alexametrics
Senin, 08 Mar 2021
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan
Pengalaman Positif Covid-19 (7)

Diledek Malah semakin Senang

24 Januari 2021, 09: 24: 43 WIB | editor : Ali Mustofa

Baehaqi, Direktur Jawa Pos Radar Kudus

Baehaqi, Direktur Jawa Pos Radar Kudus (RADAR KUDUS)

Share this      

BEGITU dinyatakan positif lagi, saya diledek oleh teman-teman. Saya malah semakin senang. Terutama oleh Ulin Nuha dan Zainal Abidin. Keduanya penyintas Covid-19. Namun tidak bergejala. Mereka sering guyonan. Itulah obat covid yang paling ampuh.

Zainal yang tahu kalau saya senang diledek semakin menjadi. ”Makanya gak usah swab lagi Pak. Dari pada ketahuan kalau masih positif,” kata Pemimpin Redaksi Radar Kudus itu. Saat itu dia juga dalam masa isolasi. Tetapi kondisinya segar bugar. Kalau pagi malah berkebun di belakang rumah. Isolasinya jadi menyenangkan.

Ulin Nuha melakukan karantina di asrama Akbid Kudus. Kalau pagi lari-lari di taman depan kamar yang berderet. Sendirian. ”Kalau udaranya cerah sih enak. Kalau mendung dan angin mengerikan. Suaranya mbengung,” ujarnya. Dia menunjukkan rekaman video. ”Kalau malam lebih menakutkan lagi. Saya hidupkan semua lampu,” tambahnya.

BERDEBAR: Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi berdebar saat swab PCR.

BERDEBAR: Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi berdebar saat swab PCR. (ADE FOR RADAR KUDUS)

Ketika swab PCR yang kedua pada 3 Januari 2021, mereka tidak saya beri tahu. Demikian teman-teman lain, baik di Kudus maupun di Semarang. Saya pergi ke Semarang diam-diam. Setelah hasilnya keluar pun saya merahasiakannya. Khawatir mereka iri. Sedangkan jadwal swab mereka masih belum menentu.

Begitu tahu kalau hasil swab saya yang kedua negatif, Zaenal ingin melakukan hal yang sama. Namun setelah mengetahui hasil swab ketiga saya positif, dia ketawa-ketawa. ”Swab kedua itu tidak akurat Pak,” ujarnya sambil ngakak. Untuk menutupi kemaluan, saya bilang, “Justru swab ketiga itu yang tidak akurat,” bela saya sambil ngakak juga.

Akhirnya saya memang swab lagi bersama Zainal. Saya ketiga dan Zaenal kedua. Hasilnya sama-sama positif. ”Tuhan memang belum mengizinkan kita terbebas dari covid. Terus mau apa. Kita teruskan saja isolasi,” kata saya menghibur. Padahal sebenarnya getir.

Sebenarnya, juru bicara RSUD Kudus dr Andini sudah menyarankan agar kami tidak perlu melakukan tes swab kedua. Apalagi ketiga. Yang penting telah melakukan isolasi selama 10 hari. Kalau selama itu tidak muncul gejala, bisa langsung mengakhirinya. Sedangkan kalau muncul gejala ringan ditambah tiga hari lagi. Kalau gejalanya berat seperti sesak nafas segera ke rumah sakit.

”Seandainya Pak Baehaqi tidak tes lagi, kan tidak positif lagi,” kata Ulin. ”Salahnya tidak mau mengikuti saran dokter,” tambah Zainal. Saya betul-betul terpojok.

Saya hanya berpikir, kalau tidak menutup isolasi dengan swab, akan selamanya menyandang positif covid. ”Apakah Anda senang? Kalau saya merasa tenang kalau sudah resmi negatif,” bela saya. ”Masak sepanjang hidup kita menyandang status positif covid,” tambah saya. ”Tetapi kalau hasilnya tetap positif?” tanya Zainal. ”Ya, isolasi lagi. Begitu kok repot,” jawab saya.

Saya bisa bebas goyunan seperti itu setelah mengikuti saran Kholid Hazmi. Dia memprakarsai video call dengan banyak orang. Kami bisa ketawa-ketawa. Bisa saling memberi support dan saran-saran.

Suatu hari saya bercerita, untuk membangkitkan penciuman yang sudah berhari-hari mati rasa, saya gunakan minyak kayu putih. Saya punya lima botol. Saya beli dua, anak saya membelikan satu, adik membelikan dua. ”Saya juga punya,” kata Ulin dan kawan-kawan yang mengikuti percakapan. Mereka mempertontonkan kepunyaan masing-masing. Ternyata triknya sama. Padahal minyak kayu putih itu tidak bisa membunuh covid.

Selama isolasi saya intens menyemangati teman-teman yang terkena covid. Nyaris setiap pagi saya tanya kabar teman-teman penyintas covid yang saya kenal. Kepada yang masih bergejala saya sarankan untuk menghantam dengan obat-obatan sesuai gejalanya.

Tidak perlu dengan obat mahal. Obat batuk, pilek, flu, greges, dan meriang, minyak kayu putih, obat hirup, madu, dan jahe cukup beli di warung. Hanya beberapa obat tertentu saya beli di apotek. Seperti parasetamol, dan antibiotik (Yang terakhir ini jangan ditiru karena bukan obat bebas).

Semua obat-obatan itu tidak bisa membunuh covid. Hanya untuk mengobati gejala. Sedangkan gejala bisa memperlemah daya tahan tubuh. Untuk meningkatkan daya tahan saya gunakan multivitamin, madu, dan jahe. Ada teman lain yang menambah kencur, serta empon-empon lainnya.

Soal dilaksanakan, itu urusan masing-masing. Yang pasti menurut pengalaman sampai saat itu, saya tetap sehat. Covid bisa dilawan dengan upaya keras. (Bersambung)

(ks/top/top/JPR)

 TOP