alexametrics
Minggu, 09 May 2021
radarkudus
Home > Jepara
icon featured
Jepara

Festival Memeden Gadu Diusulkan Warisan Budaya

14 April 2021, 12: 36: 23 WIB | editor : Ali Mustofa

KEKAYAAN BUDAYA: Prosesi arak-arakan memeden gadu dan sosok Dewi Sri di Desa Kepuk, Bangsri, sebelum masa pandemi.

KEKAYAAN BUDAYA: Prosesi arak-arakan memeden gadu dan sosok Dewi Sri di Desa Kepuk, Bangsri, sebelum masa pandemi. (M. KHOIRUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Share this      

JEPARA – Arak-arakan orangan-orangan sawah di Desa Kepuk, Bangsri, didaftarkan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB). Upacara itu dikemas dalam bentuk Festival Memeden Gadu.

Jika lolos verifikasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, tahun ini mendapatkan sertifikat WBTB.

Kasi Sejarah dan Purbakala pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara Lia Supardianik menjelaskan Memeden Gadu menjadi salah satu budaya yang rutin digelar setiap tahun oleh warga Desa Kepuk, Bangsri. Nilai-nilai budaya pada festival Memeden Gadu itu masih butuh dukungan data dan dokumen penunjang. Hal itu sebagai syarat pengusulan ke kementerian melalui sistem.

Baca juga: Baru Dua Desa Ajukan STBM Plus

”Semoga hasilnya bisa lolos sidang dari kementerian. Sehingga diakui sebagai warisan budaya tak benda,” katanya.

Memeden Gadu biasanya digelar usai masa panen petani. Warga mengarak orang-orangan sawah. Dengan filosofi rasa syukur atas limpahan hasil panen. Serta harapan hasil panen berikutnya melimpah.

Sebelumnya, Jepara juga menerima tiga sertifikat WBTB dari Kemendikbud. Sertifikat itu dikeluarkan akhir 2020. Namun baru diserahkan pada 9 April lalu dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah kepada Bupati Jepara Dian Kristiandi di sela-sela proses ganti luwur di Makam Masjid Mantingan.

Ketiga budaya Jepara yang menerima sertifikat WBTB itu di antaranya Pesta Lomban, Perang Obor, dan Jembul Tulakan. Ketiganya masuk domain atau kategori budaya adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan. “Setidaknya sekitar butuh waktu setahun mulai dari pengusulan sampai keluarnya sertifikat,” imbuhnya.

Menurutnya, dengan diberikannya sertifikat WBTB itu bisa menjadi dasar pengajuan hak kekayaan intelektual. Sehingga daerah lain tidak bisa mengklaim budaya yang sejenis.

(ks/war/zen/top/JPR)

 TOP