alexametrics
Minggu, 07 Mar 2021
radarkudus
Home > Blora
icon featured
Blora
Furnitur Akar Jati Blora

Akar Jati Blora Tembus Pasar Ekspor ke Dubai hingga Afrika

21 Februari 2021, 18: 18: 09 WIB | editor : Ali Mustofa

DARI LIMBAH: Akar jati yang semula tak berhaga disulap jadi kursi.

DARI LIMBAH: Akar jati yang semula tak berhaga disulap jadi kursi. (SUBEKAN/RADAR KUDUS)

Share this      

BLORA - Akar jati Blora semula hanya limbah. Namun, kini menjadi sangat bernilai. Berkat sentuhan tangan kreatif perajin, bonggolan jati itu, disulap menjadi berbagai bentuk. Bahkan banyak diminati hingga luar negeri.

Untuk mendapatkan kerajinan akar jati Blora tidaklah sulit. Hampir di setiap rumah pinggir jalan nasional Blora-Cepu, Kecamatan Jepon dan Jiken berjajar sentra pengolahan limbah kayu jati ini. Mulai yang kecil hingga besar.

Salah satunya di Desa Tempelmahbang, Jepon. Saat memasuki desa ini, sudah tampak bongkahan-bongkahan akar jati di sepanjang jalan. Sebagian masih tergeletak. Sebagian lainnya digarap para perajin untuk disulap menjadi furnitur. Ada yang sudah jadi. Bentuknya berbagai macam. Ada meja, kursi, tempat bunga, hiasan di atas meja, dan lainnya.

Jawa Pos Radar Kudus mencoba mengulik dan melihat proses produksi tersebut. Salah satunya milik milik Agung Prasetya dan Priyo. Rumahnya berdempetan. Namun keduanya sama-sama memiliki profesi sebagai perajin bonggolan jati.

Halaman rumahnya luas. Puluhan limbah akar jati bergelempangan. Ini yang masih belum dipoles. Sementara yang sudah setengah jadi dan siap dikirim ke pembeli, ditempatkan di dalam rumah. Ada juga yang sudah dibungkus rapi. Siap dikirim ke Bali dan Amerika Serikat.

Agung, perajin akar jati dari CV Surya Jati mengaku, bonggol jati itu biasanya dibuat meja, kursi, tempat bunga, ukiran, hingga dekorasi. ”Pada intinya untuk hiasan,” tegasnya.

Akar jati memiliki kelebihan. Seperti bentuknya natural. Jadi, tak bisa ditiru. Setiap akar punya bentuk berbeda. Selain itu, tentunya awet. ”Itu salah satu keunikan dan keistimewaan akar jati,” jelasnya.

Selama ini, peminat akar jati yang dia olah sebagian besar dari luar negeri. Mulai dari Dubai, Amerika Serikat, sejumlah negara di Eropa, hingga ke Benua Afrika. Untuk pasar luar negeri, dia mematok harga mulai USD 50 hingga 2.500.

”Ekspor paling satu bulan satu kontainer. Sebab, prosesnya tidak bisa cepat. Kan memang bahannya besar dan berat,” ujarnya.

Baca Juga: Begini Cara Bersihkan Akar Jati Agar Jadi Furnitur Mbois

Supriyo, salah satu perajin dari Desa Tempelmahbang, Jepon, Blora, menambahkan, untuk akar jati ukuran kecil biasanya dijadikan tempat bunga, mangkok, piring, asbak, digabung menjadi kursi sudut, dan sebagainya. Tempat bunga menjadi yang sedang ngetren saat ini.

”Limbah akar jati ini istimewa. Benar-benar kuat dan tahan rayap. Bentuknya juga berbeda-beda. Sangat artistik,” ucap anak ketujuh dari sembilan bersaudara ini.

Harga furnitur ini bervareasi. Tinggal ukuran dan bentuknya. Paling kecil asbak dihargai Rp 25 ribu hingga Rp 45 ribu. Kalau akar jati ukuran 2 meteran sekitar Rp 500-600 ribu. ”Ini kondisinya setengah jadi. Alias belum finishing,” bebernya.

Untuk yang kecil-kecil, banyak diminati pasar dalam negeri. Seperi Blora sendiri, Kudus, Jogjakarta, Jakarta, Bali, hingga Lombok.

Dalam Satu bulan, dia bisa mengirim hingga empat rit atau 200 akar jati. Nilainya Rp 100 jutaan. ”Tergantung orderan juga. Tapi sudah lebih dari cukup untuk menghidupi tenaga dan keluarga,” jelasnya.

Ayah empat orang anak ini berharap, pemerintah bisa membimbing seperti di daerah lain. Sebab, jika kirim akar jati dalam kondisi setengah jadi atau mentah, Blora tidak dapat pajak. Berbeda jika sudah finishing. Selain harganya meningkat tiga kali lipat. Pemerintah juga dapat pajak.

”Dari sini meja setengah jadi Rp 500 juta.Dari sana (daerah tujuan) bisa dijual Rp 2,5 hingga Rp 3 juta setelah finishing,” imbuhnya. 

(ks/zen/sub/top/JPR)

 TOP