alexametrics
Minggu, 09 May 2021
radarkudus
Home > Grobogan
icon featured
Grobogan

Babinsa Larang Jebakan Tikus Listrik, Dianggap Membahayakan Nyawa

03 Mei 2021, 13: 47: 06 WIB | editor : Ali Mustofa

SOSIALISASI: Babinsa Ketitang Koramil 04/Godong Serma Supriyadi pasang banner larangan pasang jebakan tikus beraliran listrik kemarin.

SOSIALISASI: Babinsa Ketitang Koramil 04/Godong Serma Supriyadi pasang banner larangan pasang jebakan tikus beraliran listrik kemarin. (INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR KUDUS)

Share this      

GROBOGAN, – Hama tikus sangat meresahkan masyarakat, terutama bagi para petani padi di Desa Ketitang, Kecamatan Godong. Lantaran tikus dapat merusak tanaman padi yang mulai tumbuh yang dapat menyebabkan gagal panen. Babinsa pun menegaskan larangan pemasangan jebakatan tikus beraliran listrik kemarin.

Menghadapi hama tikus, banyak petani yang membasmi tikus dengan menggunakan jebakan tikus dengan aliran listrik yang dipasang di pematang sawah. Hal tersebut sangat berbahaya, karena jebakan tikus tersebut tak hanya mematikan hama tikus. Namun, telah banyak menelan korban jiwa manusia.

Menyikapi kejadian tersebut Babinsa Ketitang Serma Supriyadi anggota Koramil 04/Godong bersama Bhabinkamtibmas mensosialisasikan larangan penggunaan jebakan tikus listrik dengan pemasangan banner Kamtibmas pelarangan penggunaan jebakan tikus listrik di sejumlah jalan yang dekat area persawahan.

Baca juga: FSH Unisnu Awali dengan Launching Klinik Hukum

“Ini merupakan langkah awal yang akan terus kami sosialisasikan kepada seluruh masyarakat, sehingga seluruh masyarakat yang berprofesi petani mengetahui bahwa hal tersebut dilarang,” kata Serma Supriyadi.

Meski sebagian para petani merasa keberatan dengan adanya larangan penggunaan jebakan tikus tersebut, namun mereka menerimanya karena jika melanggar akan dikenakan hukuman dan dapat berbahaya bagi warga lainnya,

“Kami harapkan dengan memberikan sosialisasi dan pemasangan banner larangan bahwa memasang jebakan hama memakai arus listrik membahayakan jiwa diri sendiri dan orang lain. Ada cara lain yang lebih ramah lingkungan dan tidak membahayakan,” pungkasnya. 

(ks/him/int/top/JPR)

 TOP