alexametrics
Senin, 08 Mar 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Haryanto Manfaatkan Limbah Kayu Jadi Miniatur

Dikerjakan Sendiri, Bisa untuk Daftar Haji

18 Januari 2021, 10: 53: 44 WIB | editor : Ali Mustofa

KREATIF: Haryanto menunjukan proses pembuatan miniatur dari limbah kayu.

KREATIF: Haryanto menunjukan proses pembuatan miniatur dari limbah kayu. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)

Share this      

Limbah kayu bekas usaha mebel dimanfaatkan Haryanto menjadi barang bernilai seni. Juga bernilai ekonomi tinggi. Seperti menjadi miniatur Menara Kudus. Peminatnya, lolal sampai mancanegara.

EKO SANTOSO, Radar Kudus

LIMBAH kayu yang biasa tak berguna dan berserak, di tangan Haryanto, 47, diubah menjadi barang berkarya seni tinggi. Salah satunya menjadi miniatur Menara Kudus. Usaha tersebut telah dilakoni sejak 2012 lalu.

Ide awalnya, saat ia merasa prihatin dengan limbah kayu sisa mebel milik temannya yang berseraknya tak berguna. Akhirnya dia banting setir. Kerjaannya sebagai kuli panggul perlahan ditinggalkan. Dia menggeluti usaha sebagai perajin limbah kayu.

Haryanto mulanya memanfaatkan limbah kayu itu untuk membuat rumah adat. Tetapi, prosesnya dirasa terlalu lama. Ia kemudian mencoba membuat miniatur Menara Kudus. Prosesnya ternyata lebih cepat dan tidak terlalu butuh banyak bahan. ”Membuatnya tinggal ditumpuk-tumpuk. Lebih gampang,” tuturnya.

Proses pembuatannya dimulai dengan mencari bahan. Menurut warga RT 8/RW 3, Desa Bacin, Bae, Kudus, ini dulu ia dengan mudah mencari bahan baku. Karena tinggal mengambil di tempat usaha temannya. Juga di beberapa usaha mebel lain yang punya sisa-sisa kayu.

Setelah bahan didapatkan, kemudian ia memilah bahan sesuai kebutuhan. Untuk kemudian dipotong sesuai ukuran. Sebelum akhirnya diserut. Kayu yang telah diserut, lalu dipotong lagi sesuai ukuran miniatur Menara Kudus. Selanjutnya diamplas. Agar kayu menjadi halus.

Tahap selanjutnya, menyusun atau merangkai. ”Jika selesai merangkai, tinggal disending. Tujuannya untuk menutupi serat kayu, agar tak terlihat kasar. Kemudian didiamkan tiga jam agar kering,” jelasnya.

Setelah itu baru dicat dengan cat minyak. Warnanay disesuaikan dengan warna Menara Kudus yang asli. Untuk proses sending dan pemberian warna, Haryanto menggunakan mesin kompresor.

Setelah proses mengecat selesai, kembali didiamkan agar kering. Sekitar 3-4 jam lamanya. Sebelum akhirnya diberi melamin atau antigores. ”Dikasih melamin bertujuan agar mengkilap,” tambahnya.

Sejauh ini, karya Haryanto diminati pasar lokal hingga mancanegara. Dirinya pernah ekspor ke Malaysia. Tetapi, kini sudah tidak lagi. Sebab, ia kewalahan memenuhi permintaan pasar lokal. Karena pekerjaan tersebut dilakoni sendiri. ”Paling dibantu istri. Terkadang beberapa tetangga bantu ngamplas,” terangnya.

Dia memang sempat punya karyawan. Namun, hasilnya kurang memuaskan. Dengan begitu, beberapa pelanggannya komplain. Sejak saat itu, ia mengerjakan sendiri. Sehari dia bisa memproduksi 4-6 miniatur Menara Kudus.

Untuk harga, tergantung ukuran. Mulai dari yang ukuran kecil seharga puluhan ribu hingga ukuran besar yang harganya ratusan ribu. Sementara untuk omzet, Haryanto mengaku mampu meraup sekitar Rp 6 juta. Bahkan, dia bersyukur sudah bisa mendaftar haji dengan hasil dari usahanya tersebut.

Sementara untuk kendala yang dihadapi, yakni soal bahan. Sebab, saat ini semakin banyak perajin yang memanfaatkan limbah kayu. Untuk itu, untuk memenuhi permintaan pasar yang kadang melonjak, dia harus membeli alias bukan limbah. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP