alexametrics
Senin, 08 Mar 2021
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan

Lupa Hari Libur

15 Februari 2021, 12: 08: 58 WIB | editor : Ali Mustofa

Baehaqi, Direktur Jawa Pos Radar Kudus

Baehaqi, Direktur Jawa Pos Radar Kudus (RADAR KUDUS)

Share this      

TANGGAL 12 Februari 2021. Saya ngantor di Radar Kudus. Masuk gasik. Pukul 07.30 sudah berada di lantai II, ruang podcast, yang menghadap ke jalan. Sampai sejam kemudian tidak ada seorang pun karyawan yang menampakkan batang hidungnya.

Pagi itu saya sudah baca koran. Melahap berita-berita seputar Tahun Baru Imlek 2572. Tahun Kerbau Logam. Banyak ucapan selamat berwarna merah. Namun sama sekali tak terpikir hari itu libur nasional. Entahlah. Mungkin saya terbiasa kerja tanpa hari libur.

Saya ke ruang rapat. Di situlah biasanya saya menulis. Di depan komputer ada seamplop berkas. Disiapkan oleh Etty Muyassaroh, manajer keuangan yang sudah menjadi sekretaris perusahaan Radar Kudus. Isinya ada yang tidak biasa. Pakta Integritas. Harus saya tanda tangani atas nama direktur Radar Kudus.

Bunyi pakta itu antara lain, ”Berjanji untuk patuh dan menjalankan operasional perusahaan sesuai AD ART, peraturan perusahaan, Kode Tata Laku di Grup Jawa Pos.” Poin lainnya, ”Menjadi contoh dan teladan yang baik, secara khusus bagi segenap karyawan PT Kudus Intermedia Pers.”

Berkas serupa saya tanda tangani atas nama direktur Radar Semarang.

Begitulah. Bekerja keras sampai lupa hari libur saja tidak cukup. Harus dilandasi etika yang baik. Dilaksanakan dengan integritas tinggi.

Tahun Kerbau Logam menunjukkan adanya tanda-tanda perbaikan ekonomi. Tidak seperti tahun sebelumnya. Tahun Tikus Logam menggambarkan situasi yang berat. Faktanya terjadi resesi ekonomi. Di tahun Kerbau Logam unsur tanah lebih kuat. Logam tidak lagi tenggelam. Tetapi, berada di tanah. Emas tidak mesti di permukaan. Harus dicangkul. Digali lebih dalam. Butuh kerja keras untuk mendapatkan hasil.

Begitu tahu kalau Jumat lalu itu libur, saya hubungi Etty Muyassroh. Biasanya dialah yang mengingatkan setiap kali ada hari libur. ”Ternyata hari ini libur, kowe (kamu) tidak ngomong,” kata saya di WA. ”Lho, saya kira njengenan (Anda) sudah tahu. Maaf Pak,” jawabnya.

Sudah terlalu lama saya lupa hari libur. Jawa Pos Radar Kudus dan Radar Semarang dan seluruh koran di bawah naungan Jawa Pos juga tetap terbit. Semua orang redaksi bekerja seperti biasa. Pada malam Imlek itu, saya bersama para redaktur Radar Kudus bertarung untuk menyajikan berita terbaik yang terbit esok. Setelah itu masih berdiskusi sambil makan ayam goreng hingga menjelang tengah malam.

Pada hari  libur Imlek, Radar Kudus mem-blow up pengungkapan kasus pembunuhan dalang Anom Subekti sekeluarga di Rembang. Kapolda Jateng Irjen Pol Achmad Lutfi SH SSt MK mengumumkan langsung tersangkanya. Yaitu Sumani yang sering menjadi penabuh gamelan saat Subekti mementaskan keseniannya. Dia beraksi seorang diri. Membunuh Anom, istri, anak, dan cucu. Peristiwanya terjadi 3 Februari 2021 (Baca Radar Kudus 12 Februari 2021).

Saya prihatin. Subekti adalah pencipta lagi Rembang Bangkit. Pemilik Sanggar Seni Ongkojoyo itu, dibantai oleh orang yang merasakan kebaikannya. Saya kenal baik. Beberapa kali ngobrol di rumahnya.

Malam itu hati saya semakin tersentuh. Radar Semarang juga menyiapkan berita pembunuhan. Seorang perempuan muda dihabisi nyawanya di hotel. Mayatnya dimasukkan lemari. Diduga pembunuhnya juga orang dekat yang merasakan belaian kasihnya (Baca koran Radar Semarang 12 Februari 2021).

Pembuhunan serupa belum lama berselang. Pada 11 November 2020 seorang perempuan yang masih berstatus siswa dibunuh di hotel. Juga oleh orang yang sudah dikenal baik. Sering diberi uang. Mereka bertetangga.

Sehari setelah itu terjadi peristiwa senada. Seorang perempuan dihabisi juga oleh orang dekat. Pembunuh itu merasakan jasanya. Menikmati cintanya. Hanya karena jengkel, perempuan tersebut dianiaya sampai meninggal. Mayatnya dibuang di semak-semak.

Saya ngeri. Dalam situasi pandemi, tanpa ada pembunuhan saja nyawa berguguran. Angka kematian akibat Covid-19 belum berhenti. Yang wafat karena penyebab lain juga banyak. Masih ditambah pembunuhan. Kayaknya nyawa sekarang semakin murah.

Saat membuat tulisan ini Jumat lalu, seorang budayawan terkenal Pri GS wafat. Kabarnya beliau terkena serangan jantung. Saya ikut berduka. Dulu pemilik nama asli Suprianto adalah seorang wartawan yang andal. Sampai akhir hayatnya beliau masih menjadi penulis, penyair, dan kartunis. Beliau menulis juga di Jawa Pos.

Saya mendapat kabar Pak Pri wafat dari Dirut Jawa Pos Leak Koestiya. Mereka berteman. Sama-sama seniman. Menjadi kartunis. Sama-sama berkecimpung di koran. Dulu mereka sering bertemu di Semarang. Kemudian berjauhan ketika Leak bergabung dengan Jawa Pos di Surabaya sampai sekarang. Sedangkan Pak Pri tetap di Semarang sampai akhir hayatnya. Pak Leak mengirim karangan bunga ke rumah duka.

Kami segenap karyawan Jawa Pos Radar Kudus dan Radar Semarang yang belum lama memperingati Hari Pers Nasional ikut berbela sungkawa. Kematianmu meninggalkan gading. Semangat dan kerja kerasmu menginspirasi. Integritasmu menjadi tauladan bagi kami. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP