alexametrics
Sabtu, 19 Jun 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Margo dan Zaenal, Loper di Grobogan dan Pati

Setia 26 Tahun, Tak Ingin ke Lain Hati

04 Juni 2021, 15: 55: 16 WIB | editor : Ali Mustofa

BANGGA: Zaenal menunjukkan salah satu koran yang dikirimkan ke pelanggan.

BANGGA: Zaenal menunjukkan salah satu koran yang dikirimkan ke pelanggan. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)

Share this      

Menjadi loper koran itu tak mudah. Apalagi di tengah maraknya media online. Namun Margo dan Zaenal membuktikan menjadi loper koran itu asyik.

SAIFUL ANWAR dan ANDRE FAIDHIL FALAH, Radar Kudus

PUKUL 06.10, Margo sampai di Simpang Lima Purwodadi. Hari itu, Margo dijatah 50 koran untuk dibagi ke pelanggan. Koran-koran itu diletakkan di motor bebeknya lalu ia ngobrol dengan rekan sesama loper sambil ngopi. “Tempat ngumpulnya memang di sini. Biasanya sekitar setengah jam ngopi dulu baru berangkat,” kata lelaki 39 tahun itu.

Baca juga: Mulai Hari Ini Seluruh Objek Wisata di Jepara Ditutup

SETIA: Sudah sekitar 26 tahun, Margo, 39, menjadi loper Jawa Pos, tepatnya sejak usia SMP.

SETIA: Sudah sekitar 26 tahun, Margo, 39, menjadi loper Jawa Pos, tepatnya sejak usia SMP. (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Usai ngeloper, Margo tak langsung pulang ke rumah, tetapi jualan es tebu. Ya, sejak lima tahun lalu, Margo yang tinggal di Dusun Pucang, Desa Tambirejo, Kecamatan Toroh itu nyambi usaha lain: jamu dan es tebu.

Sebelum pandemi datang, Margo bisa mengantongi Rp 5 juta sebulan. Namun sejak pandemi, ia hanya bisa membawa pulang Rp 2 juta sebulan.

“Semuanya hancur gara-gara Covid-19. Ini kalau begini terus-menerus bisa gulung tikar,” kata Margo yang saat itu sedang menunggu pembeli es tebu.

Kisah bermula saat Margo putus sekolah pada 1990-an. Saat itu usianya baru 13 tahun. Tawaran loper koran pun ia terima karena tak ada pilihan lain.

Saat itu mencari pelanggan mudah. Dulu, ia memiliki 100 pelanggan. Namun lama-lama menyusut, apalagi ditambah adanya pandemi.

“Saya dulu pernah lobi-lobi di Polsek Toroh. Dulu bersedia langganan, tetapi sekarang tidak lagi,” curhatnya.

Meski begitu, dia mengaku menikmati kesibukannya menjadi loper. Dari beberapa media cetak, ia lebih suka Jawa Pos Radar Kudus. Sebab, ia merasa lebih dihargai.

“Di masa seperti pandemi ini masih memberi bingkisan Lebaran. Kalau media lain sudah tidak peduli pada orang seperti kami. Makanya sampai sekarang saya masih setia,” ceritanya.

Selain Margo, ada pemuda lain bernama Zaenal asal Pati yang juga setia ngeloper koran sejak satu setengah tahun. Zaenal yang sudah tak memiliki orangtua  itu tertarik ngeloper karena pekerjaannya mudah dan tidak kemrungsung. “Bisa kerja saja, saya sudah beruntung,” kata lelaki yang per bulan mendapat Rp 1,8 juta itu. “Dari Jawa Pos Radar Kudus sendiri kisaran Rp 1,7 juta,” imbuh Zaenal.

Selain menjadi loper, dia juga usaha jual-beli motor dan hp. “Itung-itung buat tambahan. Sekarang kalau tidak ulet, orak urip. Apalagi saya tidak kuliah. Jadi harus kerja keras,” katanya.

Selama menjadi loper koran, Zaenal juga memiliki kendala di lapangan. Khususnya saat hujan. “Kalau musim hujan repot,” kata lelaki berusia 24 tahun itu.

Selain itu, saat ini, koran sedang bersaing dengan media online. Kendati demikian, ia tetap yakin, koran tetap memiliki pelanggan setia. “Dulu agak ragu. Tapi alhamdulillah saat ini masih ada pelanggan. Gajinya dari Radar Kudus juga lumayan,” terangnya.

Di ulang tahun ke-19 Jawa Pos Radar Kudus ini ia selaku loper berharap, gar koran ini terus berkembang. “Semoga semakin maju lagi,” harapnya. (*)

(ks/mal/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya