alexametrics
Sabtu, 19 Jun 2021
radarkudus
Home > Jepara
icon featured
Jepara

Wenak... Kembangkan Budidaya Rajungan dengan Pemberdayaan Masyarakat

08 Juni 2021, 09: 00: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

BESAR: Kepala BBPBAP Jepara Sugeng Raharjo (kiri) menunjukkan rajungan yang dibudidaya bersama masyarakat.

BESAR: Kepala BBPBAP Jepara Sugeng Raharjo (kiri) menunjukkan rajungan yang dibudidaya bersama masyarakat. (BBPBAP JEPARA FOR RADAR KUDUS)

Share this      

JEPARA – Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara memprogramkan budidaya rajungan dengan sistem pemberdayaan masyarakat. Yakni, masyarakat turut serta dalam proses pembenihan hingga pengembangan.

Kepala BBPBAP Jepara Sugeng Raharjo menyebut, budidaya rajungan terus digalakkan di Indonesia. Lantaran, Indonesia menjadi pengekspor rajungan terbanyak ke Amerika. Jumlahnya hingga 70 persen dari pengekspor seluruh dunia.

Untuk itu, agar stok rajungan di alam tak habis, perlu pembudidayaan. Ada dua sistem yang diprogramkan secara masif oleh BBPBAP Jepara. Yaitu dengan sistem budidaya di kawasan mangrove atau pinggir pantai dan budidaya dengan sistem pemberdayaan masyarakat.

Baca juga: Lho, Dua Kapolsek di Grobogan Dimutasi. Kenapa?

Masyarakat yang diajak adalah nelayan penangkap rajungan. Mereka juga diajak untuk berbudidaya rajungan di tambak idol. Tambak tersebut diisi dari hasil pembenihan yang ada di BBPBAP Jepara. ”Nanti dalam waktu tiga hingga empat bulan sudah bisa dipanen ramai-ramai,” ujarnya.

Terkait sistem di kawasan sekitar pantai, pihaknya telah mengaplikasin di beberapa daerah. Di antaranya di Pulau Panjang, Demak, hingga Lamongan.

Cara kerjanya, penangkap rajungan memilah dulu indukan yang bertelur. Setelah itu, indukan yang bertelur itu disimpan dalam keramba. Dalam waktu sebulan, indukan itu mengeluarkan benihnya. ”Pembenihan alami ini yang sedang kami latih kepada masyarakat,” tuturnya.

Dari kegiatan itu, ia berharap rajungan di alam bisa terus beranak pinak. ”Satu induk bisa menghasilkan satu hingga dua juta telur. Satu persen saja yang hidup, bisa menghasilkan ratusan ribu benih. Sehingga bisa beranak pinak dengan cepat,” papar Sugeng Raharjo. (rom)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya