alexametrics
Rabu, 23 Jun 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Cerita Produsen Trofi Burung saat Pandemi

Usaha Sempat Berhenti Tiga Bulan

05 Juni 2021, 10: 10: 38 WIB | editor : Ali Mustofa

KUALITAS INTERNASIONAL: Produsen trofi khusus lomba burung Udin Trophy memamerkan produknya.

KUALITAS INTERNASIONAL: Produsen trofi khusus lomba burung Udin Trophy memamerkan produknya. (DOK PRIBADI FOR RADAR KUDUS)

Share this      

Pandemi Covid-19 ikut menghajar usaha Udin sebagai perajin piala khusus kicau burung. Sebab, sejumlah even harus tiarap. Setelah mulai ada lomba digelar, usahanya perlahan bangkit lagi.

ACHMAD ULIL ALBAB, Radar Kudus

Baca juga: Relawan Perawat Bantu Penanganan Covid-19 di Kudus Difasilitasi Mess

(DOK PRIBADI FOR RADAR KUDUS)

BERBAGAI bentuk trofi untuk kejuaraan burung dijajar rapi di rumah produksi di Desa Tlogoharum, Wedarijaksa, Pati. Tempat ini milik Udin. Akrab disebut Udin Trophy. Produknya sudah menasional. Bahkan, pernah dipesan dari luar negeri.

Udin mengaku, sudah menekuni kerajinan alumunium dan kuningan khusus piala burung sejak enam tahun lalu. Berkat usahanya itu, produknya dikenal luas di Indonesia. Bahkan sampai Thailand.

”Alhamdulillah, selama ini sudah melayani pesanan seluruh Indonesia. Pada 2018, juga pernah ada order dari Thailand. Hampir seluruh even burung, trofinya kami yang buat. Untuk even paling besar nasional saya pernah mengerjakan piala Presiden Jokowi dan Presiden Cup," jelas Udin.

Lebih lanjut, Udin mengaku sempat mandek produksi selama tiga bulan, karena terdampak pagebluk Covid-19. Karena itu, ia pernah banting stir menjadi penjual ikan koi. Sementara puluhan karyawan yang menggantungkan hidup dari pembuatan trofi burung di rumahnya terpaksa diliburkan sementara waktu.

”15 Maret 2020 kami off total. Karena semua even burung off. Saya terpaksa beralih profesi menjadi penjual ikan hias. Karena pandemi Covid-19. Alhamdulillah, Juli 2020 mulai masuk pesanan dikit-dikit," jelasnya.

Permintaan pasar masih lesu dan menurun hingga 75 persen dibandingkan masa sebelum pandemi. Namun Udin memberanikan diri tetap produktif. Apalagi even burung di wilayah Jawa Timur dan luar Jawa mulai menggeliat.

”Kalau sebelum pandemi, minim sehari tiga hingga empat even burung dapat kami pegang. Sekarang, seminggu paling enam even saja atau sehari satu lah," imbuhnya.

Udin mengklaim kualitas produknya tidak akan terkorosi dimakan waktu. Lantaran dalam proses produksi, ia hanya menggunakan bahan-bahan unggulan, sehingga mutunya terjamin.

Dia mengaku, saat ini bahan baku seperti alumunium mengalami kenaikan harga 30-40 persen. Sejak empat bulan belakangan. Imbasnya, ia terpaksa menaikkan harga trofi buatannya antara 10-20 persen.

Selain memilah alumunium dan kuningan berkualitas, proses pengerjaan dan motif pesanan juga sangat diperhatikan. Mulai dari proses pengecoran hingga finishing ia punya trik tersendiri, agar trofi buatannya awet dan tak pudar warnanya. Keunggulan produknya, selain kualitas, modelnya juga beragam.

Setiap even burung, minimal pesanan 100 trofi. Sementara untuk tiap item dijual mulai dari harga Rp 50 ribu sampai 5 juta. Tergantung bahan, lama proses pengerjaan, serta volume dan besar trofi.

”Paling besar pernah buat setinggi 80 sentimeter," imbuhnya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya