alexametrics
Minggu, 09 May 2021
radarkudus
Home > Pati
icon featured
Pati
Baca Puisi Gugur Karya WS Rendra

Mahasiswa Pati Doakan Awak KRI Nanggala yang Gugur

03 Mei 2021, 09: 56: 02 WIB | editor : Ali Mustofa

DOA BERSAMA: Para mahasiswa Pati menggelar kegiatan doa bersama dan pertunjukan seni untuk awak KRI Nanggala 402 yang gugur beberapa waktu lalu.

DOA BERSAMA: Para mahasiswa Pati menggelar kegiatan doa bersama dan pertunjukan seni untuk awak KRI Nanggala 402 yang gugur beberapa waktu lalu. (ABDUL ROCHIM/RADAR KUDUS)

Share this      

PATI, Radar Kudus – Peristiwa hilangnya KRI Nanggala 402 di perairan Laut Bali yang terjadi beberapa waktu lalu menjadi perhatian para mahasiswa di Pati. Setidaknya ini ditunjukkan para pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAI Syeh Jangkung, Kayen, Pati.

Sekitar 20an mahasiswa itu berkumpul untuk mendoakan para korban tragedi Nanggala yang telah gugur. Mereka membaca doa tahlil dan khatmil quran.  

Ketua STAI Syeh Jangkung Edy Supratno menerangkan, upaya dan perhatian ini kami lakukan diharapkan membawa berkah manfaat baik untuk korban KRI Nanggala. “Semoga para awak kapal yang gugur husnulkhatimah dan keluarga diberi kesabaran,” ucap Edy di kolong gedung STAI Syeh Jangkung yang masih setengah jadi.

Baca juga: Meraih Berkah Ramadan melalui Kegiatan Virtual

Dia juga mengatakan, agar mahasiswa mendoakan gedung ini lekas selesai. Rencananya, akan digunakan untuk gedung perkuliahan, perpustakaan dan asrama.

Sementara itu Presiden BEM STAI Syeh Jangkung M. Iqbal Al Havid menerangkan pihaknya sebelumnya sempat ngamen di Tugu Bandeng. Upaya ini menggalang dana untuk menggelar kegiatan doa tersebut.

“Selain baca doa, kami juga bagi-bagi sembako ke warga Kayen,” kata Iqbal.

Setelah berdoa, ditampilkan sejumlah pertunjukan seni. Iqbal menyumbang puisi WS Rendra berjudul Gugur.

Para aktivis PMII Pati yang hadir dalam acara tersebut terlihat menyimak pembacaan puisi. Organisasi pelajar IPNU IPPNU juga terlihat hadir acara tersebut.

Pihaknya mengaku memang acara ini terbatas, karena situasi pandemi. “Kami memang tak melibatkan mahasiswa yang lain, karena kerumunan harus dibatasi,” kata Iqbal.  (him)

(ks/him/top/top/JPR)

 TOP