alexametrics
Sabtu, 19 Jun 2021
radarkudus
Home > Rembang
icon featured
Rembang

Setoran Rendah, Pajak Galian C Perlu Digenjot

09 Juni 2021, 13: 59: 37 WIB | editor : Ali Mustofa

PEREKAM TRANSAKSI: Optimalkan PAD Pemkab Rembang Pasang Tapping Box atau alat perekam transaksi pada pelaku usaha hotel.

PEREKAM TRANSAKSI: Optimalkan PAD Pemkab Rembang Pasang Tapping Box atau alat perekam transaksi pada pelaku usaha hotel. (DOK. RADAR KUDUS)

Share this      

REMBANG – Pajak daerah Kabupaten Rembang tahun 2021 diproyeksikan bisa tembus Rp 105 miliar. Perolehan ini akan ditopang 11 pajak daerah. Terutama sektor tambang yang setorannya masih minim.

Proyeksi pajak daerah di Kota Garam fluktuatif. Tercatat perbandingan di 2020 dan 2021. Target awal pandemi Covid-19, dilakukan koreksi target dari Rp 96 miliar menjadi Rp 72 miliar.

Namun adanya pandemi pertama  bisa melampaui target sekitar Rp 10 miliar. Sehingga tahun 2020 pada akhir Desember bisa mencapai Rp 82 miliar.

Baca juga: Pemkab Rembang Bangun Tiga Embung untuk Atasi Kekeringan

Khususnya dari 11 jenis pajak daerah. Untuk proyeksi tahun 2021 asumsi pandemi sudah berakhir tahun 2019. Karena indikator peningkatan pendapatan pajak ada kecenderungan meningkat di akhir tahun 2020.

”Maka kita pasang target untuk pajak daerah tahun 2021 jauh lebih tinggi dari pada tahun 2020. Sebesar Rp 104, 989 miliar jadi hampir Rp 105 miliar,” kata Kepala Bidang Pendapatan pada Badan pendapatan, Pengelolaan, Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Romli saat ditemui di ruang kerjanya kemarin (8/6).

Namun seiring perkembangan waktu Covid-19 gelombang kedua tampaknya menghantui proses pengelolaan atau pengumpulan uang pajak daerah di Rembang. Sehingga sampai saat ini masih mencari celah bagaimana mengamankan target tersebut. Tanpa dilakukan koreksi saat pembahasan APBD perubahan tahun 2021.

Sampai saat ini Bidang Pendapatan masih evaluasi dan menganalisa. Dengan cara apa mengamankan target capaian pajak daerah terlanjur terlalu tinggi.

”Tidak berarti tanpa alasan, kalau memasang target ini. Karena asumsi tidak mungkin logikanya wabah datang bergelombang-bergelombang. Karena diakhir tahun 2020 indikator pendapatan pajak ada grafik peningkatan. Grafik itu asumsinya bisa meningkat terus sampai pada awal sampai tahun tahun 2021,” ujarnya.

Dia mengakui kondisi covid gelombang dua di luar dugaan, sehingga membuat semua sektor yang ada kaitanya pajak daerah benar-benar terpuruk. Untuk partisipasi membangun masyarakat melalui pajak daerah harus dilakukan koreksi.

”Namun selaku petugas pemungut pajak tetap harus berjuang. Bagaimana target 2021 aman, syukur lebih dari target tanpa melakukan koreksi. Prinsipnya sangat mengharapkan kesadaran wajib pajak yang berkaitan untuk berpartisipasi secara ikhlas. Membangun pemerintahan melalui kewajiban membayar pajaknya,” harapannya.

Bukan tanpa alasan. Romli berikan contoh yang sampai sekarang mengalami keprihatinan adalah kontribusi pajak daerah khususnya Gol C dari sektor batu andesit dan pasir kuarsa. Ini potensinya besar. Namun kesadaran membayar pajaknya sangat rendah.

”Seolah-olah pajak buka suatu kewajiban. Padahal menurut UU 28, tahun 2009 adalah kewajiban mengikat. Mestinya kesadaran masyarakat Rembang terhadap perilaku membayar pajak dengan baik, sesungguhnya target 2021 tidak akan terkoreksi. Sehingga dihimbau para masyarakat, pengelola usaha yang terkait langsung pajak daerah agar kiranya dengan kesadarannya sendiri melaporkan dan membayar pajaknya ” imbuhnya. 

(ks/ali/noe/top/JPR)

 TOP