alexametrics
Minggu, 07 Mar 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Lebih Dekat dengan Sanggar Pasinaon, Pati

Ada Kelas Seni dan SMP/MTs, Siswa Tak Dipungut Biaya

23 Februari 2021, 11: 08: 41 WIB | editor : Ali Mustofa

PEDULI BUDAYA: Haydar Fachrudin (kiri) dan Moh. Salman Haydar (kanan) berada di Sanggar Pasinaon di Desa Kertomulyo, Trangkil, Pati.

PEDULI BUDAYA: Haydar Fachrudin (kiri) dan Moh. Salman Haydar (kanan) berada di Sanggar Pasinaon di Desa Kertomulyo, Trangkil, Pati. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)

Share this      

Gelisah akan nasib kelestarian budaya, dua pemuda ciptakan Sanggar Pasinaon di Desa Kertomulyo, Trangkil, Pati. Di sanggar ini berbagai kelas seni budaya dilaksanakan. Ada juga kelas untuk siswa-siswa SMP dan MTs. Mereka tidak dipungut biaya.

ANDRE FAIDHIL FALAH, Radar Kudus

TABUHAN musik gamelan pertama menggema di awal cerita. Malam itu, pukul 20.00. Cuacanya cerah. Langitnya dipenuhi bintang. Tak ada setetes hujan turun. Sekitar 10 orang di halaman pendopo sanggar itu. Kisaran enam orang bermain musik di teras. Alasnya keramik putih.

BIAR LANCAR: Haydar dan Salman mengerahkan tim sebelum mulai pentas seninya di Desa Kertomulyo, Trangkil, Pati, kemarin

BIAR LANCAR: Haydar dan Salman mengerahkan tim sebelum mulai pentas seninya di Desa Kertomulyo, Trangkil, Pati, kemarin (SANGGAR PASINAON FOR RADAR KUDUS)

Ada gong, kendang, dan alat musik lainnya. Enam orang memainkannya. Suaranya beriringan. ”Tung tak dung gleng.” Terdengar nyaring.

Di halaman sanggar juga ada yang sedang menari. Jumlahnya lima orang. Mereka berjogetan sambil diiringi alunan musik gamelan.

Sanggar itu, ada di Desa Kertomulyo, Trangkil, Pati. Luas bangunan sanggarnya sekitar 20-40 meter persegi. Bangunannya terbuat dari kayu. Warnanya cokelat tua. Pintunya juga terbuat dari kayu. Tapi ada ukiran unik khas Pati. Anggotanya kisaran 50 orang. Itupun, dari karangtaruna desa.

Sejak November tahun lalu sanggar itu dibentuk. Pengelolanya Haydar Fachrudin dan Moh. Salman. Pendekatan demi pendekatan, gerakan demi gerakan telah keduanya gunakan. Pancing muda-mudi melalui karang taruna desa. ”Bagi kami ini suatu tantangan. Mengambil peran sebagai anak muda. Kemudian menginisiasi karang taruna,” kata Haydar.

Perlunya dorongan dari bawah untuk mengenalkan generasi muda. Akan pentingnya budaya yang perlu dimuncukan.

”Kami mencoba untuk hadir mengedukasi anak-anak SD dan MTs. Kemudian memberikan kelas-kelas gratis. Itu, untuk adik-adik SD dan MTs selama masa pandemi. Satu Minggu satu kali pelatihan,” terangnya.

Sebagai penggiat seni, Haydar merasa terbebani. Melihat muda-mudi yang tak kenal dengan budayanya. Tak kenal dengan kesenian maupun tradisi. ”Dengan melihat keadaan di desa kami anak-anak kecil hari ini. Mereka tidak paham lagi akan budayanya. Tidak faham akan sejarahnya. Leluhurnya. Mereka semua tidak paham. Kemudian membuat kami secara beban sejarah,” tuturnya.

Dia teringat kata-kata yang selalu menempel pada Bung Karno (presiden pertama Indonesia). Kata itu ”Jasmerah”, lanjut Haydar, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!

”Arti dari kata Jasmerah. Itu, yang selalu menggebu di kepalaku,” imbuhnya.

Manusia akan sangat berdosa, jika tidak menceritakan berkenaan sejarah. Baik sejarah nasioal, sejarah kota, hingga sejarah desa sendiri.

”Maka dari sanalah kemudian kami membuat hal-hal dan cerita-cerita. Terutama saat pementasan terkait pengetahuan, mitos-mitos, dan sejarah di desa. Kemudian itu nanti bisa menjadi pembelajaran bagi mereka,” ungkapnya.

Pendekatan yang digunakan, lanjut sosok yang juga Ketua Sanggar Pasinaon ini adalah pendekatan kesenian. Oleh karena itu namanya sanggar. Dan digabung menjadi Sanggar Pasinaon. Setelah mengajar kurang lebih 1.5 jam. Kemudian dilanjut dengan sejumlah kelas kesenian. Di antaranya kelas menari, kelas musik, kelas teater, dan kelas seni rupa.

”Dua pengajarnya masih kami ambil dari orang-orang luar. Kelasnya seni tari sama teater. Karena melihat di desa kami, masih kurang orang yang mampu untuk mengawal itu,” paparnya.

Sanggar Pasinaon lahir dari kegelisahan pemuda desa terhadap realitas pendidikan dan minimnya pengetahuan budaya bagi generasi muda. Berawal dari kegelisahan pemuda desa atas realitas pendidikan yang makin tidak jelas dan makin mirisnya pengetahuan seni, budaya, dan sejarah bagi para remaja. Maka lahirlah Sanggar yang diberi nama Sanggar Pasinaon.

Sanggar Pasinaon ini berada di bawah naungan Karangtaruna Desa Kertomulyo. Lahir November tahun 2020. Proses kelahirannya, karena melihat realita pendidikan di Indonesia, utamanya di Pati yang tidak maksimal untuk anak-anak.

Sanggar Pasinaon memiliki tagline 'Merawat Tradisi Memayu Hayuning Generasi'. Harapannya melalui sanggar ini para generasi desa dapat mengetahui berbagai kesenian, budaya dan sejarah yang ada di desa.

Hingga lahirlah kesenian baru. Baruno namanya. Kesenian rakyat yang dilahirkan oleh para pemuda Desa Kertomulyo, Trangkil, Pati di bawah Sanggar Pasinaon.

”Menceritakan pengambilan keputusan pimpinan yang mencla-mencle. Hingga menyebabkan konflik di tengah masyarakat,” ujarnya.

Kemudian, lanjut Haydar, Sang Baruno datang memerangi nafsu keserakahan dan kesewenang-wenangan yang ada. Akhirnya Baruno beserta pasukannya memenangkan hati masyarakat. Kemudian dapat mengusir aura negatif dalam diri pimpinan tersebut. ”Baruno di sini ditampilkan sebagai sosok makhluk berkepala lele. Namun, memiliki rambut jerami. Filosofi ini dipilih sesuai dengan anasir yang ada di Desa Kertomulyo. Yakni, sektor perikanan, laut, tambak, serta sektor pertanian,” tutupnya. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP