alexametrics
Minggu, 07 Mar 2021
radarkudus
Home > Kudus
icon featured
Kudus

Tak Kunjung Dinormalisasi, Warga Kudus Gotong Royong Keruk Lumpur

23 Februari 2021, 11: 30: 57 WIB | editor : Ali Mustofa

KERUK: Warga Undaan Lor bergotong-royong mendorong lumpur di saluran pembuangan air Pintu Ju 31 B menuju Sungai Wulan.

KERUK: Warga Undaan Lor bergotong-royong mendorong lumpur di saluran pembuangan air Pintu Ju 31 B menuju Sungai Wulan. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS - Warga Undaan Lor, Undaan, Kudus, bergotong-royong mengeruk sedimentasi di saluran pembuangan air Pintu Ju 31 B. Karena terjadi pendangkalan hingga tiga meter. Sehingga pintu saluran air yang mengarah ke Sungai Wulan tersebut tidak berfungsi. Akibatnya, banjir masih menggenangi Undaan Lor dan sekitarnya.

Pantauan wartawan koran ini, di lokasi ada sekitar 60 warga. Ada 37 orang yang masuk ke saluran air yang mengalami pendangkalan tersebut. Mereka mengeruk lumpur. Didorong menuju Sungai Wulan. Sementara warga lainnya menunggu giliran, bergantian.

Mereka menggunakan papan, pohon pisang, dan perlengkapan seadanya. Difungsikan pula dua perahu yang dimuati beberapa orang. Diposisikan melintang. Bagian ujung-ujungnya diberi tali. Kemudian ditarik. Tujuannya untuk mendorong lumpur.

Untuk memperlancar, difungsikan dua pompa. Pompa tersebut menyedot air dari genangan sawah di bagian utara pintu saluran. Airnya diarahkan ke pintu saluran untuk turut mendorong endapan.

Kadus I Desa Undaan Lor Sudarto mengatakan pintu tersebut satu-satunya saluran pembuangan air di Undaan Lor. Menjadi akses pembuangan bagi desa lain. Mulai dari Undaan Tengah, Undaan Kidul, Wates, hingga Ngmplak. Sehingga jika tidak bisa berfungsi, maka banjir yang menggenangi pemukiman dan sawah di area tersebut tak akan surut.

Akibat sedimentasi, saluran pembuangan lebih tinggi dari pemukiman warga. Sehingga mustahil membuka Pintu Ju 31 B. “Ketinggiannya tiga meter dari pemukiman. Jadi lumpur harus dikeruk dulu,” jelasnya. Supaya pintu bisa dibuka, dan air dapat dialirkan.

Jika tidak kunjung dikeruk, lumpur akan mengeras. Dan semakin kesulitan untuk disingkirkan. Untuk itu pihaknya bersama warga berinisiatif mengeruk.

”Saluran ini belum pernah dinormalisasi. Sempat ditengok zaman pak Mustofa dulu. Namun belum ada tindak lanjut,” tambahnya.

Sudarto menambahkan warga mulai bekerja bakti sejak pukul 07.30. Hingga pukul 11.00, sudah berhasil mengurangi endapan. Dari yang setinggi tiga meter, tinggal 2,5 meter. Dia mengakui upaya tersebut belum maksimal. “Untuk itu, kami lanjut nanti sore. Bahkan besok kemungkinan lagi. Sampai endapan berkurang, dan pintu air bisa dibuka,” jelasnya.

Pjs Kepala Desa Undaan Lor Sunyadi menambahkan bila sampai saat ini 340 rumah di desanya masih terendam. Karena air yang menggenang tidak bisa dibuang. Akibat saluran Pintu Ju 31 B belum bisa dibuka. ”Sebagian pembuangan diarahkan ke Sungai Juana. Namun sangat lambat,” terangnya.

Sehingga mau tidak mau harus mengeruk endapan di saluran air Pintu JU 31 B tersebut. Karena saluran tersebut dinilai paling cepat. Sayangnya, sejauh ini tidak bisa berfungsi akibat sedimentasi.

Untuk itu pihaknya berharap ada rehabilitasi atau normalisasi saluran tersebut dari pihak terkait. Selain itu, dia menghendaki pula ada bantuan pompa polder. Agar di saat pintu pembuangan tidak bisa dibuka, pembuangan air tetap dapat dilakukan. (tos)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP