alexametrics
Sabtu, 19 Jun 2021
radarkudus
Home > Rembang
icon featured
Rembang
Air Baku Sumber Semen Baru Dipakai 40 Persen

Bupati Bakal Optimalisasi Pemanfaatan untuk Kebutuhan Air Minum

08 Juni 2021, 14: 38: 12 WIB | editor : Ali Mustofa

POTENSI: Bupati Rembang Abdul Hafidz cek kondisi air baku di Sumber Semen yang bakal diolah untuk kebutuhan air minum.

POTENSI: Bupati Rembang Abdul Hafidz cek kondisi air baku di Sumber Semen yang bakal diolah untuk kebutuhan air minum. (VACHRI RINALDY L/RADAR KUDUS)

Share this      

REMBANG, Optimalisasi air baku dari Sumber Semen, Kecamatan Sale masih minim. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang mengakui pemanfaatan masih belum ada separuh dari kewenangan volume yang diberikan.

Bupati Rembang Abdul Hafidz menyampaikan, optimalisasi pemanfaatan Sumber Semen, Sale untuk air minum masih memiliki potensi yang memungkinkan. ”Sumber semen akan kami optimalkan,” katanya.

Dari sisi kewenangan, kata Hafidz, pihaknya diberi kewenangan untuk mengambil 140 liter per detik. Namun saat ini baru bisa dimanfaatkan sesuai kapasitas pipa transmisi. Hanya mampu 60 liter per detik. Sehingga masih sisa 80 liter per detik.

Baca juga: Undip dan UNS Masuk Tim Pansel Sekda

”60 (liter/detik, Red) ini sudah tua (pipanya, Red) keraknya sudah tebal. Sering rusak,” katanya.

Kerusakan ini juga mengakibatkan kebocoran hampir 30 persen.  Maka, jika dihitung pemkab baru mengambil sekitar 40 persen. ”Masih banyak,” imbuhnya.

Untuk itu, pihaknya berkomitmen akan mengoptimalkan air baku dari Sumber Semen, Sale. Caranya melalui pembaharuan jaringan transmisi. Volumenya akan ditingkatkan sehingga mampu untuk mengalirkan air. Program ini akan dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

”Syukur sampai 140 liter per detik. Kalau ini nanti yang terjadi maka tidak ada lagi bahasa Rembang kekeringan,” jelasnya.

Dari pemberitaan sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang sudah mengantisipasi kekeringan tahun ini. Musim kemarau sudah masuk pada April pekan

ketiga. Nantinya akan terus berlangsung sampai sekitar bulan Oktober. Puncaknya diperkirakan Agustus-September. Kemarau di Rembang diprediksi berbeda dengan daerah lain. Sebab, curah hujan yang relatif sedikit. Sehingga musim kemarau diperkirakan lebih panjang.

Untuk pemetaan kekeringan, kata Pramujo, masih sama dengan tahun lalu. Mencakup 67 Desa yang tersebar di seluruh kecamatan yang ada di Kota Garam. Tahun ini disiapkan anggaran Rp 50 juta. Selain itu juga akan bekerja sama dengan CSR perusahaan yang ada di Rembang. Tahun kemarin, air per tangki harganya Rp 200 ribu. 

(ks/vah/ali/top/JPR)

 TOP