alexametrics
Kamis, 15 Apr 2021
radarkudus
Home > Inspirasi
icon featured
Inspirasi

Sempat Jualan Usus, Kini Ekspor Tenun Ikat ke Arab

Sempat terpuruk dan banting stir jualan usus

08 Maret 2021, 15: 30: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

SARUNG TENUN: Hadiroh, perajin satung tenun menunjukkan hasil tenunannya.

SARUNG TENUN: Hadiroh, perajin satung tenun menunjukkan hasil tenunannya. (AHMAD AAM/RADAR KUDUS)

Share this      

IA datang terpogoh-pogoh, dengan mengenakan kaos putih. Lalu duduk di kursi panjang. Baru beberapa detik menempelkan pantat di kursi, ia berdiri lagi. “Sik aku lagi njangan,” katanya. Ia pamit ke dapur meninggalkan wartawan koran ini di ruang tamu.

Selang beberapa menit, ia muncul. Kali ini pakaiannya berganti: tenun troso merah marun. “Ini buatan saya sendiri,” kata Hadiroh, perajin tenun ikat sambil memegang pakaiannya. Senyumnya mengembang. Giginya terlihat.

Hadiroh, 53, mulai menenun sejak SD. Sebab di tempat asalnya, Troso Jepara menenun sudah menjadi kebiasaan. 

Baca juga: DAU Dipangkas Rp 96 Miliar, Perencanaan Dihentikan

TERAMPIL: Salah satu pekerja sedang menenun.

TERAMPIL: Salah satu pekerja sedang menenun. (AHMAD AMIRUDIN, Radar Kudus, Kudus)

Dari kebiasaan itulah, Hadiroh mulai menjual tenun hasil buatannya. Hingga sewaktu SMA, dia sudah memiliki tiga karyawan. “Dulu semangat sekali. Terinspirasi dengan teman-teman yang kaya. Kepengin seperti mereka,” katanya sambil menengang masa lalu.

Karyawan yang dipekerjakan Hadiroh tidak hanya dari Jepara. Salah satunya dari Desa Glagahwaru, Undaan, Kudus. Lewat karyawan inilah, Hadiroh bertemu dengan suaminya Somadun. “Dulu enggak kenal siapa-siapa. Lalu dipertemukan sama suami,” ujarnya sambil tertawa.  

Setelah menikah pada 1992, mereka hidup di Jepara. Hadiroh pun masih tetap menjual tenun, juga mengajar.

Baru pada 2000, mereka memutuskan pindah ke Glagahwaru. Di sinilah, Hadiroh mulai merintis lagi usahanya. “Waktu itu hanya punya alat satu. Tidak banyak modal,”ujarnya.

Karena itu, hasil produksinya tidak banyak. Hadiroh hanya mengandalkan pemesanan dari sekitar rumah.

Kemudian pada 2003, seingat Hadiroh, ada acara pemerintah kabupaten yang menghadirkan bupati Amin Munajat. Hadiroh ikut serta di dalam acara itu.

Dalam acara itu, dia curhat kepada Amin Munajat. Orang nomor satu di Kudus kala itu pun merespon dengan memberi empat alat tenun dan satu alat pengeboman. “Alhamdulillah. Dari situ produksi mulai banyak,” katanya.

Hadiroh mulai memberdayakan tetangga sekitar rumah. Respon warga cukup baik. Pada 2019, ia sudah memiliki sebelas karyawan. “Karena rata-rata petani, mereka lebih senang menenun di rumah,” katanya.  

Selama enam belas tahun, hasil tenun dikirimkan ke Bali.  Namun, usaha miliknya mulai goyah, ketika pandemi. Toko langganan di Bali akhirnya tutup. 

Karena tidak ingin menyusahkan karyawan, dia tetap menerima kain yang sudah ditenun. Akibatnya hasil tenunan menumpuk di rumah. “Ada 3000 kain yang nganggur di kamar,”akunya.

Oleh karena itu, Hadiroh mulai memikirkan pemasukan lain. Dia lantas mencoba jualan usus krispi. Namun hanya bertahan dua bulan. Ia kesulitan.

Setelah berhenti jualan, ia ke Troso dan  bertemu dengan salah satu muridnya. Atas saran muridnya, ia akhirnya membuat tenun ikat berupa sarung. “Saya diajari sampai bisa,” kata Hadiroh.

Dia lalu mulai membeli alat untuk menenun. Lalu mengumpulkan pekerjanya lagi. “Dari 11 orang, hanya delapan orang yang berminat,” akunya.

Pembuatan sarung tenun ini cukup mudah.”Motifnya tidak rumit. Tinggal mengikuti pola yang sudah dibuat,” jelasnya sambil menunjukkan sarung tenunnya. 

Dengan bantuan delapan pekerja itu, Hadiroh mulai memproduksi tenun berupa sarung. Dengan panjang tujuh meter dan lebar 70 cm. Dalam sehari satu pekerja bisa mengerjakan satu tenun sarung. “Diambil setiap seminggu sekali,” terangnya.

Tenun ikat yang diberi nama Hadiroh Alfairus ini ada tiga jenis motif. Yakni motif yang bertuliskan Gorurah Faas Super, Dunia Mukalah Super, dan Goruroh Wadiah Super. Harga yang dipatok menyesuaikan motif tulisan. ”Tidak tahu maksudnya. Itu permintaan dari Arab sana,”jelasnya.   

Dari penjualan itu, Hadiroh bisa mendaptakan untung kira-kira Rp 15 juta Rp 20 juta dalam sebulan. “Itu pendapatan kotor. Kalau bersih, Rp 6 juta,”ujarnya.

(ks/*/mal/top/JPR)

 TOP