alexametrics
Kamis, 15 Apr 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Mereka yang Selamat dari Maut di Laut Karimun

Badan Gemetar, Kaki Kram, Tenang karena Ada Pertolongan

03 April 2021, 10: 05: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

PUJI SYUKUR: Petugas Polair dan delapan awak kapal yang selamat berfoto bersama di depan gerbang pelabuhan pantai Kartini Kemarin. Dua dari kiri Supardi.

PUJI SYUKUR: Petugas Polair dan delapan awak kapal yang selamat berfoto bersama di depan gerbang pelabuhan pantai Kartini Kemarin. Dua dari kiri Supardi. (AHMAD AAM/RADAR KUDUS)

Share this      

Delapan awak kapal KLM Star Indonesia terombang-ambing selama 15 menit di perairan Karimunjawa. Salah satu penumpang Supardi, 62, ini pengalaman pertamanya berlayar. Setelah kapal tenggelam, badannya bergetar dan kakinya kram.   

AHMAD AMIRUDIN, Radar Kudus

KAPAL Bahari Ekspres merapat ke dermaga 14.00 kemarin. Penumpang mulai turun. Berjalan satu-satu.  Karena jembatan pendaratan hanya muat satu orang. Mereka antre.

Baca juga: Siswi SMA NU Al Ma’ruf Kudus Masuk Seleksi AFTS 2021

Dalam antrean itu ada orang tua yang memakai kaos biru dengan sarung. Ia berjalan tanpa alas kaki. Di tangan kanannya masih terlihat bekas infus. Ia nampak masih kesulitan berjalan. Ia bernama Supardi, salah satu awak dari kapal yang tenggelam Kamis (1/4) lalu.

Wartawan koran ini bersama aparat Polair menunggu teman Supardi yang lain. Namun sampai penumpang yang turun habis, kami tak berjumpa. Ternyata rombongan korban kapal tenggelam sudah berada di depan gerbang pintu masuk pelabuhan.

Koran ini segera merapat di pintu gerbang. Di situ orang-orang tampak sehat. Namun, keadaan Supardi masih belum terlihat baik. Ketika berdiri, ia masih tampak gemetar. Saat diajak bicara pun masih terbata-bata. Kata-kata yang dikeluarkan tidak jelas. Ia juga seperti kesulitan mengingat.

Dari delapan awak kapal, Supardi adalah yang paling tua. Kini ia sudah berusia 62 tahun. Rambutnya sudah memutih. Dan kerut wajahnya sudah banyak. Tapi ia masih semangat dalam bekerja. Bahkan ia mengaku tidak bisa berenang. “Tidak bisa,” katanya datar.

Sudah 20 tahun lebih, pria berasal dari Blora bekerja sebagai awak kapal. Namun, mengalami kapal tenggelam adalah pengalaman pertama. Bahkan ia mengaku tidak tahan dengan udara dingin. Saat kapal tenggelam, badan gemetar. Kakinya kram.  Ia mengaku ketakutan. Tapi tidak terlalu. Karena awak kapal yang lain membantunya. 

Sanari, awak kapal lain, mengaku kagum dengan Supardi, sebab usia yang sudah tua dan fisik yang tidak terlalu baik tak membuatnya berhenti bekerja. Masih semangat. Bahkan tidak bisa berenang tapi tetap bekerja di laut.   

Usia Sanari memang lebih muda dari Supardi. Tapi untuk hitungan pengalaman tenggelam, Sanari lebih banyak. Ia mengaku sudah lima kali mengalami kapal tenggelam. Meski begitu, saat ini ia masih merasa khawatir. Karena sudah punya keluarga. ”Dulu masih muda, tidak terlalu takut,” katanya diiringi tawa.

Eko Sudiyarso, nakhoda kapal, menceritakan kapal berangkat Rabu (31/3) lalu. Dengan awak kapal berjumlah delapan orang. Berangkat dari pelabuhan tanjung emas Semarang menuju ke pelabuhan Ketapang, Kalimantan.

Semalaman mengarungi laut tidak ada hambatan berarti. Sampai pada siang harinya, cuaca berubah. Hujan deras. Dan gelombang laut tinggi mencapai dua meter.

Pada waktu itu, Eko masih yakin, kapal bisa mengarungi hambatan ini. Namun sesuatu yang tak diduga terjadi. Buritan kapal bocor. Air mulai masuk. Awak kapal mulai membuang airnya dengan lima unit alkon.

”Tapi air tidak bisa ditanggulangi,” katanya.

Beruntung, sebelumnya 13.00, ia sudah meminta pertolongan melalui radio navigasi.

Dengan keadaan itu, pria yang mengaku sudah mengalami tenggelam selama dua kali ini kemudian memerintahkan awak kapal untuk tenang. Kemudian mulai menggunakan pakaian pengaman. Rakit lantas dipersiapkan. Dan mereka mulai menaikinya.

Setelah 15 menit berada di rakit, Kapal kayu KM Hidayah milik Jumasah datang menjemput. Ini adalah keberuntungan. “Bantuan cepat datang,” katanya.

Dengan cepatnya bantuan yang datang, Eko sangat berterima kasih. Karena kesigapan dari penduduk sekitar dan petugas membuat mereka cepat diselamatkan.

Mereka kemudian dibawa ke Karimunjawa. Setelah semalam menginap, kemarin para awak kapal ini kembali ke Semarang. Untuk melapor ke pihak agen.

Diberitakan sebelumnya, KLM Star Indonesia tenggelam di perairan Karimunjawa. Penyebabnya adalah kebocoran beserta hujan turun disertai angin dan gelombang tinggi. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, kapal dan sembako sebanyak 394.750 ton tidak bisa diselamatkan. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP