alexametrics
Kamis, 15 Apr 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Kabareskrim - Wakabareskrim Polri Asli Blora

Sambal Tempenya Enak, Tetangga Tak Menyangka Jadi Polisi

26 Februari 2021, 10: 49: 15 WIB | editor : Ali Mustofa

PUNYA KENANGAN UNIK: Agus Soni Setiawan, adik Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto di rumah kelahiran petinggi polisi itu.

PUNYA KENANGAN UNIK: Agus Soni Setiawan, adik Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto di rumah kelahiran petinggi polisi itu. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)

Share this      

Setelah lulus SMA dulu, Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto sempat berpikiran menjadi pegawai pos. Karena ingin segera bekerja, agar bisa membantu saudara. Sedangkan Wakabareskrim Polri Irjen Pol Syahardiantono tak diketahui keluarganya saat dulu daftar sekolah kepolisian. Wartawan Jawa Pos Radar Kudus Eko Santoso berbincang dengan keluarganya di Blora kemarin.

EKO SANTOSO, Radar Kudus

SEKILAS, tak ada yang istimewa di rumah bercat putih yang terletak di Jalan Kolonel Sunandarno 45, Mlangsen, Blora, itu. Sederhana dan tidak terlalu luas. Sekitar 150 meter persegi. Namun, memiliki kenangan yang terjaga hingga kini. Meski tidak banyak terpampang foto.

Baca juga: Punya Tiga Progdi Pertama dan Satu-satunya di Kudus

SEDERHANA: Sahari Purnomo, kakak Wakabareskrim Polri Brigjen Pol Syahardiantono bersama istrinya di depan foto waka bareskrim saat masih Akabri.

SEDERHANA: Sahari Purnomo, kakak Wakabareskrim Polri Brigjen Pol Syahardiantono bersama istrinya di depan foto waka bareskrim saat masih Akabri. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)

Di situ, Agus Oni Setiawan, 49, anak bungsu dari 12 bersaudara tinggal. Dia mengingat betul kakaknya yang selalu tegas padanya. Mengajari tentang kedisiplinan. Mulai dari hal-hal kecil seperti tidur, hingga ketekunan membantu orang tua.

Kakaknya kerap disapa Andri oleh teman sekolah dan lingkungan keluarga. Dia, Komjen Pol Agus Andrianto, kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri saat ini. Yang baru dilantik beberapa hari lalu.

Agus Soni Setiawan atau yang kerap disapa Soni bercerita, semua saudara laki-lakinya selalu ada nama Agus. Sehingga mereka dipanggil dengan nama selain agus untuk membedakan. ”Meski banyak dipanggil Agus, namun di sini panggilan kakak (Agus Andrianto, Red) adalah Andri," terangnya.

Soni menambahkan, kakaknya itu sejak kecil hampir tak pernah merepotkan orang tua. Justru sering membantu. Bahkan, yang menyangkut pekerjaan rumah sekalipun. Seperti memasak, marut kelapa, hingga mencuci pakaian. Tak pandang bulu. Bahkan, Komjen Pol Agus Andrianto dikenalnya pintar masak. ”Sambal tempenya enak," imbuhnya.

Tak hanya itu, sejak ditinggal kedua orang tuanya, saat Soni masih SMP, kabareskrim Polri itu, menggantikan peran sebagai orang tua. Banyak masukan hingga didikan yang didapatnya. ”Saat itu saya merasakan betul ketegasan kakak," ungkapnya.

Dengan kondisi demikian, membuat kakaknya sempat langsung ingin kerja setelah lulus sekolah menengah. Mendaftar sebagai pegawai pos. ”Karena beberapa saudara juga kerja di situ," jelasnya. Tujuannya, agar langsung bisa mencari uang. Demi membantu saudara-saudaranya.

Namun nasib berkata lain. Sebelum terlanjur mendaftar sebagai pegawai pos, rekan-rekan sekolah kakaknya itu, mengajak mendaftar di akademi kepolisian (akpol). Agus Andrianto pun lolos. Anggota keluarganya tak menyangka. Jadi, saat kumpul bersama saudara-saudaranya kerap disindir. ”Mau jadi pegawai pos, kok malah jadi polisi," kenangnya.

