alexametrics
Minggu, 09 May 2021
radarkudus
Home > Pati
icon featured
Pati

Ada Botoh Pakai Sistem Voor Suara untuk Tebak Pemenang Pilkades Pati

10 April 2021, 11: 33: 39 WIB | editor : Ali Mustofa

Ada Botoh Pakai Sistem Voor Suara untuk Tebak Pemenang Pilkades Pati

PATI - Perjudian (botoh) pemilihan kepala desa (pilkades) di Pati ada sistem voor suara. Tergantung kesepakatan antarpenjudi.

Judi ini, dilakukan dengan menebak pemenang pilkades. Setiap penjudi memiliki peran masing-masing. Mulai dari yang berperan sebagai pemasang sampai pemegang uang (banyon). Hasil kemenangan setelah perhitungan suara akan ditransfer ke pemenang.

Penjudi menemui bandar untuk men-deal-kan kesepakatan. Setelah sepakat, uang akan ditransfer ke banyon. Perjudian ini termuat dalam 303 KUHP tentang Perjudian dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.

Baca juga: Resmi Dilantik, Hartopo Dipesan Jaga Tata Ruang dan Lawan Covid-19

Kasatreskrim AKP Ghala Rimba Doa Sirrang menyontohkan, misalnya di Desa Margorejo ada yang taruhan Rp 20 juta. Uangnya tidak ada yang pegang. Langsung ditransfer. Jadi terorganisasi. Ada timnya sendiri.

”Tahu menang kalahnya setelah perhitungan suara. Modusnya uang ditransfer di rekening bandar. Di Margorejo ada sistem nge-voor. Perbandingannya 50 sampai 500 suara,” ujarnya.

Kasatreskrim menunjuk salah satu di antara 15 tersangka itu. Misalnya selisih atau kurang dari 50 suara bagaimana. Salah satu tersangka menjawab. ”Saya kalah, Pak. Kan di-voor 50,” katanya.

Rata-rata para botoh ini, memasang taruhan Rp 10 juta. Bahkan ada yang Rp 30 juta. Terbanyak di Kecamatan Margorejo. Total barang bukti (BB) hingga mencapai Rp 96 juta.

”Bandar ini mendapat fee. Di sana (Kecamatan Margorejo, Red), bandarnya mendapat fee Rp 4 juta,” imbuhnya.

Saat menulusuri di Desa Wangunrejo, Margorejo, kemarin (9/4), tiga warga desa itu yang diwawancara mengaku tidak ada yang mengetahui tentang perjudian itu. Mereka hanya tahu kalau ada warga sekitar yang tertangkap soal botoh.

”Wah, aku ora reti, Mas. Sak retiku, wingi mok kecekel tok pelakune. Teruse ora paham, Mas. Mending takon ning Polres ae. (Wah, tidak tahu, Mas. Setahu saya, kemarin cuma pelaku tertangkap. Selanjutnya tidak paham, Mas. Mending tanya ke Polres saja),” ungkap salah satu warga yang tak mau disebut namanya. (adr)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP