alexametrics
Sabtu, 19 Jun 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Kisah Sukses Agen Koran Jawa Pos Radar Kudus

Bisa Sekolahkan Anak, Beli Tanah, dan Bangun Rumah

03 Juni 2021, 14: 56: 25 WIB | editor : Ali Mustofa

LEGEND: Andreas Adi Aryanto (Koh In) Salah satu agen koran terbesar di Kabupaten Grobogan.

LEGEND: Andreas Adi Aryanto (Koh In) Salah satu agen koran terbesar di Kabupaten Grobogan. (INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR KUDUS)

Share this      

KORAN Jawa Pos Radar Kudus di Grobogan bisa dibeli di Agen Laris, Alun-alun Kota Purwodadi, Grobogan milik Andreas Adi Aryanto. Agen itu berdiri sejak 1980. Sosok yang biasa disapa Koh In ini berhasil membangun rumah, sekolahkan anak, dan beli tanah karena usahanya meloper koran.   

INTAN MAYLANI SABRINA, Radar Kudus

BERANGKAT dari seorang loper, mulanya ia adalah sub agen dari agen tertua di Kabupaten Grobogan. Karena pengantaran koran yang cukup lama, lantaran harus melalui beberapa tangan dulu. Hal itulah yang membuat Koh In akhirnya pamit ke agennya dan mendirikan agen sendiri.

Baca juga: Ketahuan Open BO, Suami Minggat

”Awalnya loper koran. Karena saya dapat korannya baru sore hari, otomatis berita sudah cukup basi,” jelasnya.

Akhirnya dia pamit baik-baik ke agen. Dia datang ke Semarang, mengurus izin jadi agen. Kemudian dirinya setiap hari mengambil koran dari Stasiun Purwodadi.

”Koran tersebut dikirim melalui kereta api dari Demak,” katanya.

Selama menjadi agen itu, ia sekaligus menjadi loper. Ia antarkan koran-koran tersebut ke pelanggannya dengan berjalan kaki.

”Dari sinilah, saya semakin semangat. Karena pelanggan puas dengan kecepatan pengiriman. Pelanggan pada senang dan mulailah saya memiliki sekitar 25 pelanggan,” jelasnya.

Meski diantar dengan berjalan kaki, saat itu ia tak merasa susah. Saat itu ia hanya mengirim di sekitaran Kota Purwodadi. Sedangkan 1980-an, Kota Purwodadi masih sangat kecil.

”Jalan kaki untuk meloper koran bukanlah hal yang tabu,” terangnya.

Karena saat itu Kota Purwodadi sangat kecil. Penduduknya masih sangat sedikit. Belum banyak bangunan dan kendaraan seperti sekarang ini. Jalan R Suprapto dulunya masih rel kereta api. Simpang lima belum ada.

”Kotanya hanya sampai jembatan lusi ini,” kenangnya.

Dari hasil jerih payahnya meloper, akhirnya ia memiliki tabungan dan ia gunakan untuk membeli sepeda tua yang berkarat. Harganya sekitar Rp 500. Ia pun sangat bangga membelinya, lantaran hasil jerih payah sendiri. Bahkan, harga tersebut cukup mahal untuk ukuran saat itu.  

Dengan berbekal sepeda, mulailah dia menambah pelanggan dan mampu memiliki satu loper.

Uang hasil kerja itu terus diputar untuk belanja. Untuk mengambil beberapa media koran, majalah, hingga buku pelajaran. Kemudian merambah ke makanan kecil. Saat itu saya tak berani mengambil uang di bank.

”Tahun 1990-an baru bisa ambil di bank, kurang lebihnya Rp 1 juta untuk pengembangan modal saat itu,” pria kelahiran 1 Juni 1947 ini.

Ia pun sempat berjaya saat media elektronik belum begitu gencar seperti sekarang ini. ”Dulu masih jarang yang punya Televisi. Jadi orang pada langganan koran. Saat itu dari 20 pelanggan jadi seribu eksemplar. Omzet bisa sampai Rp 40 juta. Sekarang sisa 300-an pelanggan,” katanya.

Saat ini ia menjadi agen koran terbesar di Kabupaten Grobogan. Dari jerih payahnya selama ini bisa menyekolahkan dua anaknya. Bisa membeli tanah dan membangun rumah bertingkat hingga memiliki sawah.

”Kunci sukses menjadi agen harus memiliki inovasi. Dekati pelanggan dan merayu. Jangan hanya diam di tempat. Kini harapannya, apalagi di ulang tahun Jawa Pos Radar Kudus. Harga jangan dinaikan, tetap Rp 6 ribu. Semoga ke depan bisa terus berinovasi melalui tulisan para jurnalis,” imbuhnya. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP