alexametrics
Minggu, 09 May 2021
radarkudus
Home > Pati
icon featured
Pati
Ponpes Maslakul Huda, Kajen, Pati (1)

Punya Tujuh Lembaga Formal dan Non-Formal

04 Mei 2021, 12: 48: 06 WIB | editor : Ali Mustofa

RESMI: Menteri Agama RI periode 2014-2019 Lukman Hakim Saifuddin (kanan) menghadiri peresmian Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda.

RESMI: Menteri Agama RI periode 2014-2019 Lukman Hakim Saifuddin (kanan) menghadiri peresmian Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda. (PONPES MASLAKUL HUDA FOR RADAR KUDUS)

Share this      

PATI - Ponpes Maslakul Huda, Kajen, Pati memiliki banyak lembaga pendidikan. Dari yang sifatnya formal hingga non-formal.

Lembaga formal terdapat PAUD Terpadu An-Nismah yang berdiri sejak 2014. SD Terpadu An-Nismah berdiri pada 2018. Dan Ma'had Aly Fi Ushul Fiqh yang mulai ada 2015.

Sementara untuk pendidikan non-formal dibagi empat kelompok. Yakni Pesantren Maslakul Huda (PMH) Putra, Pesantren Putri Al-Badi'iyyah (Pesilba), PMH Li al-Mubtadi'in, dan PMH Li al-Mubtadi'at.

Baca juga: Kapal Bersandar di Pelabuhan Juwana Dimangsa Kobaran Api

Pembagian ini berdasarkan kelompok usia. Seperti di PMH Li al-Mubtadi'in yang diperuntuntukkan bagi santri pemula atau anak-anak. Yang berusia 11-16 tahun. Didirikan sejak 2011 atas usulan wali santri yang menghendaki adanya lembaga pendidikan setingkat diniyah.

Kadafia Fauzi, ketua presidium (lurah pondok) PMH PUTRA 2020-2021 menyampaikan, secara historis memang tidak diketahui pasti tanggal berdirinya pondok. Namun dapat dipastikan rintisan aktifitas cikal bakal keberadaan Maslakul Huda sudah berlangsung sekitar tahun 1910-an.

Pada waktu itu, Kiai Mahfudh (ayah Kiai Sahal Mahfudh) telah menginjak dewasa. Beliau ingin mempunyai pesantren sendiri. Setelah menimba ilmu dari Makkah, beliau sempat tabarukan (belajar ulang) kepada Kiai Hasyim Asy’ari.

Ketika beliau ngangsu kaweruh di Tebuireng. Saat itu sudah diberi kesempatan mengajar oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Sehingga ketika Kiai Mahfudh pulang untuk merintis pesantren di Kajen, beberapa santri yang dulu menjadi muridnya di Tebuireng ikut beliau. ”Dan akhirnya menjadi santri pertama di Maslakul Huda,” jelasnya.

Pada awalnya pesantren ini belum bernama Maslakul Huda. Menjadi nama itu ketika pesantren dipegang oleh Kiai Sahal Mahfudh pada 1963. Dinamakan Maslakul Huda (jalannya pituduh) dengan maksud sebagai tahap lanjutan dari Mathali’ul Huda (sumbernya pituduh). Sebuah nama pesantren yang didirikan ayah Kiai Mahfudh (Kiai Abdussalam) yang diasuh oleh Kiai Abdullah Salam (almarhum).

Di usia yang lebih dari seratus tahun itu, Ponpes yang kini diasuh KH. Abdul Ghoffarrozin dianggap mempunyai andil besar dan nyata dalam mewujudkan perjuangan kemerdekaan.

”Kehadiran pesantren sebagai lembaga tafaqquh fiddin mempunyai peran aktif dalam pengembangan intelektual. Di samping berusaha melakukan komunikasi dan kerja sama dengan masyarakat yang diiringi pengejawantahan tata nilai dan ajaran Islam,” ungkapnya.

Pesantren Maslakul Huda sendiri berdiri di atas tanah seluas 5000 meter persegi. Secara geografis, letak pesantren Maslakul Huda berada di wilayah Desa Kajen paling barat. Keberadaannya berbatasan langsung dengan Desa Ngemplak. Tepatnya di arah barat Makam Syekh Ahmad Mutamakkin dan sebelah timur jalan Pati-Tayu km 15. (tos)

(ks/lid/top/JPR)

 TOP