alexametrics
Senin, 08 Mar 2021
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan
Pengalaman Positif Covid-19 (5)

Sempat Negatif, kemudian Positif lagi

22 Januari 2021, 09: 43: 39 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Share this      

HATI saya berbunga-bunga ketika mendapat jalan untuk swab PCR kali kedua. Gambaran untuk bebas dari Covid lebih cepat pun membayang. ”Cukup seminggu sajalah kita isolasi,” kata saya kepada anak saya yang sama-sama terkena Covid. Sama-sama isolasi. Sama-sama ingin segera terbebas dari virus mematikan itu.

Hari itu, Minggu, 3 Januari 2021. Saya memberanikan diri bolos isolasi. Pergi ke Semarang. Menuju rumah dinas wali kota Semarang di Jalan Abdul Rahman Saleh, Kalipancur, Ngaliyan, Kota Semarang. Rumah itu tidak pernah ditempati Wali Kota Hendrar Prihadi. Beliau memilih tinggal di rumah sendiri di Lempongsari.

Saat ada pandemi Covid, rumah itu difungsikan sebagai tempat isolasi. Fasilitasnya lengkap. Sebuah aula besar disekat-sekat menjadi kamar. Ada dokter dan perawat yang berjaga 24 jam. Di situ juga melayani  swab PCR. Belakangan fungsi itu ditingkatkan menjadi rumah sakit darurat. Itulah kebesaran hati Pak Hendi demi rakyatnya.

Saya bukan warga Semarang. KTP saya masih Sidoarjo. Namun bisa memanfaatkan fasilitas itu. Sehari-hari saya kerja di Semarang. Maka, ketika saya positif bisa dilayani di sana. Jangankan untuk sekadar swab PCR, isolasi di sana pun diperbolehkan. Gratis. Dapat makan tiga kali. Plus buah-buahan dan madu.

Ketika sampai di sana sekitar pukul 11.00, terlihat beberapa orang di teras aula. Mereka duduk-duduk. Tentu berjauhan dan bermasker. Itulah sebagian penghuni rumah isolasi itu. ”Kita bisa keluar kamar. Bisa berjalan-jalan di taman. Kalau pagi malah diwajibkan berjemur sambil senam pagi,” kata Haryanto, salah seorang penghuni rumah isolasi itu.

Di sana pelayanannya serba prima. Pasien tidak perlu meminta swab PCR. Petugas yang menjadwalkan. Setiap hari ada jadwal swab itu. Termasuk Minggu. Saya juga dilayani dengan cepat.

Begitu datang, Adennyar Wicaksono, wartawan  Radar Semarang, yang menjemut saya, langsung mengarahkan ke tempat pemeriksaan. Kayaknya di situ juga sebagai tempat resepsionis dan administrasi. Petugasnya memakai alat pelindung diri (APD) seperti astronot. Saya langsung disuruh duduk di tempat pengambilan sampel lendir. Data saya sudah masuk sebelumnya.

Selesai pengambilan sampel saya langsung tancap gas pulang. Hujan deras tak menjadi penghalang. Bayangan untuk sembuh lebih cepat muncul lagi. Harapan untuk segera mengakhiri isolasi menguat. Padahal hasilnya belum tentu negatif.

Saya yakin hasil tes saya akan negatif. Itu karena saya tidak bergejala. Badan saya segar bugar. Demikian juga anak saya. Maka dalam perjalanan pulang itu, saya memberanikan diri makan di warung. Makan sate kerbau khas Kudus. Satenya empuk karena dagingnya sudah digiling. Itulah njajan pertama saya setelah divonis positif Covid. Balas dendam setelah sepekan karantina.

Sampai rumah langsung isolasi lagi. ”Kapan hasilnya keluar, Pak,” tanya anak saya. Mestinya sore atau malam sudah diketahui. Tetapi sampai menjelang tidur belum ada kabar. ”Sabar. Kalau bisa keluar dalam dua hari itu sudah bagus. Ini kan Minggu,” kata saya.

Betul, besoknya, 4 Januari 2021 saya mendapat pemberitahuan lewat pesan WA. Tidak ada perasaan takut untuk membukanya seperti sebelumnya. Saya teramat yakin hasilnya negatif. Dan, betul negatif. Demikian juga anak saya. Alhamdulillah. Saya berucap syukur berkali-kali. Allah mengabulkan doa saya.

Anak saya langsung berkemas untuk pulang ke Sidoarjo keesokan harinya. Kamarnya dibersihkan dengan disinfektan. Demikian juga seluruh ruangan di lantai II rumah yang kami tempati. Semua pintu dan mebeler dilap. Sarung bantal, sprei, selimut, dan peralatan lain dicuci. Dia tidak ingin ada sisa-sisa Covid yang tertinggal.

Meski telah negatif saya tak serta-merta mengakhiri isolasi. Saya wanti-wanti anak saya agar melakukan hal yang sama. Tidak boleh berkumpul dengan istri dan adik-adiknya.

Saya bertekad akan melanjutkan karantina sampai genap 14 hari seperti yang disarankan dokter. Kelak akan swab PCR lagi untuk semakin mengesahkan kalau telah terbebas dari Covid.

Tiga hari kemudian, saya berusaha swab PCR lagi. Untuk memperkuat hasil pemeriksaan sebelumnya. Yang mengejutkan, ternyata hasilnya malah positif. Itu betul-betul di luar dugaan. Saya syok. Tak jadi bergembira.

Rupanya Allah belum mengizinkan saya terbebas dari Covid. Astaghfirullah. Saya memohon ampunan berkali-kali. (bersambung)

(ks/top/top/JPR)

 TOP