alexametrics
Selasa, 11 May 2021
radarkudus
Home > Inspirasi
icon featured
Inspirasi

Terinspirasi dari Pernikahan Sendiri

19 April 2021, 10: 04: 01 WIB | editor : Ali Mustofa

Ayu Satiarini

Ayu Satiarini (DOK PRIBADI FOR RADAR KUDUS)

Share this      

BISNIS Wedding organizer (WO) mulai dijalani Ayu Satiarini sejak 2019. Idenya dari pernikahannya sendiri. Harus teroganisasi, rapi, dan terkenang. Karena sekali seumur hidup pernikahan itu.

Mempunyai bisnis WO gampang-gampang susah. Itu tergantung manajemen, niat, dan relasi. ”Harus kerja keras juga. Kalau tidak bagaimana bisa jalan,” kata perempuan 30 tahunan itu.

Selalu berinovasi dan berpikiran positif juga menentukan bisnis ini. Karena setiap kompetitor memiliki inovasinya sendiri-sendiri. ”Jadi harus bisa bersaing dengan inovasi. Tidak menjelek-jelekkan kompetitor,” imbuh perempuan yang akrab disapa Ayuk.

Baca juga: Ghosting Gara-Gara Ngalor-Ngetan

Berbisnis menurut wanita asal Desa Sidokerto, Pati ini, harus menjaga etika baik. Baik customers maupun kompetitor. Harus bisa menempatkan diri. ”Nantinya, bisa berkolaborasi. Harus bangun relasi dan bertemu orang baru sebanyak mungkin. Itu bisa menjadi pembelajaran,” bebernya.

Peran WO itu terlihat di acara pernikahan. Acara itu harus rapi, terorganisasi, terkenang. Jadi terkenang yang bagus ke keluarga dan tamunya. ”Harus berkesan. Cateringnya bagus, acara bagus, rapi. Sedangkan mempersiapkan itu menguras tenaga dan pikiran. Karena pengantin banyak maunya,” jelasnya.

Awal membangun bisnis WO ini terinspirasi dari pernihkahannya enam tahun lalu. Waktu itu, dia bekerja di Jakarta. Mengurus pernikahannya bolak-balik. Jakarta ke Pati. ”Capek, Mas. Bolak-balik,” keluhnya.

Pernikahannya waktu itu dianggapnya tidak tersusun dengan rapi. Dari sinilah berpikir untuk membuat WO. Bagaimana cara mengorganisasi acara pernikahan. Ini agar berjalan dengan lancar.

”Awal 2017 saya berpartner dengan teman fotografer. Awalnya studio foto, terus banyak yang tanya tentang wedding,” bebernya.

Bisnis WO miliknya ada dua lokasi. Yakni, di Pati dan Jakarta. Dameprojects namanya. Biaya wedding-nya beda. Sesuai pasaran daerahnya masing-masing. ”Harus bisa membedakan anggaran. Harus bisa menyesusaikan. Misalnya sewa gedung di Pati boleh Rp 3 juta. Kalau di Jakarta RP 10 jutaan,” tuturnya. 

Memanajemen itu semua harus berpartner. Tentunya dengan orang yang tepat dan terpercaya. ”Semua tidak dikerjakan sendirian. Kolaborasi dengan partner dan asisten. Kadang di luar Pati dan Jakarta ada bagiannya. Asalnya masih terjangkau. Kisaran kota itu lokasinya. Misalnya Jepara,” ujarnya.

Kadang bolak-balik Jakarta-Pati. Kadang klien di Pati dipertemukan dengan asistenya untuk konsultasi. ”Di Pati ini kalau belum bertatap muka ora marem. Jadi harus bisa menyesuaikan itu. Jadwalnya diatur,” imbuhnya.

Sampai sesukses ini Ayuk belajar dari pekerjaan sebelumnya. Bagaimana diajari menempaatkan diri saat bertemu orang. Harus tahu karakter orang. ”Belajar bekerja di Google Indonesia hampir tujuh tahun. Banyak ilmu yang bisa diambil. Belajar karakter tiap orang saat bertemu. Misalnya kalau klienmu api, jadilah air. Ini untuk memadamkan. Jadi, bisa menyesuaikan diri dengan klien,” pungkasnya.

Keluar dari sana 2018 lalu. Alasan keluarga yang membuat Ayuk melakukan itu. Tidak ada waktu buat keluarga. Keluar membuat WO dan studio foto. Bisnis itu, lanjut dia, bisa dikerjakan di rumah sambil megang laptop. ”Kalau di kantor tidak fleksibel. Kalau berpikir uang tidak ada habisnya. Kalau berbisnis kan fleksibel. Jadi banyak waktu untuk keluarga. Berat sebenarnya, dari staf biasa sampai punya anak buah banyak. Banyak pertimbangan. Tapi karena keluarga harus bisa menempatkan diri,” tutupnya. (adr)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP