alexametrics
Senin, 02 Aug 2021
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Ramadan Bulan Pengentasan Kemiskinan

11 Mei 2021, 10: 03: 31 WIB | editor : Ali Mustofa

Abdul Karim, Ketua Prodi Ilmu Alquran dan Hadis IAIN Kudus

Abdul Karim, Ketua Prodi Ilmu Alquran dan Hadis IAIN Kudus (DOK PRIBADI FOR RADAR KUDUS)

Share this      

KEMISKINAN merupakan fenomena dan isu sosial yang sering menjadi bahan perbincangan. Tidak jarang bahkan isu tentang kemiskinan diangkat hanya sebagai komoditas tertentu dalam menarik simpati masyarakat. Namun belum ada solusi efektif dalam menyelesaikan persoalan ini.

Ada hadis yang menyatakan bahwa Kemiskinan lebih dekat dengan kekufuran, hal itu karena banyak orang yang menjauh dari rahmat Allah, dan berkeluh kesah dalam menghadapi kesulitan hidup disebabkan karena kondisinya yang terpapar kemiskinan. Taukah kita, bahwa sesungguhnya Ramadan mengajarkan kita untuk keluar dari kondisi miskin dan keluar dari berbagai kesulitan hidup?.

Pertama, Puasa Ramadan mengajarkan kita agar hidup lebih produktif. Oleh karena itu dikatakan bahwa amal perbuatan yang benilai ibadah di bulan Ramadan dilipat gandakan pahalanya di sisi Allah. Artinya Ramadan mengajarkan kepada uamat manusia yang beriman agar hidup dengan penuh semangat kerja untuk memperbaiki kondisi sosial ekonomi kita. Kerja yang seperti apa yang dapat membawa perubahan terhadap struktur sosial ekonomi. Maka disini harus ada integrasi tiga pola kerja, yaitu kerja keras (sungguh-sungguh), kerja cerdas (inovatif dan kreatif), dan kerja ikhlas (dimensi spiritual). Kita tidak boleh menjadi manusia pemalas, karena sifat malas akan menjadi penghambat menuju perubahan dan kemajuan. Allah swt. berfirman di dalam al-Quran sebagaimana berikut:

Baca juga: Tim Kwarda Gerakan Pramuka Jateng Beri Suplemen ke Adik-Adik Posko

“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan) tetaplah bekerja keras untuk (urusan yang lain.” (QS. Al-Insyirah; 94: 7).

Kedua, puasa Ramadan mengajarkan kepada kita untuk berlaku hidup hemat tidak terjebak kepada prilaku konsumerisme. Ada pepatah yang menyatakan bahwa hemat pangkal kaya. Artinya bahwa puasa Ramdhan mengajarkan kepada kita agar mampu mengendalikan diri dari keinginan hawa nafsu kita, termasuk di dalamnya adalah mengendalikan diri dari perilaku konsumtif, materialistik dan hedonistik.

Ketiga, Ramadan mengajarkan kita untuk berlaku dermawan. Taukah kita bahwa sifat dermawan itu merupakan salah satu kunci pembuka rejeki dan sebuah afi rmasi sesorang untuk hidup dalam jiwa yang penuh dengan kekayaan. Karena kedermawanan tidak pernah dimiliki oleh orang yang bermental miskin. Semakin orang dermawan maka semakin terbuka pintu-pintu rejeki yang akan mengubah kesulitan hidup menjadi kemudahan. Dan perlu kita tahu bawa sesungguhnya hakikat harta yang kita miliki adalah harta yang telah didermakan, dan diinfakkan di jalan Allah.

Kesimpulannya, spirit Ramadan mendorong manusia agar melakukan perubahan dalam kehidupan menuju keaadaan yang lebih baik dan dinamis. Ramadan menggugah kita untuk segera bangkit dari kemalasan, keterpurukan dan keterbelakangan menuju semangat perubahan nasib yang lebih baik dari semua aspek kehidupan terutama perubahan dari kemiskinan menjadi kemakmuran, dan itu hanya bisa dilakukan ketika kita mengubah mentalitas yang lemah menjadi kekuatan mental yang pantang menyerah, bergaya hidup hemat dan sederhana dan memupuk sifat kedermawanan dalam diri kita agar senantiasa berlaku tolong menolong pada sesama demi terwujudnya masyarakat yang makmur dan sentosa bagi seluruh rakyat Indonesia. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP