alexametrics
Senin, 08 Mar 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Siswa MAN 2 Kudus Ciptakan Alat Medigate

Kasihan Lihat Satpam Mal Hitung Keluar Masuk Pengunjung

17 Februari 2021, 16: 00: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

MENGAGUMKAN: Hanifah Tuffahati mewakili empat kawannya tim peneliti MAN 2 Kudus (kanan) bersama guru pembimbing Widayanto dan pelatih Nurcholis menunjukkan maket simulasi alat Medigate kemarin.

MENGAGUMKAN: Hanifah Tuffahati mewakili empat kawannya tim peneliti MAN 2 Kudus (kanan) bersama guru pembimbing Widayanto dan pelatih Nurcholis menunjukkan maket simulasi alat Medigate kemarin. (INDAH SUSANTI/RADAR KUDUS)

Share this      

Lima siswa MAN 2 Kudus berhasil membuat medigate atau alat pendeteksi kerumunan. Temuan ini juga meraih The Top Contender dalam ajang Akademi Madrasah Digital (AMD) 2020, Direktorat KSSK Madrasah Dirjen Pendis Kementerian Agama.

INDAH SUSANTI, Radar Kudus.

PEMBATASAN orang di mal menginspirasi tim peneliti MAN 2 Kudus membuat medigate. Yakni alat untuk menghitung keluar masuk orang di mal. 

Awalnya, guru MAN 2 Kudus menceritakan kisah satpam mal yang menghitung pengunjung secara manual. Setelah itu, terbesit ide untuk membuat alat deteksi kerumunan secara otomatis. Tim tersebut, menyusun konsep dan dapat pengarahan dari guru pembimbing Widayato dan Heru Sugianto.

Tim itu terdiri dari lima siswa. Yakni, Hanifah Tuffahati, Falih Nugrahanto, Kharisma Nurul Hidayah, Tiffa Kusuma Dewi, dan Nur Fadhila Sari. Alat itu berupa people counter berbasis  IoT (Internet of Thing).

Salah satu tim Hanifah mengatakan, alat ini juga diikutkan lomba ajang Akademi Madrasah Digital (AMD) 2020 yang diselenggarakan Direktorat KSSK Madrasah Dirjen Pendis, Kementerian Agama. Lewat sistem mediagate tersebut, jumlah pengunjung akan terpantau otomatis dalam aplikasi android. Sehingga jumlah pengunjung bisa terpantau real time karena terhubung internet dalam sistem.

”Aplikasi ini terkoneksi internet, jadi jumlah pengunjungnya bisa terlihat langsung. Juga untuk mengetahui, jumlah pengunjung sudah padat atau belum. Sehingga, mal atau toko bisa buka dengan tenang tanpa kekhawatiran terjadi kerumunan,” terangnya.

Proses pembuatan alat tersebut dua bulan. Setelah lolos seleksi masuk penyaringan dari 139 peserta, diambil 22 peserta. Salah satunya tim MAN 2 Kudus.

Kemudian, panitia menyediakan bahan baku untuk membuat konsep. Yang disediakan, mikro control, lampu LED dua unit, power supply, kabel pelangi, dan akrilik. Bahan itu dibuat maket simulasi Medigate.

”Lomba awal dari pengiriman proposal 14 Juli 2020, kemudian seleksi-seleksi hingga diambil lima besar masuk finalis. Kami secara virtual untuk lombanya, dan ada pendampingan dari panitia penyelenggara selama dua minggu,” terangnya. Dari lomba ini, MAN 2 Kudus mendapatkan penghargaan The Top Contender.

Widayanto mengatakan, alat medigate ini terhubung dengan aplikasi medigate. Ke depan, aplikasi tersebut juga akan didaftarkan di google play store.

Alat ini, kata diam tidak hanya mendeteksi jumlah pengunjung saja, tetapi tetap bisa dimanfaatkan untuk pengelola gedung atau ruang pertemuan untuk kontrol jumlah pengunjung.

”Sudah ada yang berminat untuk mengembangkannya, tetapi kami belum bisa melepas. Masih ada yang perlu dibenahi dan disempurnakan,” ungkapnya.

Kepala MAN 2 Kudus Shofi mengatakan, alat ini bermanfaat di masa pandemi. Harapannya siswa MAN 2 Kudus terus membikin karya yang dapat digunakan masyarakat. 

(ks/mal/top/JPR)

 TOP