alexametrics
Jumat, 30 Jul 2021
radarkudus
Home > Blora
icon featured
Blora

Semua Rumah di Cluster Karangjati Blora Disita Bareskrim Polri

Diduga Terkait Kasus Korupsi KPR

11 Juni 2021, 14: 05: 25 WIB | editor : Ali Mustofa

HARI KEDUA: Anggota polisi berjaga di pintu masuk Perumahan Grand Cluster Karangjati. Semua rumah KPR di perumahan tersebut disita Bareskrim Polri.

HARI KEDUA: Anggota polisi berjaga di pintu masuk Perumahan Grand Cluster Karangjati. Semua rumah KPR di perumahan tersebut disita Bareskrim Polri. (SUBEKAN/RADAR KUDUS)

Share this      

BLORA – Bareskrim Polri kembali menyita puluhan rumah KPR Bank Jateng Blora. Kemarin (10/6) ada 24 rumah KPR di Perumahan Grand Cluster Karangjati, Blora yang disita. Saat ini total ada 8 titik perumahan yang beberapa rumah di dalamnya disita.

Penyitaan ini merupakan lanjutan dari proses penyitaan pertama pada Rabu (9/5) lalu. Sebelumnya, tim Bareskrim menyita rumah yang ada di beberapa perumahan. Mulai dari Perumahan Bangeran, Desa Kamolan, Blora. Perumahan Pakis, Perumahan Beran, dan Perumahan Blingi, di Desa Tunjungan, Blora. Rumah-rumah tersebut disita lantaran terkait perkara dugaan tindak pidana korupsi pada Bank Jateng Cabang Blora 2018-2019.

Joko, salah satu penghuni Perumahan Grand Cluster Karangjati, Blora mengaku, pihaknya merasa kecewa dengan pengembang dan Bank Jateng Blora. Sebab tidak ada penjelasan apapun terkait nasib para nasabah ke depannya. Apalagi saat ini pihaknya juga belum mengetahui status sertifikat rumahnya.

Baca juga: Pemkab Grobogan Cari Satu Hotel untuk Isolasi Terpusat

TERTUTUP: Dua dari 24 rumah di Perumahan Grand Cluster Karangjati yang disita Bareskrim Polri.

TERTUTUP: Dua dari 24 rumah di Perumahan Grand Cluster Karangjati yang disita Bareskrim Polri. (SUBEKAN/RADAR KUDUS)

”Ini ya hanya menungu. Sebab dari bank, pengembang, maupun penyidik tidak ada kejelasan. Saya pikir lancar-lancar saja. Ternyata jadinya seperti ini (disita, Red),” imbuhnya.

Dia mengaku, selama ini pembayaran lancar-lancar saja. Lewat pengembang. Dalam hal ini PT Gading Mas Property. ”Dalam hal kenyaman saya dan semua penghuni disini dirugikan. Semua ditempeli penyitaan,” tegasnya.

Begitu juga dengan penghuni lainnya. Ahmad Setyo mengaku, penyidik datang pukul 13.41. Tujuannya menyita rumah KPR. ”Penyitaan ini terkait Tindak Pidana Korupsi pada BPD Jateng Cabang Blora 2018-2019. Saya lihat, baca berita, baca medsos begitu,” imbuhnya.

Menurutnya, total penghuni Perumahan Grand Cluster Karangjati, Blora ada 10 KK dari 25 rumah dan 28 Kapling. Sementara yang ditempeli penyitaan ada 24 rumah. Sebab, satu  rumah dibangun sendiri. ”Saya sendiri sangat terganggu. Merasa malu. Ada sanksi sosial seperti ini,” tegasnya.

Dia juga sempat protes dengan Bank Jateng. Sebab rumahnya ditempeli stiker pengawasn Bank Jateng. Bahkan kemarin disita Bareskrim Polri. ”Saya tidak terima dan waktu itu saya beli rumah ini DP Rp 50 juta dengan agunan Rp 250 juta,” tambahnya.

Ahmad Setyo mengaku dia menjadi korban KPR. Dia merasa dirugikan sekitar Rp 150 juta. ”Rumah saya disita. Padahal saya sebetulnya sebagai korban KPR. Kerugaian sekitar Rp 150 juta mulai dari awal sampai saat ini,” bebernya.

Untuk itu, pihaknya akan meminta hak dan pertanggungjawaban dari BPD Blora. Yaitu dengan audiensi ke DPRD atau pemkab. Serta  audiensi dan meminta bank untuk memberikan kejelasan kepada nasabah.

”Karena Rp 50 juta, Rp 100 juta itu uang banyak. Sangat berarti bagi kami. Uang besar. Dengan bank memginginkan kita bayar Rp 500 ribu sebagai dana relaksasi Covid. Rumah saya hari ini disita,” kesalnya.

Plt Pimpinan Bank Jateng Cabang Blora Tri Nugroho mengaku tidak tahu berapa total rumah yang disita. ”Nanya saja ke pihak Bareskrim, biar lebih pas,” terangnya singkat.

Sementara itu, penyidik dari Bareskrim Polri enggan memberi keterangan kepada media terkait penyitaan itu. 

(ks/sub/lid/top/JPR)

 TOP