alexametrics
Minggu, 09 May 2021
radarkudus
Home > Kudus
icon featured
Kudus
Mondok di Ponpes Al Mawaddah, Kudus (2-habis)

Jadi Mitra Tiga Kementerian

14 April 2021, 12: 15: 48 WIB | editor : Ali Mustofa

TELATEN: Santriwati Ponpes Al Mawaddah merawat tanaman di Kebun Alquran ponpes setempat.

TELATEN: Santriwati Ponpes Al Mawaddah merawat tanaman di Kebun Alquran ponpes setempat. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS - Setelah mengimami salat subuh berjamaah, pengasuh Ponpes Al Mawaddah KH. Sofiyan Hadi bergegas ganti baju. Dari semula memakai sarung dan kemeja, berubah jadi setelan resmi. Pakai kemeja dan berjas.

Pagi itu dia bergegas menuju Semarang. Berjuang meraih gelar doktor. Senin (12/4) dia mempertahankan disertasinya di hadapan para penguji Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Dengan tema "Bisnis Sufistik Studi Pemikiran Ekonomi Al Ghazali". 

Dalam studi yang menggali pemikiran ekonomi Al Ghazali itu, Sofiyan menunjukkan bahwa tokoh yang dikajinya itu telah mendamaikan dikotomi antara dunia dan akhirat. Antara bisnis dan tasawuf. Dan antara menjadi pengusaha kaya dan sekaligus masuk golongan al-Shiddiqin.

Baca juga: Yo Ngaji Yo Dagang, Gusjigang

PRAMUNIAGA: Santriwati Ponpes Al Mawaddah melayani pembeli di toko milik pondok.

PRAMUNIAGA: Santriwati Ponpes Al Mawaddah melayani pembeli di toko milik pondok. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)

Disertasi yang menghantarkan Sofian meraih gelar doktor itu linear dengan apa yang dikembangkan di pesantren miliknya. Yakni mengintegrasikan spiritualitas dunia pesantren dengan semangat enterpreneur. Hasilnya berbagai jenis unit usaha berdiri di ponpes itu. Mulai dari toko ritel, pom mini, eduwisata, outbond, hingga perkebunan. Yang kesemuanya itu dikelola santri.

Kisah sukses pesantren enterpreneur itu pun diapresiasi tiga kementerian sekaligus. Dengan terpilih menjadi mitra. Yakni dari Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Pertanian, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dari Kementerian Ketenagakerjaan, ponpes itu terpilih menjadi mitra pelaksanaan berbagai pelatihan. Atau menjadi pusat Balai Latihan Keterampilan (BLK). Yang kegiatannya tak hanya untuk santri, tapi ditujukan pula ke masyarakat umum di lokasi sekitar. Satu di antaranya mengadakan pelatihan membuat kue pada 2020 lalu dari bahan-bahan hasil pertanian. Yang bahannya diambilkan dari kebun milik pondok.

Selanjutnya menjadi mitra dari Kementerian Pertanian (Kementan). Dalam bentuk penunjukkan sekaligus pemberian SK menjadi Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S). Dalam kategori utama. Menjadi pihak yang dipercaya Kementan untuk memberikan pelatihan terkait pertanian.

Ketiga menjadi mitra dari Kemdikbud. Dalam Program Organisasi Penggerak (POP). ”Yang ke depan pihak pondok akan memfasilitasi para guru untuk mendapatkan pelatihan. Agar terlahir guru penggerak di masing-masing sekolah,” tuturnya.

Tak hanya itu, pondok tersebut juga mendapatkan sejumlah penghargaan atas komitmen dan keberhasilannya memanajemen wirausaha. Seperti mendapat penganugerahan Santri of the Year 2018 untuk kategori pesantren enterpreneur.

Sementara secara personal kiprah KH. Sofiyan Hadi juga mendapatkan sejumlah penghargaan. Mulai dari penyuluh pertanian teladan kabupaten Kudus 2011. Penyuluh pertanian teladan Provinsi Jawa Tengah 2012. Peraih penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara 2015. Hingga peraih anugerah Kalpataru kategori pembina lingkungan 2016.

Tak berhenti di situ berbagai apresiasi kembali diraih oleh alumnus universitas Al Azhar itu. Yakni peraih penghargaan Santripreneuer awards 2019. Pemenang lomba kewirausahaan pesantren BI 2020. Hingga peraih rekor pembina seminar online 32 jam dengan jumlah peserta  7.777 orang. Dari LEPRID, Lembaga Prestasi Indonesia Dunia. (tos)

(ks/lid/top/JPR)

 TOP