alexametrics
Minggu, 07 Mar 2021
radarkudus
Home > Grobogan
icon featured
Grobogan
Usaha Menghentikan Tambang Ilegal di Grobogan

Ditagih Penambang Modal, Pemerintah Malah Beri Topi Pelindung

22 Februari 2021, 11: 58: 43 WIB | editor : Ali Mustofa

SUDAH DILARANG: Suasana lokasi penambangan galian C di Desa Pagergunung, Desa Katekan, Brati, setelah menelan korban jiwa.

SUDAH DILARANG: Suasana lokasi penambangan galian C di Desa Pagergunung, Desa Katekan, Brati, setelah menelan korban jiwa. (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Share this      

GROBOGAN - Peristiwa warga meninggal akibat galian C di Kecamatan Brati, Grobogan, kembali terjadi Rabu (17/2). Kejadian itu ketiga sejak Maret 2020. Total korban dari kejadian itu sembilan orang. Pemprov Jateng pernah sosialisasi agar penambang beralih ke profesi lain. Warga balik menagih modal, pemprov malah beri topi keamanan.

Tebing setinggi 15 hingga 20 meter itu memanjang hingga sekitar 100 meter. Lokasinya di Dusun Pagergunung, Desa Ketekan, Brati, Grobogan. Bebatuan kars kuning tampak jelas bekas penggalian. Sebagian tampak terdapat cekungan-cekungan.

Penggalian oleh penambang membuat tebing bagian atas menjorok. Sehingga, ketika bagian bawah digali, sangat rawan ambrol.

Sekitar 50 meter dari total panjang tebing bawah lebih dalam dari bagian yang lain. Bagian itulah yang menjadi tempat tertimbunnya korban di tengah bebatuan kars.

Tidak peduli apakah musim hujan atau musim kemarau, galian C di pegunungan Kendeng itu terus saja menelan korban. Seolah tidak ada pembelajaran.

Maret 2020, ada enam korban meninggal. Mereka tenggelam di kubangan bekas galian C di Dusun Katekan, Desa Katekan, Brati, Grobogan. Dari enam korban itu, lima santri dan seorang kyai.

Lima bulan berselang, Agustus 2020, tiga nyawa kembali melayang. Masih di desa yang sama. Kali ini di Dusun Pasiraman. Ketiganya penambang dari warga setempat.

Seolah tidak kapok, Rabu (17/2) lalu, seorang penambang kembali meninggal di galian C di Dusun Pagergunung, di desa yang sama, Katekan. Korban bernama Tukiman. Berasal dari desa yang sama. Namun jarak rumah korban dengan lokasi galian sekitar 5 kilometer.

Menurut Kepala Desa Katekan, Karmijan, galian C ilegal yang berlangsung di desanya sudah berlangsung jauh sebelum menjabat kepala desa. Seingatnya sekitar 20 tahun lalu. Warga setempat, dikatakannya sudah tahu kalau apa yang dilakukannya dilarang, tetapi tekat nekat.

”Mungkin sekitar 20 tahunan. Kalau minta izin sudah pasti tidak mungkin tidak diizinkan. Kalau dapat izin ya pasti pakai alat berat,” kata dia.

Karmijan menerangkan, sebenarnya warga setempat sudah tahu pegunungan kendang yang melintasi desanya itu terlarang untuk penambangan. Sebab, warga juga pernah mendapatkan sosialisasi dari pihak Pemprov Jateng yang menangani penambangan.

”Pernah ada sosialisasi. Karena memang masuk kawasan hutan lindung. Jadi tidak boleh ada penambangan,” terangnya.

Menurutnya, warga juga pernah diajak ikut studi banding di Tuban. Disarankan beralih pekerjaan yang lain. ”Seperti berternak begitu,” terangnya.

Namun, karena warga menuntut modal, pihak otoritas tersebut tidak bisa berbuat banyak. Pihak otoritas hanya bisa memberikan topi pengaman, agar setidaknya bisa lebih terlindungi ketika menggali. Warga pun kembali melakukan penambangan. Tetapi sembunyi-sembunyi.

Alasan warga, kata Karmijan, karena frustasi. Warga penambang tersebut sehari-hari kebanyakan adalah petani buruh dan kuli bangunan. Warga yang meninggal pekan lalu juga seorang kuli bangunan yang biasanya merantau ke Jakarta. Karena saat ini kondisi pandemi, dia pun tidak bisa ke ibu kota.

”Niatnya itu daripada nganggur, mending menggali. Dapat sedikit tidak apa-apa yang penting ada pemasukan. Malah kena musibah,” terangnya.

Pemilik lahan, jelas Kades, sebenarnya juga sudah melarang tanah miliknya itu ditambang. Pemilik sadar lokasi penambangan berbahaya. Tetapi para warga tersebut tetap memohon agar bisa menambang.

Kini, tujuh titik penambangan di Desa Katekan telah ditutup. Titik yang pekan lalu menelan korban pun sebenarnya sudah ditutup. Bahkan, enam bulan terakhir tidak ada aktivitas penambangan berarti di titik itu. Namun, lagi-lagi, warga tetap nekat karena alasan ekonomi.

Karmijan menerangkan, setiap satu truk, sopir membayar kepada penambang sebesar Rp 150 ribu. Dari total tersebut, pemilik lahan kebagian Rp 20 ribu. Sedangkan Rp 130 ribu sisanya dibagi dua penambang, masing-masing Rp 65 ribu.

”Setahu saya segitu. Sopirnya terserah dijual berapa. Infonya, kalau ke Purwodadi dihargai Rp 300 ribu,” paparnya.

Dari sekitar tujuh ribu warga Desa Katekan dengan 1600-an KK, Karmijan mengatakan hanya sekitar 15 atau 20 warga saja yang turut menambang. Semenjak kejadian warga meninggal tertimbun tebingan galian pun sudah banyak yang berhenti. Meski, tetap saja ada beberapa yang kembali mencuri-curi kesempatan. 

(ks/zen/ful/top/JPR)

 TOP