alexametrics
Kamis, 15 Apr 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Melihat M. Anshori Membuat Pupuk Organik Cair

Manfaatkan Urine Kelinci karena Melimpah

06 Maret 2021, 09: 27: 02 WIB | editor : Ali Mustofa

MANFAATKAN LIMBAH: M. Anshori menunjukan pupuk organik cair (POC) berbahan urine kelinci yang telah dikemas.

MANFAATKAN LIMBAH: M. Anshori menunjukan pupuk organik cair (POC) berbahan urine kelinci yang telah dikemas. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)

Share this      

Di tangan M. Anshor, urine kelinci tak sekadar kotoran tanpa guna. Dia mengubah menjadi pupuk organik. Saat ini, telah diminati hingga Bali.

EKO SANTOSO, Radar Kudus

SIANG itu, laki-laki bernama M. Anshori itu, dia menerima telepon dari seorang kepala sekolah di Kudus. Untuk mengisi pelatihan pengelolaan sampah di komunitas sekolah-sekolah adiwiyata.

Baca juga: Demokrat Grobogan Tegas Tolak KLB dan Dukung AHY

Tak hanya terlibat dalam komunitas bank sampah, Anshori juga masih menyempatkan diri memproduksi serta mengkampanyekan pupuk organik. Yang satu di antaranya terbuat dari urine kelinci.

Siang itu, dia mengaku sedang tidak memproduksi. Sebab, produksi hanya dilakukan tiga pekan sekali. Menurutnya, ide membuat pupuk organik cair (POC) berbahan urine kelinci bermula dari ketidaksengajaan. ”Semula hanya memproduksi pupuk kasgot (bekas maggot),” jelasnya.

Akan tetapi, akhir 2020 lalu ada tawaran dari teman yang berternak kelinci. Untuk membuat POC dari urine kelinci. Karena jumlahnya melimpah. Akhirnya, dia penasaran dan mencoba.

Wartawan koran ini, juga diajak ke halaman samping kiri rumah. Di situ ada beberapa kandang. Yang pertama ada kandang lalat hitam. Lalat tersebut yang menjadi cikal bakal pembuatan pupuk kasgot (bekas maggot). Maggot sendiri merupakan larwa dari lalat hitam.

Di dalam kandang, terdapat sampah organik seperti dedaunan pisang. Yang menurut Anshori, sampah itu akan diuraikan lalat hitam.

Kandang berikutnya, berjarak sekitar 20 meter. Di sebelah kiri kandang lalat hitam. Terlihat ada beberapa ayam yang di kandang tersendiri. Selain itu, juga ada tumpukan pupuk kasgot.

Sementara di sekitarnya, terdapat drum-drum berwarna biru, ember, dan botol-botol. Yang menjadi peralatan untuk membuat POC urine kelinci.

Anshori sedikit mempraktikkan cara membuat POC urine kelinci. Pertama-tama harus menyiapkan urine kelinci dan ditaruh wadah. Bisa menggunakan ember. Kemudian dicampur dengan molase. Diaduk sampai sekiranya merata.

Setelah selesai, selanjutnya ia memberi tambahan EM-4 ke urine dan molase yang telah tercampur tadi. EM-4 menurutnya difungsikan sebagai tambahan mikroba. Setelah selesai, langkah berikutnya memasukkan hasil campuran ke drum. Untuk difermentasi.

Sambil menunjuk drum-drum yang telah terisi, Anshori menambahkan, bila proses fermentasi membutuhkan waktu dua pekan. Dengan catatan drum tertutup rapat. Namun diberi selang. Untuk sirkulasi gas yang dihasilkan di dalam drum, agar bisa keluar. Sementara bagian ujung selang yang di luar, dimasukan ke botol. Yang telah terisi air.

Tak cukup di situ. Setelah dua pekan, Anshori akan memasukkan empon-empon ke dalam drum. Fungsinya, agar POC yang dihasilkan juga berfungsi sebagai pestisida nabati. ”Selain menjadi pupuk, juga sebagai pestisida,” terangnya.

Sementara untuk pemakaian, setiap 30 ml POC urine kelinci dicampur dengan dua liter air. Kemudian bisa dipakai dengan cara disemprotkan ke tanaman.

Menurutnya, POC urine kelinci memiliki banyak manfaat. Pupuk organik tersebut, dinilai lebih baik dibandingkan pupuk kimia.

Karena pupuk kimia memiliki efek jangka panjang yang akan merusak unsur hara tanah. Menyebabkan tanah mengalami ketergantungan. Dan semakin kritis. Sementara pupuk organik yang dibuatnya itu, akan berdampak semakin baik dalam penggunaan jangka panjang. ”Sekarang trennya pupuk organik. Karena lebih baik untuk tanah dan tanaman,” jelasnya.

POC urine kelinci tersebut, dijual Rp 25 ribu per botol. Sampai saat ini, produknya telah dibeli petani dari berbagai tempat. Mulai dari petani kencur di Kudus, petani jahe di Pati, petani porang di Purwakarta, hingga petani di Bali. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya