alexametrics
Selasa, 27 Jul 2021
radarkudus
Home > Kudus
icon featured
Kudus
Mondok di Ponpes Al Mawaddah, Kudus (2-habis)

Yo Ngaji Yo Dagang, Gusjigang

14 April 2021, 12: 09: 02 WIB | editor : Ali Mustofa

KH. Sofiyan  Hadi, Pengasuh Ponpes Al Mawaddah

KH. Sofiyan  Hadi, Pengasuh Ponpes Al Mawaddah (PONPES AL MAWADDAH FOR RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS – Pukul 05.00 pagi, Ahmad Zahir Faidoni telah bersiap. Berada di depan pom mini untuk berjaga. melayani setiap pembeli yang mampir. Saat itu dia jatah shift pagi. Berjaga dari pukul 05.00 hingga 13.00.

Tugas itu dilakukan santri Ponpes Al Mawaddah setelah mengaji. Dia sendiri bangun sekitar pukul 03.30. Lantas  BERSAMA Santi lainnya membaca Asmaul Husna di aula pondok. Setelah itu menjalankan salat tahajud.

Setelah salat tahajud mereka menunggu azan sembari membaca amalan hizib bahr dan nawawi. Baru kemudian menjalankan salat  subuh dan dan mengaji hingga pukul 06.00. Sedangkan santri yang jaga pom, mengaji tak sampai pukul 06.00

Baca juga: Truk Gas Bikin Jalan Sumber Ambyar

MULAI DARI NOL YAAA: Ahmad Zahir Faidoni, salah satu santi melayani pembeli bensin di pom mini milik pondok.

MULAI DARI NOL YAAA: Ahmad Zahir Faidoni, salah satu santi melayani pembeli bensin di pom mini milik pondok. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)

Berbeda dengan Faidoni yang menjaga pom mini setelah mengaji. Santri lainnya mendapatkan jatah piket. Bersih-bersih area pondok. Mereka tidak boleh tidur lagi. Bila nekat kena hukuman. Itu dilakukan hingga mendekati pukul 08.00 Setelah beres, barulah para santri melanjutkan aktivitas lainnya. Sebagian ada yang kuliah secara daring. Yang lain bertugas sesuai shift-nya.

Di sebelah timur pom tempat Faidoni berjaga, tepat pukul 08.00 ada dua santriwati yang menjaga toko. Toko itu menjajakan berbagai kebutuhan sandang seperti sepatu dan sandal. Satu orang terlihat berada di bagian kasir. Sementara satunya membantu pembeli mencari barang-barang yang dibutuhkan.

Persis di depan toko ada gerai. Itu menjajakan jenis minuman bernama Nyoklat. Ada satu santriwati yang berjaga. Melayani pembeli. Setiap pembeli bisa menikmati minuman pesanan itu di lokasi. Ada dua gazebo di sebelah timur gerai. Atau memesan dan membawanya pulang

Selain pom mini, toko, dan gerai minuman, terdapat pula kebun, kolam renang, hingga balai pelatihan. Itulah keunikan Pondok Pesantren Al Mawaddah di Desa Honggosoco, Kecamatan Jekulo, Kudus. Yang tak sekadar jadi tempat ngaji bagi para santrinya. Namun juga wadah belajar menjadi enterpreneur.

Semua itu berjalan secara beriringan. Baik dalam ngaji maupun ngenterpreneur. Di atur sesuai jadwal. Sehingga tak bertubrukan.

Pengasuh pondok pesantren Al Mawaddah Kudus KH. Sofiyan Hadi menyebut, konsep pengajaran di pesantrennya ini mengadopsi semangat dari sunan Kudus. Gusjigang. Yang tak sekadar mendidik mengaji, namun juga berdagang.

”Yang dalam aktuliasasinya kami terapkan dalam pengajaran di pondok. Dari spiritual, leadership, dan enterpreneur,” jelasnya.

Tujuannya mengajarkan kemandirian pada santri. Agar mereka tidak merasa inferior saat kelak terjun di masyarakat. Karena telah dididik beragam keterampilan.

Oleh karena itu, pesantren di tempatnya menyediakan beberapa unit usaha yang bisa dikerjakan semua santri. Mulai toko ritel, tempat outbound, hingga kebun yang biasa dikelola santri bernama Kebun Alquran. Nama kebun itu berdasarkan tumbuhan yang ditanam, berasal dari nama buah yang disebutkan di kitab Alquran. Seperti berbagai jenis kurma, tin, delima, anggur, bidara, dan lainnya.

Bahkan tak hanya terbatas pada penjualan secara offline. Para santri juga memanfaatkan telepon pintarnya untuk memasarkan produk secara online. ”Dari berbagai jenis usaha itu para santri mendapatkan income. Dengan begitu, mereka tidak bergantung kiriman orang tua,” ungkapnya.

Seorang santri Muhammad Luthfi Syaf, asal Mlonggo, Kabupaten Jepara, mengaku sudah empat tahun belajar di Pesantren Al Mawaddah. Selama kurun tersebut, dia bisa mendapatkan keterampilan untuk mandiri, kewirausahaan, hingga spiritual.

”Alhamdulilah, saya di sini mendapatkan banyak pengalaman. Seperti sekarang menjadi content creator (pesantren),” jelasnya yang juga didapuk menjadi pengelola Balai Latihan Kerja (BLK) Komunitas pesantren, yang tengah mengedit video di depan layar komputer. (tos)

(ks/lid/top/JPR)

 TOP