alexametrics
Sabtu, 19 Jun 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Thorikun, Loper Muda di Kabupaten Rembang

Promosi Sembari Mengedukasi Kesehatan Mata

04 Juni 2021, 09: 40: 39 WIB | editor : Ali Mustofa

Thorikun

Thorikun (DOK PRIBADI)

Share this      

Menjadi loper koran manjadi tantang tersendiri bagi Thorikun. Dia bisa bertemu dan menyelami berbagai karakter pelanggannya. Selain itu, bisa mengedukasi minat baca masyarakat.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Radar Kudus

THORIKUN kerap singgah ke kantor Jawa Pos Radar Kudus Biro Rembang. Bersantai sembari ngopi saat jam-jam istirahat bersama Staf Pemasaran Koran Ahmad Afwan. Mereka sudah sangat akrab. Maklum, dia sudah bergabung menjadi loper koran saat masih berusia muda. Dan, masih bertahan sampai sekarang.

Baca juga: PLN Tingkatkan Keandalan Listrik di Pulau Jawa

Delapan tahun lalu, Thorikun masih bekerja secara mandiri dengan mengumpulkan rosok. Saat itu usianya sekitar 25 tahun. Lambat laun, dia mendapatkan tawaran untuk menjadi loper koran. Tawaran pekerjaan itu, tak serta merta langsung diambil. Butuh waktu sepekan untuk memutuskan. Selain itu, penghasilan mengumpulkan rosok lebih menguntungkan jika dibandingkan loper.

Namun, ia melihat ada sebuah pengalaman yang berharga di pekerjaan loper. Itulah yang membuatnya mantap mengambil pekerjaan ini. Meskipun, ia menyadari kalau hanya menghasilkan penghasilan sebagai loper koran tak bisa menyukupi kebutuhan. Toh, setelah ngloper masih bisa cari rosok.

”Sesasi (sebulan) Rp 600 ribu. Belum bensinnya,” ujarnya. Namun tantangan itu yang membuatnya semakin yakin.

Dari 2013, ia mengawali pekerjaan sebagai penjaja surat kabar. Dia dipasrahi area Kecamatan Rembang Kota, Kaliori, dan Sumber. Setiap hari sekitar pukul 06.00 sudah harus start dari rumah. Thorikun diberi jatah mengantarkan ke-80 pelanggan.

Seiring berjalannya waktu, pada 2019 pelanggannya semakin meningkat. Sistem kerja menjadi loper, merupakan pembagian. Awal bekerja ia memang hanya mengantarkan surat kabar kepada pelanggan. Lambat laun, ia pun mencari pelanggan sendiri. Jadi, jumlah 80 itu dikurangi kemudian ditambah sejumlah koran dari pelanggannya sendiri.

Sekitar 2014, pria yang saat ini berusia 33 tahun itu, mendapatkan 40 pelanggan. ”Saya kurangi jumlahnya, karena saya tidak sanggup. Hanya mengantar sekitar 100-an,” jelasnya.

Dari blusukan menjadi loper itulah ia menemui beragam karakter. Bagaimana cara menghadapi calon pelanggan yang demikian unik. Terkadang, Thorikun harus berdiskusi. Seperti saat menemui orang yang beralasan sudah tak zamanannya lagi membaca koran di era yang serba digital ini.

Namun, Thorikun tetap mengedukasi calon pelanggan. Dia sering mendiskusikan tentang bagaimana dampak sinar yang ditimbulkan dari handphone bagi kesehatan. Menurutnya, koranlah yang lebih baik. Melestarikan budaya membaca yang lebih sehat.

Tak cukup itu saja, dalam meyakinkan pelanggan terkadang juga perlu diskusi masalah teknis. Seperti harga dan sebagainya. ”Hari ini promosi belum tentu besok kirim. Kadang bulan depan atau pekan depan atau mulai tanggal ini,” jelasnya.

Saat ini, mayoritas pelanggannya merupakan instansi pemerintah desa. Sembari meloper, Thorikun juga memiliki usaha berjualan sabun cuci piring, pel lantai, dan pembersih kerak. Namun, bagi Thorikun semua pekerjaan yang ia jalani merupakan prioritas.

Bertepatan dengan ulang tahun ke-19 Jawa Pos Radar Kudus kemarin, ia berharap ke depan bisa semakin baik dengan menambah halaman. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP