alexametrics
Rabu, 23 Jun 2021
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan

Lebaran Lebih Khusuk

17 Mei 2021, 09: 05: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

Baehaqi, Direktur Jawa Pos Radar Kudus

Baehaqi, Direktur Jawa Pos Radar Kudus (DOKUMEN RADAR KUDUS)

Share this      

Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Walilahilhamd.

Lebaran tahun ini saya sengaja tidak mengurus surat untuk pulang kampung. Saya tahu ada penyekatan di mana-mana. Jauh lebih ketat dibanding Lebaran sebelumnya ketika wabah Covid-19 baru merajalela.

Secara resmi saya tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur. Namun sehari-hari berkantor di Kudus dan Semarang. Kalau pulang pasti melewati pos-pos penyekatan. Terutama di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur. Di Jalur Pantura pos penyekatan ada di Sarang (Rembang) dan Bulu (Tuban). Sedangkan di jalur tol ada di Sragen (Jateng) dan Ngawi (Jatim).

Baca juga: Patuhi Larangan Mudik, Sesulih Ora Bisa Mulih

Wartawan memastikan sulit sekali lolos dari cegatan. Pemblokadean dilakukan penuh. Apalagi mobil saya berplat K. Tidak boleh masuk ke Jatim. Sebenarnya masih ada kunci. Yaitu KTP. Masih Sidoarjo. Tapi, malah dianggap mudik. KTP hanya bisa digunakan untuk memasuki kluster-kluster wilayah.

Saya sudah pasrah, apabila tidak bisa pulang akan berlebaran di perantauan. Ingin tahu juga bagaimana rasanya berlebaran tidak bersama keluarga. Ingin merasakan apa yang dialami banyak orang. Saya sudah pamit pada anak-anak. ”Kalau bapak tidak bisa berlebaran di rumah, itu bukan berarti bapak tidak mau pulang,” pesan saya kepada anak-anak. Mereka memaklumi.

Seumur hidup saya belum pernah berlebaran terpisah dengan keluarga. Karena itu, menjelang Lebaran tahun ini rasanya tidak enak. Maka dua hari menjelang Idulfitri saya nekat pulang. Benar juga seperti informasi sebelumnya. Di Bulu kena hadang. Sempat dibentak oleh aparat. Disuruh turun dari kendaraan.

Selain surat tugas, petugas juga menanyakan surat bebas Covid.

Saya pernah beberapa kali tes. Baik dengan rapid test antigent maupun swab. Pernah divonis positif Covid-19. Sudah menjalani isolasi mandiri. Sudah tes lagi juga. Dinyatakan negatif. Tapi, itu sudah lama. Januari 2021. Sedangkan persyaratan untuk perjalanan, pemeriksaan harus terbaru.

Alhamdulillah ada petugas yang baik hati. Diperiksa seisi mobil. Sama sekali tidak ada penumpang. Hanya ada dua parcel teronggok. Dari Radar Kudus dan Radar Semarang. Itulah sisa parcel yang saya antar langsung ke rumah seluruh karyawan yang tersebar di 18 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Sehari menjelang Idulfitri saya sudah siap-siap berkhutbah keesokan harinya. Mengantisipasi kalau tidak ada gelaran Salat Idulfitri di masjid atau jalan raya seperti tahun sebelumnya. Tahun lalu saya berjamaah hanya dengan anak-anak. Saya menjadi khotib sekaligus imam.

Ternyata di dekat rumah ada masjid yang menggelar Salat Idulfitri. Jemaahnya tidak banyak. Dibatasi hanya orang yang tinggal satu RW dengan masjid itu. Jemaah laki-laki sama dengan ketika salat Jumat. Sampai di teras masjid. Sedangkan jemaah perempuan ada beberapa baris di belakang. Salat jauh lebih khusus tanpa hiruk pikuk.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik. Inilah Salat Id yang tidak dipaksakan. Jemaahnya hanya orang-orang yang biasa salat. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Sampai bayi pun dibawa ke tempat salat. Seolah-olah salat Id itu wajib bagi semua insan, baik laki-laki maupun berempaun, baik dewasa maupun anak-anak.

Salat Id itu hukumnya hanya sunah. Kalau dilaksanakan mendapat pahala, kalau ditinggalkan tidak berdosa. Ini harus didudukkan supaya masyaraat tidak salah kaprah.

Hanya ada satu amalan wajib (kalau dilaksanakan mendapat pahala kalau ditinggal berdosa) saat Idulfitri. Yaitu zakat fitrah. Kewajiban ini untuk seluruh umat muslim. Bahkan bayi yang baru lahir pun wajib dikeluarkan zakatnya. Sedangkan takbir yang terlalu-talu semalam suntuk itu juga sunah.

Mestinya zakat fitrah itulah yang harus ditonjolkan melebihi amalan-amalan lain. Dikeluarkan pada malam Idulfitri kepada tetangga terdekat. Itulah cara Islam agar orang yang tidak mampu ikut bergembira saat merayakan Lebaran. Karena bagian dari sunah Idulfitri itu makan enak dan berpakaian bagus.

Usai salat saya hanya bermaaf-mafaan dengan anak-anak. Tidak ke mana-mana. Tidak berkunjung ke tetangga dan sanak keluarga. Toh tidak ada perintah unjung-unjung yang berkait langsung dengan Idulfitri. Sampai kemarin hanya ada tiga keluarga yang bersilaturrahim ke rumah. Jadi, Lebaran lebih khusuk.

Selamat Idulfitri. Mohon maaf lahir batin. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya