alexametrics
Minggu, 09 May 2021
radarkudus
Home > Rembang
icon featured
Rembang

Santri Gayeng Nusantara Bagi 18 Ribu Paket Sembako di Bulan Puasa

02 Mei 2021, 10: 43: 17 WIB | editor : Ali Mustofa

AKSI SOSIAL: Taj Yasin Maimoen Panglima Santri Gayeng Nusantara yang juga Wakil Gubernur Jawa Tengah melepas 11 truk pengangkut sembako yang bakal dibagikan ke seluruh Jateng.

AKSI SOSIAL: Taj Yasin Maimoen Panglima Santri Gayeng Nusantara yang juga Wakil Gubernur Jawa Tengah melepas 11 truk pengangkut sembako yang bakal dibagikan ke seluruh Jateng. (SGN FOR RADAR KUDUS)

Share this      

SEMARANG - Santri Gayeng Nusantara (SGN) berbagi 18 ribu paket sembako di bulan Ramadan ini. Bantuan hasil patungan itu, disalurkan pada kaum duafa, juga diberikan kepada beberapa santri yang tidak bisa mudik.

Bantuan yang diangkut dengan 11 truk itu dilepas oleh Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin atau Gus Yasin ke sejumlah daerah di Jawa Tengah, pada Rabu lalu (28/4).

“Saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman Santri Gayeng Nusantara di 35 Kabupaten Kota se-Jateng, dan sebagian ada di Jatim. Alhamdulillah kita bisa berbagi dengan masyarakat,” ungkapnya dalam pers rilis yang diterima Radar Kudus Jawa Pos, Kemarin (30/4).

Baca juga: Pemkab Blora Gandeng BUMD Jakarta untuk Garap Potensi Sapi

Ia menjelaskan kegiatan tersebut untuk melatih ketaqwaan dengan berbagi antar sesama. Ada 18 ribu paket sembako berisi beras, minyak dan gula yang disiapkan dan dikirimkan bertahap. Koordinasi dilakukan juga dengan perwakilan Santri Gayeng Nusantara di daerah-daerah untuk pihak yang akan diberikan bantuan.

“Ada 18 ribu paket sembako. Sasaran kepada masyarakat. Sudah kita koordinasi dengan Santri Gayeng di 35 Kabupaten Kota di Jateng dan sebagian Jatim,” jelasnya.

Tidak hanya untuk duafa, Gus Yasin menjelaskan bantuan juga diberikan kepada beberapa santri yang tidak bisa mudik ke kampung halaman karena adanya larangan mudik.

“Pengadaannya ini dari Santri Gayeng Nusantara dan beberapa donatur kita yang tidak mau disebutkan namanya. Hanya minta didoakan saja,” imbuhnya.

Terkait santri yang juga terkena larangan mudik saat Lebaran, Gus Yasin menjelaskan banyak juga kiai di ponpes yang tidak mempermasalahkan dan tetap nyaman mengajar.

“Di Ponpes, kiai untuk bulan puasa biasanya berharap (santri) tidak usah, pulang tetap mengaji. Biasanya tetap nyaman mengajar,” ujarnya.

Di masa pandemi yang sudah melanda sejak tahun lalu memang ada beberapa perubahan ketika Idul Fitri tiba. Ia mencontohkan ada yang mengurangi kunjungan, bahkan ada yang tidak menerima kunjungan.

“Kondisi saat ini sejak tahun kemarin tradisi sowan dibatasi. Biasanya tamu bebas, sekarang ada prokes bahkan ada ulama yang tidak terima tamu,” tandasnya.

Untuk diketahui, usulan pemberian dispensasi mudik untuk santri pertama berhembus dari pihak Wakil Presiden. Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo dengan tegas mengatakan tidak ada dispensasi karena khawatir dengan penyebaran kasus korona. 

(ks/ali/top/JPR)

 TOP