alexametrics
Rabu, 23 Jun 2021
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan

Karikatur yang Meluluhkan Hati

10 Mei 2021, 09: 21: 02 WIB | editor : Ali Mustofa

Baehaqi, Direktur Jawa Pos Radar Kudus

Baehaqi, Direktur Jawa Pos Radar Kudus (DOK. RADAR KUDUS)

Share this      

SUDAH bertahun-tahun saya menolak pemberian saat mengantar parcel ke rumah-rumah karyawan. Bukan karena sombong, tapi khawatir muncul harapan diberi sesuatu.

Kekukuhan hati saya luluh ketika Ibnu Fikri menahan saat pamitan. ”Tunggu sebentar, Pak,” katanya. Dia segera berbalik mengambil sesuatu yang rupanya sudah disiapkan di balik pintu. Tak sampai setengah menit kemudian sudah muncul lagi dengan sebingkai karikatur.

Itu karikatur buatannya. Hitam putih. Kertasnya berwarna putih. Demikian piguranya. ”Ini sekadar kenang-kenangan untuk Bapak,” ujar bapak satu anak itu. Istrinya yang menggendong anak semata wayang kemudian menyerahkan kepada saya. Ibnu mendampingi.

Baca juga: Parkir Belakang Ramayana Jadi Biang Kemacetan

(DOK PRIBADI)

Begitu terharunya, saya sampai tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata kecuali hanya terima kasih. Sampai di kantor peristiwa itu saya ceritakan kepada para redaktur, wartawan, dan disainer halaman koran yang berbuka bersama. ”Saya menangkap, ini pemberian dari hati nurani,” kata saya dengan suara yang terbata-bata.

Saya ke rumah Ibnu tanpa jadwal yang pasti. Hari itu 4 Mei 2021, di saat Wakil Wali Kota Semarang Heviarita Gunaryanti Rahayu yang akrab disapa Bu Ita berulang tahun. (Selamat Bu, semoga sehat dan diberi umur panjang. Maaf saya tak bisa bersama-teman-teman Radar Semarang memberi ucapan secara langsung).

Jadwal saya hari itu berkeliling ke rumah-rumah karyawan di Kota Semarang. Ibnu mendapat gilingan hampir paling akhir. Menjelang maghrib. Tinggal seorang yang mendapat parcel hari itu.

Rumahnya di perbukitan. Menanjak tajam. Jalan di depan rumahnya terpotong. Langsung turun curam tak bisa dilewati kendaraan. Rumah-rumah kelihatan di bawah. Demikian juga di belakangnya.

Ritual mengantar partcel ke rumah-rumah karyawan Radar Kudus dan Radar Semarang yang tersebar di 18 kabupaten/kota di Jawa Tengah itu, sudah berlangsung bertahun-tahun. Niat saya hanya ingin bersilaturahim kepada keluarga karyawan. Saya sempatkan. Toh hanya setahun sekali. Sabtu lalu seluruh parcel sudah sampai ke alamat.

Saya setir sendiri mobil. Saya antar parcel sampai teras rumah. Termasuk yang nun jauh di perdesaan. Ada yang jaraknya dari jalan provinsi masih harus berkendara satu setengah jam. ”Terima kasih Pak Bae. Diantar sampai depan rumah. Digotong sendiri, dibawa sendiri, jalan kaki sendiri,” kata Ananta Erlangga Musa, wartawan di Temanggung. Rumahnya di gang yang hanya bisa dilewati motor.

Banyak orang yang memberi balen (pemberian setelah diberi sesuatu). Saya menolak. Khawatir tergiur pemberian itu, sehingga niat tidak lagi tulus. Khawatir juga karyawan lain latah. Sehingga mereka tidak tulus juga. Apalagi kalau pemberian itu diada-adakan.

Tahun lalu saya sampai menginstruksikan agar karyawan tidak lagi memberi balen. Kalau pas maghrib pun dilarang memberi takjil. Namun masih ada yang memaksa. Tahun ini masih ada yang memberi degan, kue lebaran, pisang, dan peyek. Saya terpaksa menerima kecuali pemberian Ibnu. Saya ikhlas.

Kata Ibnu seperti yang diceritakan di ruang kerjanya, pagi tiba-tiba terbesit untuk memberikan kenang-kenangan kepada saya berupa karikatur. Digambarkan saya sosok yang mengenakan kopiyah putih (orang menyebut kopiah haji). Di belakangnya kelihatan tanaman dan gunung. Ada semacam bunga. Saya tidak tahu namanya. Malam ketika di kantor saya tanyakan kepada Ibnu. Ternyata itu bunga parijoto, khas Pegunungan Muria, Kudus.

Di samping kanan ada semacam kitab terbuka disertai pena zaman dulu yang terbuat dari bulu ayam. Dipadu dengan botol tinta. Tumpukan buku itu dilatarbelakangi gedung-gedung pencakar langit.

Kesimpulan saya sosok itu adalah orang desa asli Kudus yang merantau ke kota. Kemudian menjadi wartawan. Hidup dengan religiusitasnya. Saya betul-betul terharu mendapat penggambaran seperti itu. Oleh orang yang tidak begitu saya kenal. Oleh seniman yang plural.

Saya tak begitu dalam mengenal Ibnu. Bertemu seperti karyawanan pada umumnya. Beberapa kali mengobrol juga biasa saja. Pekerjaannya di Radar Semarang sebagai disainer grafis. Orangnya pendiam. Ketika menyerahkan karikatur kepada saya juga nyaris tanpa senyum. Tapi saya menangkap ekspresi wajahnya tulus dan gembira. Ketulusan inilah yang anggap penting di zaman yang serba materealistis ini. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya