alexametrics
Senin, 08 Mar 2021
radarkudus
Home > Kudus
icon featured
Kudus
Pengabdian kepada Suami dan Negeri (2)

Pintar-Pintar Tempatkan Diri, di Keluarga dan Instansi

24 Januari 2021, 13: 02: 24 WIB | editor : Ali Mustofa

MULTITASKING: Brigadir Mashita Cherani Asaat Said Ali, istri Kapolres Kudus AKBP Aditya Surya Dharma mengenakan baju santai saat ditemui di rumah.

MULTITASKING: Brigadir Mashita Cherani Asaat Said Ali, istri Kapolres Kudus AKBP Aditya Surya Dharma mengenakan baju santai saat ditemui di rumah. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS – Tentu tak mudah menjalani peran ganda. Menjadi pimpinan dalam organisasi dan menjadi istri dalam keluarga. Terlebih sambil mengemban tugas negara.

Tetapi, raut wajahnya sering terlihat ceria. Ucapannya lugas. Pembawaanya rileks. Menunjukan bahwa dirinya tak ada beban. Dia, Brigadir Mashita Cherani Asaat Said Ali, S.H, ketua Bhayangkari Cabang Kudus saat ini.

Menurutnya, kunci dari semua itu adalah pintar-pintar menempatkan diri. Baik di dalam keluarga maupun instansi. ”Kapan saatnya menjadi polwan yang harus siap mengemban tugas. Kapan menjadi pemimpin di Bhayangkari yang harus mengkoordinasi anggotanya dan kapan menjalani hidup sebagai istri lengkap dengan beban-bebannya,” ungkapnya.

Semua harus dijalani sesuai porsinya masing-masing. Juga manajemen waktu yang baik. Agar tidak keteteran. Bahkan, meski tinggal di Kudus bersama suami, Kapolres Kudus AKBP Aditya Surya Dharma, semula Mashita masih menjalani tugas sebagai polwan di Biro SDM Polda Sulawesi Tengah. Sembari melakoni peran sebagai ketua Bhayangkari Cabang Kudus.

Tapi, beruntunglah dia bisa mutasi. Terhitung sejak November 2020 lalu, dia sudah pindah tugas di Polres Kudus. Artinya, jarak lokasi dinas dan tempat tinggal tak lagi jadi kendala. ”Sekitar Oktober lalu saya mutasi dari Polda Sulteng ke Jawa Tengah. Sebulan kemudian, mutasi lagi ke Polres Kudus,” ujarnya.

Menurutnya, bertugas di Sulteng dan di Jawa memiliki perbedaan yang cukup drastis. Mulai dari budaya hingga beban kerja. Tugas di Jawa, kegiatannya relatif lebih banyak. Pun begitu dengan tugasnya.

Untuk itu, dirinya harus segera mungkin beradaptasi. Meski tentu bukan perkara mudah. Mengingat perempuan kelahiran Surabaya tersebut, telah 10 tahun bertugas di Sulteng. ”Saya mulai dinas jadi polisi sejak 2010. Dan langsung di Sulawesi Tengah,” ujarnya.

Tetapi, komitmen dan tanggung jawab menjadi pegangan. Dirinya harus profesional. Dengan begitu, semua tidak menjadi masalah.

”Semula memang bujangan pas masih tugas di Sulawesi. Jadi tentu realtif enak,” kenangnya. Namun demikian, meski saat ini harus mengemban peran juga sebagai ibu rumah tangga, polwan cantik tersebut belum menemukan kesulitan berarti.

Mashita mengakui, jika kegiatan sebagai ketua Bhayangkari belakangan relatif banyak. Mulai dari koordinasi dan penugasan dari pusat hingga daerah. Meski pun kerap kali dilakukan secara daring dari rumah. Termasuk rapat internal di Bhayangkari Cabang Kudus. Karena dirinya punya tanggung jawab sebagai nakhoda. Meski usianya relatif lebih muda.

Untuk itu, dia berusaha pintar-pintar menempatkan diri. ”Ya karena usia saya lebih muda, sementara di Polres Kudus banyak senior Polwan saya. Di sisi lain, saat menjadi ketua Bhayangkari Cabang Kudus, mayoritas anggota pengurus usianya lebih tua dari saya. Walaupun saya istri kapolres, sebisa mungkin saya menghormati mereka,” imbuhnya. (tos)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP