alexametrics
Kamis, 28 Jan 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
M Nashir Maulana, Enterpreuner Muda Kota Ukir

Pasok Super Market dan Puluhan Outlet, Pernah Rugi Belasan Juta

14 Januari 2021, 10: 14: 08 WIB | editor : Ali Mustofa

Muhammad Nashir Maulana

Muhammad Nashir Maulana (M KHOIRUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Share this      

Bermula dari kekhawatiran rendahnya minat anak muda menjadi petani, Muhammad Nashir Maulana menekuni dunia cocok tanam. Lewat media tanam air atau hidroponik ia memulainya dengan memanfaatkan halaman rumahnya. Dua tahun berjalan, kini sudah memiliki dua lahan seluas 390 meter persegi.

M. KKHOIRUL ANWAR, Radar Kudus

DERETAN selada menghijau di lahan hidroponik milik  Muhammad Nashir Maulana di Desa Welahan, Jepara. Di lahan seluas 90 meter persegi itu terdapat dua ribu titik lubang tanam. Sebagian besar ditanami selada. Ada juga bagian lubang tanam semai dan komoditi daun mint, bayam, dan kangkung.

Maulana –sapaan akrabnya- menyibak lembaran daun-daun selada. Memastikan bagian yang siap panen dan yang belum siap. Di lahan itu ia dibantu satu pekerja yang setiap hari mengecek dan merawat kondisi tanaman.

Sementara lahan di Mayong seluas 300 meter persegi terdapat delapan ribu titik lubang tanam. Juga dibantu satu pekerja. Ia tidak bisa setiap hari mengecek langsung di dua lokasi. Pasalnya ia juga bertugas sebagai kepala MA Tahasus Welahan. Menjadikannya sebagai kepala madarasah termuda di bawah LP. Ma’arif dan Kemenag Jepara. “Masing-masing lahan satu pekerja yang membantu,” tutur pria kelahiran 18 Juli 1995 itu.

Sebelum memiliki 390 meter persegi lahan hidroponik, dirinya memulai menanam dengan media air di halaman rumah pada 2018 lalu. Modal lima Styrofoam bekas bungkus buah. Lambat laun berkembang hingga bisa membuat 200 titik lubang tanam.

Saat ini dari dua lahan miliknya itu mampu panen 20 kilogram sayur per hari. Salah satu supermarket di Kudus menjadi pelanggan tetapnya. Selain itu ia memasok 20 outlet kebab, katering, dan rumah makan. Untuk setiap kilogramnya ia mematok harga sekitar Rp 25 ribu.

Namun tak selamanya usahanya itu berjalan mulus. Musim kemarau tahun lalu menjadi momen yang tak pernah ia lupakan. Pasalnya ratusan tanamannya akarnya membusuk. Jika dihitung kerugiannya mencapai Rp 14 juta.

”Kadar keasaman air terpengaruh cuaca panas yang ekstrem. Efeknya akar membusuk dan gagal panen,” tuturnya.

Belajar dari pengalaman itu ia menambah blower di dalam green house. Juga rutin mengecek keasaman air. Tahun ini ia juga akan menambah sistem pengembunan pada green house.

Selain itu ia mulai mengembangkan komoditi buah. Salah satunya melon yang sedang tahap pengembangan. Tak ingin berhasil sendiri, ia mengajak pemuda di Desa Welahan lewat Karang Taruna mengembangkan agribisnis hidroponik.

”Hasil panennya nanti saya yang beli. Sebenarnya ada juga paket wisatanya yang dikelola Karang Taruna. Tapi sekolah ini kan daring jadi off dulu,” terang anak terkahir dari enam bersaudara itu.

Ia berharap akan banyak anak muda yang menekuni dunia cocok tanam. Dengan segala potensi dan teknologinya, Maulan yakin dapat berkembang. Salah satu kekhawatirannya adalah sepuluh tahun yang akan datang tidak ada lagi petani. “Sekarang lihat petani itu rata-rata di atas 50 tahun. Kalau tidak ada yang memulai siapa lagi,” tutur lulusan ilmu Biologi itu. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya