alexametrics
Rabu, 23 Jun 2021
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Beban Ganda Perempuan Di Bulan Ramadan

09 Mei 2021, 10: 16: 38 WIB | editor : Ali Mustofa

Siti Malaiha Dewi; Ketua Prodi Pemikiran Politik Islam IAIN Kudus

Siti Malaiha Dewi; Ketua Prodi Pemikiran Politik Islam IAIN Kudus (DOK PRIBADI FOR RADAR KUDUS)

Share this      

SETIAP orang Islam yang sudah baligh wajib menjalankan ibadah puasa. Tak pandang bulu, laki-laki atau perempuan terkena aturan yang sama, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 183: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”, dan surat Al Ahzab ayat 35: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.

Meskipun tidak ada pembedaan tentang kewajiban berpuasa berdasar jenis kelamin, namun, fakta menunjukkan bahwa beban yang dialami oleh laki-laki dan perempuan sangatlah berbeda. Meski tidak semuanya_tetapi mayoritas perempuan harus bangun paling pagi untuk menyiapkan makan sahur maupun membangunkan anggota keluarganya. Sore hari, mereka memasak segala kebutuhan untuk berbuka puasa. Belum lagi,  setelah berbuka, mereka pun masih harus membereskan dan mencuci bersih peralatan dapur. Sehingga ketika tiba waktu isya untuk melaksanakan salat isya dan tarawih, tubuh mereka sudah terasa lelah. Padahal dini hari nanti mereka harus menyiapkan lagi makan sahur.

Rutinitas seperti di atas pun terjadi pada Ibu saya yang membayangkanya pun sepertinya saya tidak sanggup.  Bahkan, menjelang lebaran volume pekerjaan yang dijalankan bertambah lagi karena harus menyiapkan kue-kue lebaran baik yang hendak disuguhkan maupun dijual (mremo). Pernah suatu ketika saya berdebat dengan Bapak saya yang berkata kepada Ibu:”Sudahlah..jangan di dapur terus. Nanti tidak dapat pahala”.

Baca juga: Peduli, Dandim Jepara Bagikan Ratusan Takjil kepada Masyarakat

Senada dengan pendapat Bapak di atas, saya pun teringat akan isi ceramah- ceramah kiai yang disampaikan di masjid dekat rumah di bulan ramadhan waktu itu. Ceramah yang disampaikan mayoritas mengulas tentang keutamaan puasa dan memperbanyak ibadah di bulan puasa. Saya catat baik-baik bahwa ibadah yang mereka maksud hampir semuanya adalah: solat, membaca Alquran, dan bersedekah. Saya kemudian berfikir, kenapa tidak pernah sekalipun para pak Kyai itu menggolongkan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh ibu-ibu sebagai ibadah (menyiapkan buka puasa dan sahur untuk seluruh keluarga, membersihkan rumah menjelang lebaran sebagai bagian dari menghormati tamu, menjamu tamu yang berkunjung saat lebaran, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang dianggap pekerjaan remeh temeh tak berarti).

Jika demikian alangkah tidak adilnya: bapak saya tentu saja akan lebih banyak memperoleh pahala karena menurut para ustaz tersebut bapak saya lebih banyak melakukan ibadah: solat, membaca Alquran dibanding ibu saya karena bapak saya punya banyak sekali waktu untuk melakukan itu. Oh...betapa menyedihkan ibu saya, sudah capek-capek melakukan semua pekerjaan rumah, tidak berpahala lagi. Pantas saja Nawal El-Sadawi pernah menulis: “Tidak Ada Tempat Bagi Perempuan di Surga”. Entahlah…..Wallahu a’lam bish-shawabi. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya