alexametrics
Senin, 08 Mar 2021
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan
Pengalaman Positif Covid-19 (8-Habis)

Sembuh, Ingin Meniru Pak Hendi

25 Januari 2021, 10: 51: 16 WIB | editor : Ali Mustofa

Baehaqi, Direktur Jawa Pos Radar Kudus

Baehaqi, Direktur Jawa Pos Radar Kudus (RADAR KUDUS)

Share this      

KETIKA saya terkena Covid-19 pemerintah sedang menggaungkan semangat vaksinasi dan donor darah plasma konvalesen. Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi ingin melakukan keduanya. Semangatnya hebat. Ingin melindungi diri untuk menyembuhkan orang lain.

Saya memiliki kesamaan dengan Pak Hendi. Sama-sama pernah terkena covid. Repotnya luar biasa. Setiap hari diliputi kekhawatiran akan kematian. Sehat pun tidak bisa hidup normal. Harus dikarantina. Tidak boleh ke mana-mana. Tidak boleh ketemu orang. Selama 14 hari lagi. ”Ini pengalaman yang luar biasa terutama spiritual,” kata Pak Hendi (Lihat Radar Semarang 17 Januari 2021).

Baca juga: Saling Berbagi Bersama Anak

Baca juga: Makanan Ditaruh di Ujung Tangga

Baca juga: Lebih Kejam dari Ibu Tiri 

Saya ingin meniru Pak Hendi. Kalau beliau bisa, mestinya saya bisa. Bedanya beliau wali kota. Bisa memerintah anak buah yang langsung menangani vaksinasi. Sedangkan saya rakyat jelata. Yang menunggu perintah mereka.

Ternyata, keinginan Pak Wali Kota untuk ikut vaksinasi tidak serta terpenuhi. Persyaratan tidak memungkinkan. Ada satu yang mengganjal. Karena telah sembuh dari covid tubuhnya telah memiliki kekebalan. Kalau divaksin akan terjadi jeruk makan jeruk. Percuma.

Baca juga: Sempat Negatif, kemudian Positif lagi

Baca juga: Mungkinkah Tertular Kali Kedua?

Baca juga: Diledek Malah semakin Senang

Rupanya kegagalan vaksinasi itu justru menambah semangat Pak Hendi untuk membantu sesama. Kekebalan yang dimiliki bisa ditrasnfer ke orang lain yang sedang berkutat melawan covid. Melalui donor plasma konvalesen. Beliau punya bekal. Memenuhi syarat telah sembuh dari covid.

Pak Hendi pernah positif Covid-19 awal November 2020. Saat masih kampanye pemilihan kepala daerah. Menjelang penyampaian visi-misi. Rakyat Semarang sempat was-was. Saat itu sudah ada calon kepala daerah yang wafat akibat covid

Beliau yang semula dirawat di RSUD KRMT Wongsonegoro segera dipindahkan ke RSUP Kariyadi. Sepuluh hari dirawat di sana akhirnya sembuh. Kesembuhan itu antara lain juga berkat donor plasma konvalesen. “Terapinya beberapa kali suntikan. Alhamdulillah bisa sehat dan jenggelek. Padahal tadinya lemes,” ujarnya.

Karena pernah merasakan belas kasihan orang lain melalui donor plasma itulah dia ingin melakukannya. Pengambilan darah telah dilakukan awal Desember 2021.

Dia mengimbau agar orang yang pernah terkena Covid-19 mendonorkan plasma darahnya. Saya tergerak memenuhi imbauan itu. Saya minta tolong kepada Pemimpin Redaksi Radar Kudus Zaenal Abidin untuk mencarikan jalan. “Bisanya di Semarang. Di Kudus belum ada,” ujar Zaenal yang juga pernah terkena covid tanpa gelaja. Kini dia telah sembuh.

Saya kemudian beralih minta tolong kepada Pemimpin Redaksi Radar Semarang Arif Riyanto. “Aku mau donor konvalesen. Gimana caranya,” kata saya. Ternyata persyaratannya jlimet. Usia saya pas-pasan. Yaitu 60 tahun 3 bulan. Sedangkan persyaratannya 60 tahun.

Ada juga persyaratan yang mutlak belum bisa saya penuhi. Saat itu saya masih dalam masa isolasi. Sedangkan persyaratannya harus 14 hari setelah masa isolasi itu. Masih ada sederet lagi yang belum tentu saya lulus screening.

Meskipun tidak bisa membantu orang lain dengan donor plasma konvalesen, saya tidak kecewa. Masih banyak cara untuk menolong sesama yang terkena covid. Menyemangati para korban, memberi saran, dan mentransfer pengalaman juga ada gunanya. Yang penting saya sembuh dulu dan tidak menulari orang lain.

Menjelang berakhirnya isolasi tiba-tiba muncul pergolakan batin. Ada ketakutan. Khawatir kalau hasilnya masih positif. Kalau itu terjadi ledekan teman-teman bisa semakin keras. Penderitaan semakin panjang. Kalau tidak swab lagi, status tetap positif covid.

Saya memilih menutup isolasi 14 hari dengan swab lagi. Agar bisa PD, saya terlebih dahulu tes antigen. Itulah rapid test antigen pertama yang saya lakukan. Tanggal 11 Januari 2021. Alhamdulillah hasilnya negatif. Gambaran untuk bebas covid terbuka lagi.

Hasil rapid test antigen itu terlihat pada garis merah yang terdapat pada alat. Kalau terlihat satu garis berarti nonreaktif. Sedangkan dua garis berarti reaktif. Alat itu diberikan kepada saya. Sampai sekarang masih saya simpan. Untuk kenang-kenangan.

Pagi harinya, saya lari ke Semarang. Sudah dijadwalkan swab PCR di RSUD KRMT Wongsonegoro. Malam hasilnya sudah keluar. Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryati Rahayu yang mengirim lewat WA kepada Iskandar GM Radar Semarang. Iskandar meneruskan kepada saya. Suratnya dua lembar. Pada lembar kedua itulah tertulis hasil pemeriksaan negatif. Terima kasih Bu Ita, panggilan Hevearita.

Saya langsung bersyukur. Perjuangan panjang telah berakhir. Swab pertama positif, Kedua negatif. Ketiga positif. Rapid antigen negatif. Swab PCR Keempat negatif. Malam itu bisa tidur nyenyak.

Kebahagiaan saya itu diikuti oleh teman-teman lain di Radar Kudus dan Radar Semarang. Beberapa teman yang positif menutup isolasi dengan rapid antigen. Hasilnya negatif. Kondisi mereka juga sehat. Alhamdulillah. (*/habis)

(ks/top/top/JPR)

 TOP