alexametrics
Jumat, 23 Apr 2021
radarkudus
Home > Rembang
icon featured
Rembang

Duh! Tiga Bulan, 13 Bayi di Rembang Melayang, Ini Dia Penyebabnya

08 April 2021, 16: 13: 41 WIB | editor : Ali Mustofa

Duh! Tiga Bulan, 13 Bayi di Rembang Melayang, Ini Dia Penyebabnya

REMBANG - Angka kematian bayi neonatal (AKB) sampai Maret kemarin sudah tembus 13 kasus pada tahun ini. Jika melihat data tahun lalu, rata-rata bayi meninggal karena asfiksia. Atau kondisi ketika kadar oksigen dalam tubuh berkurang.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr R Soetrasno Rembang Agus Setiyo Hadipurwanto menyampaikan kasus AKB memang mengalami penurunan. Pada 2018, terdapat 94 kasus, kemudian melandai pada 2019 dengan total 86 kasus. Dan tahun kemarin terjadi 60 kasus. Sementara, sampai bulan Maret, sudah ada 13 kasus.

Pada 2020 lalu, kebanyakan penyebab kematian bayi kebanyakan dikarenakan asfiksia 42 anak, sepsis 9 anak, kelainan kongenital 6 anak, berat bayi lahir yang rendah 1 anak dan aspirasi 2 anak.Di sisi lain, untuk Angka Kematian Ibu melahirkan (AKI), di Rembang menunjukkan kenaikan.  Pada  2019 tercatat 6 kasus, tahun lalu menjadi 11 kasus.

Baca juga: Tabrak Jangkar, Kapal Muatan 5 Ton Ikan Nyaris Tenggelam

Penyebabnya karena penyakit penyerta, pendarahan, eklampsia dan sepsis. "Ada yang beberapa di antaranya terkena covid-19 dari kematian tersebut." katanya.Kasus kematian ibu 2020 ada 11 kasus kematian. Ada beberapa diantaranya yang diketahui positif Covid-19.

Beberapa waktu lalu, Agus sempat mengikuti pertemuan daring permasalahan ini. Yang membahas hasil audit dalam program penanggulangan kematian ibu yang ada di daerah yang kematiannya tinggi. Hasilnya dari evaluasi tersebut, kata Agus, kematian ibu terjadi karena faktor pra rumah sakit maupun faktor rumah sakit.

Pada faktor pra rumah sakit salah satunya terjadi keterlambatan merujuk. Pada faktor rumah sakit di antaranya, karena faktor keputusan klinik yang tidak tepat, monitoring tidak akurat, meninggal enam jam setelah masuk rumah sakit, dan terlambat dilakukan tindakan.

"Ini hasil dari POGI (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi). Surveynya tidak termasuk di Kabupaten Rembang. Mudah mudahan. Mungkin sebagai gambaran evaluasi untuk kita," jelasnya.

Menurut Bupati Rembang Abdul Hafidz, mengurangi AKI dan AKB tidak bisa hanya dibebankan pada petugas kesehatan saja. Peran Ibu Hamil memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan juga penting. Setidaknya empat kali selama masa kehamilan.

Angka kematian bayi meskipun sudah turun, menurut orang nomor satu di Rembang itu, tetap menunjukkan angka yang cenderung tinggi. Di Jawa tengah, lanjut dia, Rembang menduduki peringkat 10.

"Angka itu bisa turun dari tahun ke tahun. Kami sadar tidak mudah. Karena domain penanganan ini. karena kami sebagai petugas kesehatan, tetapi faktor lain. Faktor Ibu, faktor eksternal juga mempengaruhi," katanya.

Untuk menekan AKI dan AKB, bisa dilaksanakan program dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Yakni Jateng Gayeng nginceng wong meteng. Melalui posyandu atau Ketua RT/RW ikut mengamati dan memantau kondisi ibu hamil dalam empat fase. Mulai sebelum hamil, hamil, persalinan dan fase nifas. 

(ks/vah/ali/top/JPR)

 TOP