alexametrics
Minggu, 09 May 2021
radarkudus
Home > Grobogan
icon featured
Grobogan
Ponpes Miftahul Huda, Grobogan (2-Habis)

Hari Ini Batik, Esok Pakaian atau Kaligrafi

01 Mei 2021, 16: 20: 21 WIB | editor : Ali Mustofa

K.H. Hasan Rohmat, Pengasuh Ponpes Miftahul Huda 

K.H. Hasan Rohmat, Pengasuh Ponpes Miftahul Huda  (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Share this      

GROBOGAN – Kualitas karya yang dihasilkan para santri Miftahul Huda Blabur dianggap mumpuni. Ponpes yang berada di Desa Mangunrejo itu pun acapkali menjadi rujukan berbagai lembaga untuk studi banding. Pengasuh Ponpes Miftahul Huda K.H. Hasan Rohmat menyebut, lembaga yang studi banding ke ponpesnya tidak hanya dari Jateng saja, tapi luar pulau, seperti Kalimantan Barat.

Lembaga yang ke sana tidak hanya sehari atau dua hari, paling tidak selama seminggu hingga dua minggu belajar kreativitas di Ponpes ini. Bahkan, ada pula yang hingga sebulan belajar demi benar-benar menguasai ilmu.

“Yang dari Kalimantan Barat itu ada 50 santri, belajar di sini sepekan. Ada yang dari Gubug itu libur dua minggu, tetapi 11 hari dihabiskan di sini. Yang putri di pondok putri, yang putra tidurnya di putra. Ke sini sudah bawa beras,” paparnya.

LEMBUR: Salah satu santri membuat kaligrafi elektronik hingga larut malam.

LEMBUR: Salah satu santri membuat kaligrafi elektronik hingga larut malam. (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

K.H. Rohmad pun memberi jadwal kepada para santri yang ingin belajar. Misal, hari pertama membikin batik, berikutnya memotong kain untuk membuat baju. Lalu berikutnya menjahit. Hari selanjutnya bikin kaligrafi, pin, id card, stempel, dan sebagainya. Sehingga, ketika dijemput, semuanya sudah dipelajari.

Pihak Ponpes mengaku selalu membuka pintu lebar-lebar bagi siapa saja yang ingin belajar, termasuk wali santri.

“Kalau santrinya nanti bisa dapat penghasilan sendiri malah tidak mau mengaji lagi. Makanya diajarkan ke orangtua santri,” terangnya.

NGAJI PASANAN: Sebagian santri ngaji kitab kuning usai salat Tarawih di masjid Ponpes. 

NGAJI PASANAN: Sebagian santri ngaji kitab kuning usai salat Tarawih di masjid Ponpes.  (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Atas kiprahnya di berbagai kerajinan tersebut, khususnya kaligrafi, Kiai Rohmat mengaku sering mendapat undangan menjadi narasumber di berbagai acara. Yai-panggilannya, pernah diminta menjadi narasumber dengan peserta perwakilan Ponpes seluruh Indonesia.

“Waktu itu yang mengadakan Kemenag Pusat langsung. Sebelum ada Pandemi acaranya,” kata Yai.

Kiai Rohmat mengaku sudah mahir menulis kaligrafi sejak lama. Sebab, sejak 1985, dirinya sudah menjadi penulis buku di Toha Putra Semarang. Dia menulis kitab Durrotun Nasihin, Riyadhul Sholihin, Bulughul Marom, dan berbagai jenis kitab lain. Pada 1986, dia bahkan diminta menulis untuk tiga percetakan di Semarang. Dari skill menulisnya itulah, dia bisa menulis kaligrafi. 

(ks/ful/mal/top/JPR)

 TOP