Meski sudah menjadi salah satu pejabat tinggi kepolisian, Oni mengaku, kakaknya tetap berkomunikasi baik dengan keluarga. Bahkan, selalu menyempatkan pulang saat libur. ”Saat pulang, yang pertama selalu ziarah ke makam orang tua," imbuhnya.

Selain kabareskrim, Wakil Kabareskrim Polri Irjen Pol Syahardiantono juga asli Blora. Wartawan Jawa Pos Radar Kudus juga mengunjungi keluarga dan rumahnya saat kecil. Alamatnya di Gang Gunung Lawu, Lorong I, RT 4/RW3, Kelurahan Tempelan, Blora Kota.

Wartawan koran ini bertemu Sahari Purnomo, 59, kakak salah satu petinggi di Polri itu. Dia berkisah, adik bungsunya itu selalu sederhana. Bahkan, saat pulang ke rumah tak pernah memakai seragam. Justru kerap memakai celana pendek dan kaus oblong.

Anak ke empat dari tujuh bersaudara tersebut, menyebut adiknya akrab dipanggil Anton di lingkungan keluarga dan tetangganya. Itu untuk membedakan dia dan saudara lainnya. Karena semua dinamai Sahar. Meski ada nama tambahannya.

Dalam kacamata keluarga, wakabareskrim kelahiran Blora, 2 Februari 1970 itu, dikenal bersahaja. Saat pulang ke rumah menyempatkan diri membaur di lingkungan masyarakat. Juga tak pernah memamerkan diri. Jadi, tak banyak yang tahu jika Anton seorang petinggi Polri.

Purnomo melanjutkan, rumah yang saat ini ditinggali, juga menjadi tempat kelahiran Brigjen Pol Syahardiantono.

Dia mengaku, dulu tak pernah terbesit di benaknya adiknya bakal menjadi polisi. Terlebih enam bersaudara lainnya tak ada yang menjadi aparat. ”Tak pernah cerita ke keluarga kalau dia (Brigjen Pol Syahardiantono, Red) daftar polisi," terangnya didampingi istrinya, Kismiyati kemarin.

Seingat Purnomo, adiknya itu justru menyukai olahraga ketika sekolah. Hobinya voli dan badminton. Namun memang terkenal aktif. Karena mengikuti organisasi. Seperti OSIS dan pramuka. ”Dia alumni SMA Negeri 1 Blora angkatan 1988," ujarnya.

Tetapi, diakuinya Anton tak menonjol secara akademik. Biasa-biasa saja. Seperti siswa pada umumnya. Namun, ada beberapa hal yang selalu dia apresiasi. Adiknya tidak pernah neko-neko. ”Seingat saya hampir tidak pernah nakal," ungkapnya.

Meski tak memiliki saudara yang menjadi aparat kepolisian, Purnomo menduga, adiknya mewarisi jalan sang ayah. Memang bukan polisi. Tapi, semacam tentara zaman kolonial. ”Saya tahu itu dari cerita ibu saya,” ujarnya. Sayang, ayahnya menolak saat ditugaskan di Kalimantan. Sehingga karirnya terhenti.

Memiliki saudara dengan jabatan cukup prestisius di kepolisian, membuat Purnomo bangga. Namun sekaligus khawatir. Sehingga selalu berpesan, agar adiknya amanah menjalankan tugas. ”Tentunya berharap bermanfaat bagi banyak orang," harapnya.

Hingga kini Purnomo, mengakui jika sang adik tetap sama. Patuh dan berbakti kepada orang tua. Selain selalu menyempatkan pulang saat libur, juga kerap mengirim obat-obatan untuk sang ibu. Yang sedang sakit tua.

Selain itu, bukti baktinya juga terlihat selalu berziarah ke makam bapaknya. ”Saat pulang, pertama langsung ke makam bapak," imbuhnya.

(ks/lin/top/JPR)

 TOP