alexametrics
Rabu, 23 Jun 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Andy Kusmen, Pendiri ”Dapur Baca” Rembang

Datang Tak Harus Baca Buku, Tik Tok-an Juga Boleh

11 Juni 2021, 09: 28: 02 WIB | editor : Ali Mustofa

SADAR LITERASI: Andy Kusmen (hijau) saat berada di ”Dapur Baca” yang dikunjungi anak-anak.

SADAR LITERASI: Andy Kusmen (hijau) saat berada di ”Dapur Baca” yang dikunjungi anak-anak. (VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI/RADAR KUDUS)

Share this      

Andy Kusmen menyulap bekas dapur rumahnya sebagai perpustakaan. Tempat yang dinamai ”Dapur Baca” ini, menjadi wadah bagi anak-anak Desa Trembes, Gunem, Rembang, untuk mengolah kreativitas.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Radar Kudus

Baca juga: Diperlukan Kreativitas untuk Percepat Terget Vaksinasi Covid-19

BELAKANG rumah itu, dulu difungsikan sebagai dapur. Kini, setiap malam Minggu kerap disinggahi anak-anak. Untuk membaca atau bertukar ide. Ratusan koleksi buku sudah nangkring tertata di rak. Ya, tempat ini sudah disulap sebagai perpustakaan semi outdoor.

Andy Kusmen, si pemilik tempat ini memang sudah demen dengan dunia literasi. Hobi menulisnya sudah ia salurkan saat SMA. Dia berkarya di majalah dinding hingga menjadi pengelola perpustakaan desa. Sampai sekarang di rumahnya ada ”Dapur Baca”.

Setelah menjadi pengurus perpustakaan desa, ia pun membuat rumah baca yang ia kelola bersama kelurga. Nama dapur baca ia ambil karena dulunya ruangan itu berfungsi sebagai dapur oleh ibunya. Kemudian dibongkar. ”Saya ingin sesuatu yang berbeda. Biasanya perpustakaan kan letaknya di depan. Lha, ini ada di belakang. Makanya saya namai Dapur Baca," jelasnya.

Ternyata tak hanya itu, dibalik nama ”dapur” tampaknya juga ada filosofi tersendiri. Bagi Andy, dapur merupakan tempat untuk mengolah sesuatu. Diharapkan tempat ini bisa menjadi ruang berkarya bagi siapa saja.

Meski konsepnya seperti perpustakaan, jika ingin datang ke tempat ini tak melulu harus baca buku. Ada kegiatan-kegiatan lain. Seperti beberapa waktu lalu sempat dijadikan tempat produksi video. ”Saya kalau desain kaus juga di sini. Siapa pun boleh berkarya di sini," imbuhnya.

Perpustakaan ini, mengusung konsep belajar bersama dan menyatukan ide. Seperti ketika ada seorang pelajar yang berminat pada fotografi. Andy sangat terbuka terhadap ide-ide si anak itu. Sebab, adanya Dapur Baca memang diperuntukkan bagi kalangan remaja dan anak-anak.

Koleksi buku-buku di sini juga disesuaikan. Ada tempat komik. Biasanya menarik minat anak-anak SD atau taman kanak-kanak. Yang antusias melihat gambar-gambar kartun. Untuk remaja, juga disuguhi bacaan yang sesuai. Biasanya novel. Total koleksinya ada 200-an buku.

Dapur ini terkesan cukup santai. Di beberapa sudut dihiasi tanaman-tanaman hijau. Asyik untuk ngobrol, berdiskusi, atau duduk tenang sembari membaca buku di bangku. Setiap malam Minggu menjadi puncak kunjungan. Pengunjung tak hanya membaca atau meminjam buku. Apapun boleh dilakukan. Bebas. Meski sekadar main Tiktok.

”Kan sekarang trennya semacam Tiktok dan lain-lain itu. Ya saya ikuti," tuturnya.

Sistem peminjaman buku juga dibebaskan. Tak ada jangka waktu tertentu. Tujuannya untuk melatih tanggung jawab anak. Kalau pun ada yang lama mengembalikan, cukup ditanyakan.

Ditempat ini, Andy akan berperan sebagai pengarah. Dia sudah melihat antusiasme anak-anak di desanya terhadap literasi yang cukup baik. Untuk itu, adanya Dapur Baca diharapkan bisa memupuk minat-minat literasi itu. Di sini juga ada diskusi tentang desain.

”Siapa tahu, ke depan ada anak-anak yang berminat dengan bidang itu (desain, Red). Biasanya kalau malam Minggu sekitar enam (orang untuk diskusi)," katanya.

Andy sendiri terbuka, apabila ada yang ingin berdonasi buku. Saat ini sudah ada beberapa donatur yang masuk. Rencananya, ia akan membuka semacam les bagi anak-anak yang ingin belajar membaca. Secara sukarela. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya