alexametrics
Rabu, 23 Jun 2021
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Sejarah Feminisme RA Kartini: Bukti Keseimbangan Ekspektasi dan Bekti

08 Juni 2021, 15: 13: 25 WIB | editor : Ali Mustofa

Puji Rahayu, Guru SMAN 1 Jepara

Puji Rahayu, Guru SMAN 1 Jepara (DOK PRIBADI FOR RADAR KUDUS)

Share this      

”Seorang perempuan yang mengorbankan diri untuk orang lain, dengan segala rasa cinta yang ada dalam hatinya, dengan segala bakti yang dapat diamalkannya, itulah perempuan yang patut disebut sebagai ibu”. (R.A. Kartini).

Nukilan kata-kata inspiratif R.A. Kartini di atas merupakan ruh tentang ”bekti” yang menjadi energi bagi perjuangan feminisme beliau. Pendidikan bagi perempuan adalah pendidikan yang dapat mengantarkan manusia pada kemuliaan yang akan mendekatkan kesempurnaan manusia dalam menjalankan perannya. Bagi Kartini pendidikan merupakan penanaman budi pekerti untuk membuka pikiran masyarakat ke arah modernitas.

Ekspektasi R.A. Kartini menjadi ibu itulah alasan utama mengapa perempuan harus memperoleh pendidikan yang memadai. Di tangan ibu, anak kali pertama mendapatkan sentuhan dunia. Ibu yang pertama meletakkan bibit kebaikan dalam hati sanubari manusia. Maka, perempuan harus mendapatkan kesempatan yang sama agar tidak hanya menjadi konco wingking bagi kaum laki-laki.

Baca juga: Berusia 22 Tahun, Empat Traffic Light Diganti

Feminisme atau kesetaraan gender merupakan gerakan perempuan yang menuntut persamaan hak antara kaum perempuan dan pria. Kata gender merupakan konsep kultural yang berupaya membuat distinction (perbedaan) dalam hal peran, perilaku, dan karakteristik antara perempuan dan laki-laki yang berkembang di masyarakat. Apakah sesungguhnya feminisme yang diperjuangkan Kartini?

R.A. Kartini hidup pada masa perempuan tidak mendapatkan hak-haknya sendiri, kecuali untuk melahirkan dan menyusui. Perempuan harus dipingit ketika menginjak remaja. Tetapi, beruntunglah R.A. Kartini, meskipun ayahnya tidak mengizinkan sekolah setelah tamat ELS. Tetapi diberikannya buku bacaan dan majalah sebagai teman. Dari situlah mata hati R.A. Kartini terbuka. Dalam benaknya muncul kesadaran pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan, karena kebodohan perempuan menjadikannya mahluk yang tidak berdaya.

R.A. Kartini adalah perempuan yang cerdas. Meski pendidikannya hanya tamat ELS tidak menjadi halangan bagi Kartini untuk mengepakkan sayapnya menembus cakrawala baru. Keinginan terbesarnya adalah memajukan perempuan bumi putra agar cakap dan baik. Perempuan harus sanggup menjalankan panggilan budinya sebagai ibu peradaban.

Perjuangan R.A. Kartini bukan untuk popularitas, tetapi untuk bekti kepada bangsa yang dicintai. Seperti diceriterakan kepada Stella: ”Kami hendak bekerja untuk bangsa kami, membantu mendidiknya, mengangkatnya ketingkat kesusilaan yang lebih tinggi, agar dengan demikian rakyat sampai kepada keadaan masyarakat yang lebih baik dan lebih bahagia.”

Sesungguhnya ibu/perempuan bagi R.A Kartini harus bisa menjadi teladan bagi keluarganya dengan berbekal pendidikan yang dimilikinya. Perempuan memang tidak sekuat laki-laki, tetapi kekuatan laki-laki disempurnakan perempuan. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP