alexametrics
Senin, 08 Mar 2021
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan
Pengalaman Positif Covid-19 (4)

Lebih Kejam dari Ibu Tiri  

21 Januari 2021, 10: 06: 07 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Share this      

ADA yang lebih kejam dari ibu tiri. Yaitu vonis positif Covid-19. Saking kejamnya seseorang sampai tidak berani pulang ke rumah. Khawatir menulari anak istri.

Kabar itu saya terima 30 Januari 2020, sehari setelah saya isolasi mandiri. Hati saya berdebar-debar. Iskandar, general manajer Radar Semarang, reaktif setelah dites dengan rapid antibodi. Artinya diduga positif Covid-19.

”Iya Bos. Ini saya juga bingung, gak bisa pulang. Anak saya lagi nunggu hasil swab antigen,” kataya.

Petugas yang menangani memutuskan untuk meningkatkan tesnya dengan swab antigen. Hasilnya diperkirakan keluar dua sampai tiga hari lagi.

Hari itu sudah maghrib. Dia bingung. Tetap di kantor khawatir menulari karyawan lain. Apalagi di rumah. Istrinya sedang sakit. Di rumah famili setali tiga uang.

Saya menyarankan agar mengamankan diri di rumah isolasi. Namun dia menolak. Menunggu hasil tes swab PCR. ”Kalau positif baru ke rumah isolasi,” katanya. Masuk akal. Malam itu dia memilih tidur di hotel. Membawa dua jenis multivitamin untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Kondisi badannya sehat. Saya tahu persis. Ditarik sampai tiga bulan ke belakang juga tidak ada riwayat sakit. Hari itu dia malah mengkoordinasikan seluruh karyawan Radar Semarang melakukan tes covid. ”Kawan-kawan hasil swab antigen ini 15 menit. Nanti hasilnya satu pintu dikirim ke saya. Yang reaktif langsung diswab PCR,” katanya di grup WA.  Tragisnya, dia sendiri malah reaktif.

Itulah kejamnya Covid-19. Baru reaktif antibodi saja sudah kebingungan. Tidak berani pulang. Padahal alat itu tidak akurat 100 persen. Apalagi positif  swab PCR seperti saya. Saya juga tidak berani pulang ke rumah dan memilih isolasi di rumah adik.

Persis awal tahun baru dia mengabari saya lagi. Hasil swabnya negatif. Dua orang lainnya yang semula reaktif ternyata negatif setelah diswab PCR. Dia lega. Hari pula dia langsung pulang. Menemui anak istri. Nah, betul kan. Rapid test antibody itu tidak akurat. Seluruh karyawan Radar Semarang lantas dites dengan rapidtest antigen. Kalau reaktif baru ditingkatkan dengan swab PCR.

Kabar baik dari Iskandar itu  tak membuat serta merta saya bergembira. Sugiyanto, salah seorang manajer Radar Semarang, dikabarkan positif setelah swab PCR. Dia juga bingung. “Ini saya minta kalau bisa dijemput isolasi,” katanya.

Saya membayangkan, dia akan dijemput pakai ambulance. Sirinenya meraung-raung. Dikawal tentara dan polisi. Petugasnya memakai alat pelindung diri (APD) lengkap seperti astronot. Para tetangga dan orang sekampung heboh. Keluarga jadi tertekan. Korban bisa bertambah schock. “Lebih baik Anda berangkat sendiri,” saran saya. Dia mengiyakan.

Sugiyanto tidak menunjukkan gejala sakit apapun. Memang pernah sakit. Itu pun sudah cukup lama. Dari foto di tempat isolasi yang dikirim Haryanto, temannya, kepada saya terlihat dia bugar. Malam itu dia bersama Haryanto dan Sofian Hadi. Sedang duduk di taman. Haryanto metingkrang. “Sakit kok petakilan,” komentar saya.

”Bungung Pak. Lha gak ada rasa sakit apa-apa,” katanya.

Sugianto mengkarantina diri di Rumah Isolasi. Besoknya diswab lagi. Hasilnya negatif. Saya nyaris tak percaya. Untuk meyakinkan, dia menunjukkan surat keterangan hasil tes. Juga surat izin pulang. Berarti hanya sehari semalam di rumah karantina.

Apa yang dialami Sugiyanto itu bisa saja terjadi pada orang lain. Kemungkinan terkena covidnya sekitar 14 hari ke belakang atau malah lebih lama. Dia tidak bergejala karena kondisi tubuhnya kuat. Akhirnya virus melemah dengan sendirinya. Saat diswab pertama virus masih terdeteksi. Tapi tinggal sisa. Nah, ketika diswab kali kedua virusnya sudah hilang.

Saya yang sudah isolasi lima hari gusar. Akankah saya harus menggenapi 11 hari lagi seperti yang disarankan dokter. Minggu, 3 Januari 2021, saya blurut isolasi. Pergi ke Semarang. Bersama anak saya. Saya setir sendiri mobil dari Kudus ke Semarang. Tidak berani membawa sopir. Khawatir menulari. Sepanjang perjalanan saya berdoa semoga bisa segera swab PCR dan hasilnya negatif. (Bersambung)

(ks/top/top/JPR)

 TOP