alexametrics
Kamis, 15 Apr 2021
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Selama Daring, 72 Siswa di Blora Putus Sekolah, Ini Penyebabnya

08 April 2021, 08: 27: 02 WIB | editor : Ali Mustofa

JAGA JARAK: Dinas Pendidikan dan kepolisian meninjau pelaksanaan PTM salah satu sekolah di Kabupaten Blora.

JAGA JARAK: Dinas Pendidikan dan kepolisian meninjau pelaksanaan PTM salah satu sekolah di Kabupaten Blora. (SUBKHAN/RADAR KUDUS)

Share this      

BLORA Sebanyak 72 siswa SMP Negeri dan swasta di Kabupaten Blora putus sekolah selama masa pandemi. Penyebabnya bermacam-macam. Mulai dari menikah, bekerja, ikut punk, dan alasan lainnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blora Hendi Purnomo mengaku prihatin atas kondisi seperti ini. Untuk itu, pihaknya berharap orang tua ikut memantau kondisi anaknya.

”Sangat eman sekali. Apalagi yang putus sekolah ini ada yang kelas VII, VIII, dan IX,” terangnya.

Baca juga: Izin Pembelajaran Tatap Muka di Grobogan Akhirnya Keluar

Hendi mengaku dari 72 siswa tersebut yang alasan menikah ada 10 siswa. Bekerja 21 siswa. Ikut anak punk sebanyak tiga siswa dan alasan lainnya meninggal dan sakit mencapai 37 siswa. ”Inilah salah satu faktor yang membuat Kabupaten Blora segera membuka pembelajaran tatap muka,” ucapnya.

Dimungkinkan, siswa yang drop out lebih banyak lagi. Sebab data yang ada saat ini hanya SMP. Sementara SMA belum ada. Begitu juga SD. “Mungkin kalau SD tidak ada ya. Tidak mungkin juga SD sudah menikah,” tambahnya.

Guru Bidang Kurikulum SMPN 1 Todanan Yeni Kurniawati mengaku ada sembilan siswa di sekolahnya yang keluar. Kelas VII ada dua orang. Kelas VIII ada lima orang. Dan kelas IX ada dua orang. Dengan rincian lima siswi dan empat siswa. ”Ada yang menikah. Merantau ke Jakarta. Dan dikirim ke pondok pesantren, ikut punk dan bekerja,” jelasnya,.

Pihaknya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencegah anak didiknya agar tidak putus sekolah. Sebab data mereka sudah dimasukkan ke Dapodik (Data Pokok Pendidikan). Namun, berhubung usahanya tidak membuahkan hasil, maka pihaknya memanggil wali murid untuk menandatangani surat pernyataan menarik peserta didik dari sekolah. ”Sehingga data mereka dikeluarkan dari dapodik sesuai dengan pernyataan hitam di atas putih,” jelasnya.

Selain itu, Yeni mengaku sudah melaporkan adanya sembilan siswa yang putus sekolah ke Dinas Pendidikan Kabupaten Blora untuk segera ditindaklanjuti. ”Alasan kami memberitahukan adanya siswa yang putus sekolah, agar sekolah segera dibuka,” terangnya.

Tak hanya itu, beberapa siswa pun memilih untuk putus sekolah atas desakan orang tua karena menilai di sekolah tidak ada belajar mengajar. ”Sejak pemberlakuan pembelajaran daring, sudah sembilan siswa yang memilih putus sekolah. Alasannya ada yang merantau ikut orang tuanya, menikah, ikut anak jalanan, dan masuk ke pondok pesantren,” ungkapnya. 

(ks/sub/zen/top/JPR)

 TOP