, di mana pada 15 Juni terdapat 229 orang yang dinyatakan sembuh. Sebelumnya, hanya 29 orang yang dinyatakan sembuh dari Covid-19. Sedangkan kasus aktif dari 1.673 orang turun menjadi 1.653 orang. “Ini perlu disyukuri ada tren kenaikan kesembuhan. Dan total pasien aktif juga menurun,” katanya.

Sementara itu beberapa pasien di RSUD RA Kartini Jepara masih dirawat di teras ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) kemarin. Sebelumnya, saat disidak Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo Selasa (15/6), para pasien tersebut diperintahkan untuk dipindahkan ke dalam ruang perawatan di dalam.

Pasien tersebut dirawat di teras sembari menunggu hasil skrining. Selain itu, menunggu ruang isolasi Covid-19 kosong. Karena ruang isolasi pasien Covid-19 terbatas.

”Totalnya ada 55 tempat tidur. Ini penuh,” terang Wakil Direktur Pelayanan RSUD RA Kartini Bambang Dwipo.

Begitu pula tenaga kesehatan yang bertugas. Per kemarin siang, terdapat 131 orang tenaga kesehatan RSUD yang terpapar Covid-19.

Ia menjelaskan para pasien yang dirawat di teras tersebut tak bisa serta merta dipindah ke dalam. Lantaran ditempat tersebut pasien masih menunggu hasil skrining.

Pasien yang baru datang di RSUD harus menjalani skrining terlebih dahulu. Tempatnya memang di luar ruang IGD. ”Tempatnya memang di luar. Kalau di dalam, ada yang positif, di dalam IGD akan turut terpapar. SOP-nya memang seperti itu,” papar Bambang Dwipo.

Perkiraan lama skriningnya kira-kira dua jam. Yang membuat lama adalah menunggu tempat isolasi kosong terlebih dahulu. Ia membantah para pasien yang dirawat di teras tersebut terlantar. Karena memang standar prosedur operasionalnya mengharuskan pasien diskrining terlebih dahulu.

Hasil skrining bila negatif pasien bisa dirawat biasa. Sedangkan bila hasil skrining positif Covid-19, pasien harus menunggu terlebih dulu di tempat itu. Baru setelah itu pasien dipindah ke ruang isolasi Covid-19. ”Memang di tempat terbuka. Hampir di semua rumah sakit sama. Bentuknya saja berbeda,” pungkas Bambang Dwipo. (rom)

(ks/war/zen/top/JPR)

 TOP