alexametrics
Senin, 08 Mar 2021
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan

Dulu Sarungan, Kelak juga Sarungan

01 Februari 2021, 09: 47: 56 WIB | editor : Ali Mustofa

Baehaqi, Direktur Jawa Pos Radar Kudus

Baehaqi, Direktur Jawa Pos Radar Kudus (RADAR KUDUS)

Share this      

SEHARI-hari kalau sedang di rumah saya sarungan (mengenakan sarung). Melakukan berbagai pekerjaan. Ke pasar pun sering memakai pakaian berlubang dua itu. Apalagi kalau tidur. Praktis. Kalau salat, mengaji, dan melakukan kegiatan keagamaan ditambah kopiah hitam sebagai penutup kepala.

Sarungan itu sudah turun-temurun. Ayah saya  juga bersarung. Menurut cerita orang tua, kakek dan buyut juga. Saya tidak pernah bertemu beliau. Sedang ibu saya sampai wafat mengenakan kain panjang. Sebagian orang mengistilahkan jarik/jarit seperti yang dikenakan R.A. Kartini. Bajunya kebaya. Kalau bepergian atau berkegiatan keagamaan ditambah dengan kerudung.

Sarung sudah menjadi ikon kaum Nahdlatul Ulama (NU) yang kemarin memperingati hari lahirnya ke-95. Tapi apakah yang bersarung itu lantas disebut orang NU? Tidak serta-merta begitu. Demikian sebaliknya. Orang NU tidak mesti bersarung. Saya menjadi NU karena keturunan. Struktural.

Sejak kecil atau mungkin sejak di kandungan, saya telah menjalani ajaran-ajaran ke-NU-an. Salat, mengaji, tahlil, selamatan, mauludan, manaqiban, dan lainnya. Kalau salat Subuh juga baca qunut.

Saya bangga menjadi orang NU, seperti yang diajarkan kedua orang tua saya, meskipun tak pernah tercatat sebagai anggota NU. Mengenakan seragam NU juga tidak pernah. Apalagi sebagai pengurus.

Memang pernah ikut-ikutan berorganisasi. Misalnya ketika sekolah di SLTP dan SLTA ikut berkegiatan di IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama), organisasi di bawah NU. Ketika kuliah ikut PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Tapi juga tidak sampai memiliki kartu tanda anggota. Di IPNU dan PMII hanya terbawa arus teman-teman yang sama-sama keturunan NU.

Meski demikian, ada yang terkesan sampai sekarang. Pernah menyelenggarakan pengajian umum yang juga menjadi ciri khas orang NU. Rencananya akan dihadiri oleh seorang kiai dari kota. Woro-woro sudah disebar sejak sebulan sebelumnya.

Ketika itu pengajian harus berizin. Saya sudah mati-matian mengurusnya. Dimarahi habis-habisan oleh aparat yang berwenang. Sampai puku 21.00 izin tak keluar.

Warga sudah terlanjur datang. Kambing sudah dipotong untuk makan malam. Saya nekad naik panggung. Memberi sambutan yang sudah saya persiapakan dua minggu sebelumnya. Seorang kiai lokal desa saya minta naik podium menggantikan kiai dari kota. Paginya saya dipanggil aparat. Dimintai pertanggungjawaban. Lengkap dengan rekaman. Saya tidak bisa menyerahkan rekaman, karena memang tidak ada yang mereka minta.

Sejak dulu orang NU memiliki fanatisme. Loyalitasnya sangat tinggi. Ke-NU-annya melekat erat. Membudaya. Mereka bertindak atas hati nurani. Sampai sekarang NU kuat juga karena budaya itu. Para kiai terus-menerus menjaga kelestariannya.

Kekuatan NU bukan di organisasi. Bukan di seragam. Bukan pula di kartu anggota. Tetapi di budaya tersebut. Guyonannya Gus Dur (KH Abdurrahman Wahib) semasa masih menjadi ketua umum PB NU, kartu anggota itu sedang dicetak tetapi sampai sekarang tak kunjung jadi.

Barangkali organisasinya tidak serapi lembaga yang lain. Tetapi kekuatannya luar biasa. Orang-orang NU memiliki andil besar dalam pembentukan bangsa dan negara ini. Bahkan perang melawan penjajah. Para kiai yang mengobarkan semangatnya. Salawat Badar yang dikarang oleh Habib Ali Muchsin di Banyuwangi juga untuk mengobarkan semangat perang itu. Ali Muchsin sendiri berasal Tuban.

Potongan syairnya adalah, ”Ilahi najjina waksyif, jami’a adziyyati washrif (Ya Allah, selamatkan kami dari semua yang menyakitkan, tipu daya, dan musuh-musuh).” Yang dimaksud adalah penjajah. Lagu ini terus dilantunkan kaum Nahdliyyin dalam pengajian-pengajian serta puji-pujian di langgar dan masjid.

Belakangan, peran NU itu semakin nyata dalam mengobarkan semangat nasionalisme dan kebangsaan. Sebut saja Habib Luthfi Bin Yahya (Pekalongan), Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf (Solo), KH Bahaudin Nur Salim (Rembang). Dan, masih banyak lagi.

Para ulama NU mengubah wajah negeri ini. Dulu, ketika saya kecil, aparat pelit mengeluarkan izin pengajian umum. Sekarang mereka justru menyelenggarakan. Mereka sowan kiai. Menghadiri setiap pengajian. Sekarang umaro’ berada dalam kehidupan keagamaan. Agama berada dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ke depan, peran kaum sarungan akan semakin nyata. Kini, mereka telah berada dalam semua segi kehidupan bermasyarakat. Perpolitikan nasional, ekonomi, teknologi, dan budaya. Di politik telah memiliki bargaining position yang tinggi. Dalam setiap pergantian kepemimpinan pemerintahan, NU selalu menjadi perhitungan.

Tinggal bagaimana NU sebagai organisasi memperkuat lembaga dan memodernisasi manajemen. Selamat memperingati Harlah ke-95 NU. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP