alexametrics
Minggu, 07 Mar 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Melihat Derry Dharma Membuat Celengan Gypsum

Dari Kuli Bangunan Bisa Ramaikan Wisata Kampung Pelangi

18 Februari 2021, 09: 57: 15 WIB | editor : Ali Mustofa

KREATIF: Derry Gudha Dharma mempraktikkan cara pembuatan celengan gypsum.

KREATIF: Derry Gudha Dharma mempraktikkan cara pembuatan celengan gypsum. (SUBEKAN/RADAR KUDUS)

Share this      

Rendahnya upah kuli bangunan membuat Derry Gudha Dharma berinovasi. Dia membuat celengan dari bahan gypsum. Hasilnya, banyak diminati.

SUBEKAN, Radar Kudus

NAMANYA Derry Gudha Dharma. Pengrajin celengan dari bahan gypsum. Unik dan menarik. Selain untuk sarana menabung, karyanya juga dimanfatkan sebagai sarana belajar, mewarnai.

Di rumahnya di RT 4/RW 1, Dusun Nglorok, Desa Bangsri, Jepon, Blora, dia dan istrinya bergelut dengan gypsum. Disulap menjadi berbagai bentuk. Seperti mainan anak-anak. Tapi ini beda. Mereka membuat celengan dengan berbagai karakter.

Derry -sapaan akrap Derry Gudha Dharma- mengaku, memilih bahan gypsum sebagai bahan dasar celengan karena lebih mudah didapat. Prosesnya juga tidak sulit. Lebih cepat dibanding tanah liat, semen, atau lainnya.

Sementara keputusannya menjadi pengrajin celengan, lantaran dia ingin mandiri dan hidup di Blora bersama istrinya. Sebab, selama belasan tahun hidupnya dihabiskan untuk merantau sebagai buruh bangunan. Di samping jauh dari rumah, penghasilannya juga tak menentu.

Berkat ketekunan dan kreativitasnya, ayah dua anak ini berhasil keluar dari keterpurukan. Kini, menjadi pengrajin kriya terkemuka di desanya. Bahkan di Kecamatan Jepon. Dia membuat celengan gypsum secara otodidak. Cetakan aneka karakter juga hasil buatan sendiri.

”Saya memang suka memahat. Awalnya bingung. Mau buka usaha apa yang bisa dilakukan di rumah. Lantas terpikir untuk bikin celengan dari gypsum. Karena mudah. Kalau dari semen atau tanah liat prosesnya lama,” ucapnya sambil membuat celengan.

Produk celengan karyanya terbilang melek pasar. Celengan berbentuk karakter tokoh kartun terbukti diminati banyak konsumen. Selain sebagai sarana menabung, celengan karyanya juga dimanfaatkan sebagai cenderamata atau hiasan rumah.

”Ada banyak karakter buatan saya. Ada Snow White, Doraemon, Minion, Naruto, Upin-Ipin, dan banyak lagi. Tergantung pesanan juga,” jelasnya.

Untuk membuat celengan ini tidaklah sulit. Peratalannya juga sederhana. Meliputi, cetakan, cuter, mangkok, sendok, kaca, gysum, dan air. Caranya, setelah semua bahan siap, gypsum ditaruh dalam mangkok. Kemudian diberi air. Lantas diaduk hingga merata. Setelah dirasa cukup, dituangkan ke dalam cetakan. Selanjutnya diratakan. Diulangi dua hingga tiga kali. Tergantung ketebalan. Setelah beberapa menit baru dibuka dan siap finishing.

”Hasilnya lalu dirapikan pakai cuter. Setelah itu bisa diwarnai sesuai selera,” terang suami dari Susetyani ini.

Ayah dari Diega Widyadarma dan Hygia Gudha Darma ini mengaku, dalam sehari dia bisa menghasilkan 50 celengan. Karyanya itu, diasanya diambil pembeli dari Kabupaten Rembang, Pati, Kudus, Seragen, Ngawi, dan Blora sendiri.

Selain hasilnya untuk kebutuhan sehari-hari, dia juga memiliki niat untuk mengangkat potensi kerajinan Desa Bangsri. Sebab, saat ini desanya menjadi desa wisata Kampung Pelangi.

Derry mengaku, usahanya ini sudah dilakoni sejak tiga tahun lalu. Dari bahan satu karung tepung gypsum (18 kg) mampu membuat aneka karakter celengan berukuran kecil 80 hingga 90 buah. Sedangkan untuk ukuran sedang dan besar, menyesuaikan kebutuhan serta bentuk.

”Setiap hari rata-rata mampu membuat 50 buah celengan berbagai karakter. Seperti Doraemon, polisi, Semar dan lainnya,” terangnya.

Selama ini, kebanyakan peminat lebih suka yang masih polosan alias belum dicat. Kemudian diwarnai sendiri. Seperti yang dijual di Alun-alun Blora. Dengan begitu, pembeli bisa berkreasi sesuai selera.

”Saya sediakan cat aneka warna. Jika ingin mewarnai di tempat sambil menikmati suasana malam di alun-alun atau di kampung pelangi dan di rumah kami,” tambahnya.

Harga celengan buatannya terbilang murah meriah. Untuk yang polos dan ukuran kecil Rp 2.500 hingga Rp 6 ribu. Sedangkan untuk ukuran besar yang sudah dicat mencapai Rp 40 ribu.

Derry mengaku, sejak dibukanya destinasi wisata kampung pelangi oleh Pemerintah Desa Bangsri, peluang usaha untuk maju lebih besar. Apalagi jadi satu paket kampung wisata. Para wisatawan bisa belajar dan membuat celengan secara langsung. Hasilnya bisa untuk oleh-oleh.

”Adanya destinasi wisata Kampung Pelangi menjadikan berkah dan peluang mempromosikan celengan gypsum ini. Saya secara pribadi sangat mendukung adanya Kampung Pelangi,” imbuhnya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP