alexametrics
Minggu, 09 May 2021
radarkudus
Home > Pati
icon featured
Pati

Ibadah Puasa, Menepi dan Menep

19 April 2021, 14: 41: 10 WIB | editor : Ali Mustofa

MENGAJI: Anis Sholeh Ba’asyin saat mengisi ngaji budaya Suluk Maleman yang digelar secara virtual pada Sabtu malam kemarin.

MENGAJI: Anis Sholeh Ba’asyin saat mengisi ngaji budaya Suluk Maleman yang digelar secara virtual pada Sabtu malam kemarin. (SULUK MALEMAN FOR RADAR KUDUS)

Share this      

PATI, – Ngaji budaya Suluk Maleman kembali hadir. Tema tentang puasa menjadi bahasan menarik. Pengasuh Suluk Maleman Anis Sholeh Ba’asyin menyebut puasa mengajarkan untuk menep.

Suluk Maleman edisi ke-112 ini mengambil tema “Menepi”. Tema itu dipilih lantaran tepat saat menyambut ramadan seperti sekarang ini. Dengan menepi maka seseorang bisa diartikan menarik diri untuk menarik diri dari keramaian.

“Dengan menarik diri dari keramaian maka kita bisa menep. Diam atau tenang. Mengendapkan semua kekeruhan untuk menjadi jernih. Kebetulan kata menep yang diserap bahasa Indonesia dari bahasa Jawa ini punya arti yang sangat dekat dengan kata shaum atau shiyam dalam bahasa Arab,” terang pria yang dikenal sebagai budayawan ini.

Baca juga: Targetkan Temukan 2.000 Kasus TBC

Bila telah mampu menep, lanjut Anis, maka seseorang itu akan mampu lebih bijaksana atau dewasa. Karena orang dapat melihat dan menangkap nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah peristiwa sebelum bereaksi. Oleh karenanya manusia butuh menepi agar dapat menep untuk menemukan arti puasa.

“Kita sering menemukan peristiwa tertentu. Dibohongi orang misalnya. Kita tahu dan marah. Itu mungkin reaksi normal. Tapi setelah sekian waktu dan bisa menep, kita bisa mengambil hikmah dan memberi makna yang berbeda dan lebih dalam. Kenapa hal itu bisa terjadi, misalnya. Setelah menep, reaksi kita dalam menyikapi peristiwa serupa tentu akan berbeda; menjadi lebih bijak,” tambahnya.

Bagi Anis Sholeh Ba’asyin reaksi seseorang terhadap peristiwa itulah yang menunjukkan seberapa menepnya dia. Puasa itu sendiri menjadi jalan untuk memudahkan dalam memfermentasi nilai-nilai kehidupan.

“Pengalaman hidup, jika semakin lama diendapkan tentu akan semakin kuat dalam melahirkan pemaknaan dan memahami nilai-nilai,” ujarnya.

Dengan menep juga diharapkan membuat orang tidak kagetan dengan apa yang dilihatnya sehingga keliru dalam bereaksi. Hal itu lantaran seringkali apa yang dilihat tidak sesuai dengan kenyataan. Apalagi di era media sosial seperti sekarang ini.

“Di media sosial, meski tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi, orang begitu mudah ngomong apa saja. Mudah menghakimi. Kalau orang bisa menghakimi orang lain, tentu tidak perlu ada pengadilan akhirat. Padahal tidak seperti itu,” tegasnya,

Dia pun mengingatkan, hanya dari melihat jejak digital, banyak yang menganggap orang itu sesuai apa yang telah dilakukan pada masa lampau. Padahal hal itu tak sesuai dengan konsep Islam. Meski sepuluh tahun lalu pernah berbuat kesalahan, asalkan mau bertobat, maka seseorang akan kembali menjadi nol. Hal itulah yang tidak berlaku di konsep jejak digital. 

(ks/aua/him/top/JPR)

 TOP