alexametrics
Senin, 08 Mar 2021
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Unas Dihapus, Disdikpora: Sekolah Tak Usah Malu Nilai AKM-nya Jelek

07 Februari 2021, 09: 27: 31 WIB | editor : Ali Mustofa

Haryanto, Kabid SMP Disdikpora Jepara

Haryanto, Kabid SMP Disdikpora Jepara (DOK PRIBADI)

Share this      

JEPARA – Tahun 2021 Ujian Nasional (Unas) resmi dihapus. Sebagai gantinya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggantinya dengan sistem Assement Kompetensi Minimum (AKM). Bila Unas yang memperoleh nilai adalah para siswa yang dinilai, saat pelaksanaan AKM adalah satuan pendidikannya. Menyikapi itu, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) Kabupaten Jepara meminta sekolah tak perlu malu bila memperoleh penilaian jelek saat AKM.

Kepala Disdikpora Agus Tri Harjono melalui Kepala Bidang SMP, Haryanto mengungkapkan terkait AKM, pihaknya belum bisa memastikan kapan akan dilaksanakan. ”Awalnya yang SMP kan Maret, lalu diundur jadi April. Lalu diundur lagi antara September atau Oktober,” ungkap Haryanto.

Terkait pelaksanaan AKM, Haryanto menerangkan sistemnya sama seperti prosesi Ujian Nasional Berbasis Komputer. Namun yang dinilai dalam AKM bukan lagi para siswanya. Melainkan satuan didiknya. ”Para siswa nanti diminta untuk mengisi soal dan diberi waktu persoalnya. Sistemnya sih mirip seperti UNBK,” ungkapnya.

Terkait peserta AKM, persekolah hanya diwakili oleh 50 peserta. 45 sebagai peserta utama, 5 siswa lainnya sebagai peserta cadangan. Semua peserta tersebut ditentukan oleh pihak Kemendikbud. ”Jadi kami maupun sekolah tidak bisa memilih siapa saja yang mau diikutkan AKM,” kata Haryanto.

Soal-soal yang ditanyakan dalam pelaksanaan AKM berupa soal assessment literasi dan numerasi, survey lingkungan, dan survey karakter. ”Pertanyaan detailnya kami belum tahu seperti apa. Tapi kami sudah melakukan pelatihan bagi guru-guru atau kepala sekolah di Jepara untuk menyiapkan siswanya dalam menghadapi AKM ini,” tambah Haryanto.

Terkait hasil penilaian selama AKM, Haryanto menerangkan sistem penilaiannya diambil rata-rata sekolah terlebih dahulu. Kemudian dibandingkan dengan rata-rata kabupaten lalu naik lagi ke tingkat provinsi hingga nasional. ”Jadi dari rata-rata nilai sekolah itu dibandingkan hingga tingkat nasional. Sekolah itu dapat nilai berapa se kabupaten maupun provinsi bahkan nasional,” terangnya.

Ia meminta pihak sekolah di Jepara tak perlu risau bila memperoleh nilai buruk saat AKM dilaksanakan. dari penilaian itu, pihaknya mengaku bisa melihat pembenahan seperti apa yang perlu dilakukan di sekolah tersebut. (rom)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP